Kenaikan Ekonomi RI di Kuartal I Tahun 2022

Mahasiswi Jurusan Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Arla Ananda Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak yang cukup signifikan dirasakan oleh seluruh masyarakat di masa pandemi covid-19, mulai dari dampak kesehatan sampai kegiatan yang biasa dilakukan. Pandemi ini menjadi penyebab menurunnya tingkat ekonomi Indonesia karena adanya kebijakan pembatasan kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat serta penerapan karantina di berbagai tempat. Setelah dua tahun, akhirnya Indonesia berhasil melewati masa-masa sulit itu. Dibuktikan dengan mulai naiknya tingkat ekonomi RI pada kuartal I tahun 2022.
Berdasarkan hasil penelitian, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,01 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Sebelumnya, pada kuartal IV Tahun 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat pertumbuhan ekonomi RI mengalami kenaikan positif sebesar 3,69 persen.
Kenaikan ekonomi ini menunjukan kabar baik sejalan dengan perkiraan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kami melihat seluruh indikator pada Maret 2022 ini dan kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 tetap di 4,5 persen yoy hingga 5,2 persen yoy dengan titik tengah 5,0 persen yoy," ucap Sri Mulyani di salah satu wawancara pers secara virtual. (Dikutip dari Kompas.com, 08 Juni 2022)
Terdapat tiga penyebab utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2022 menurut salah satu pengamat Ekonomi, Ronny P Sasmita, yaitu yang pertama adalah adanya pelonggaran protokol kesehatan sehingga masyarakat dapat kembali beraktifitas di luar ruangan.
Kedua adalah tingginya tingkat konsumsi untuk persiapan lebaran di akhir kuartal pertama.
Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan selama bulan suci Ramadhan frekuensi belanja untuk persiapan lebaran tahun 2022 merupakan salah satu yang tertinggi selama pandemi. Kenaikan ini disebabkan oleh rencana masyarakat untuk mudik setelah pelarangan mudik dua tahun terakhir.
Ketiga adalah tingkat inflasi. Inflasi menyebabkan kenaikan harga baik pada komoditas pokok bahan pangan maupun komoditas ekspor Indonesia. Hal tersebut membuat kenaikan kontribusi ekspor impor nasional dalam pertumbuhan ekonomi. Komoditas ekspor yang meningkat diantaranya adalah infrastruktur, batu bara, dan sawit.
Selain dari tiga hal yang telah disebutkan, penyebab lain kenaikan ekonomi RI pada kuartal I tahun ini menurut Wakil Direktur INDEF, Eko Listyanto, yaitu kenaikan ini sebagian besar terjadi karna low base effect atau nilai yang tumbuh dari kondisi yang awalnya rendah.
“Di sini kita masih melihat konsumsi belum pulih total karena belum mencapai 5 persen atau saat ini baru 4,3 persen. Ini sebagian besar terjadi karena low base effect yang terjadi di triwulan 2021, di mana konsumsi kita yang tadinya -2,21 persen sekarang tumbuh 4,34 persen,” tutur Eko.
Kenaikan ekonomi ini juga memiliki dampak terhadap penerimaan negara. Berdasarkah hasil analisis, penerimaan negara di awal tahun 2022 tercatat tumbuh sebesar 37,7 persen secara tahunan menjadi Rp302,4 triliun. Penyumbang terbesar penerimaan negara ini adalah pajak, yaitu sebesar 85 persen dari total penerimaan atau sebesar Rp256,2 triliun sedangkan penerimaan negara yang bukan dari pajak atau PNBP menyumbang sebesar 15 persen atau Rp46,2 triliun.
Kenaikan penerimaan di awal tahun 2022 menunjukkan bahwa pajak memiliki peran penting dalam kenaikan ekonomi Indonesia. Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara untuk APBN yang tujuannya menjaga dan meningkatkan perekonomian negara Indonesia. Dikutip dari lama Kemenkeu, penerimaan pajak di tahun 2022 mencapai target APBN yaitu sebesar Rp109,1 triliun atau 8,6 persen, didorong pertumbuhan yang berasal dari komponen PPN, PPH Migas dan non migas. Selain itu, target APBN yang berasal dari penerimaan Bea dan Cukai tumbuh signifikan mencapai 10,2 persen atau sebesar Rp24,9 triliun yang didukung penerimaan Cukai, Bea Masuk dan Bea Keluar.
APBN ini harus terus dioptimalkan agar dapat mempercepat pemulihan ekonomi tahun 2022 sehingga kebijakan ekonomi dapat tercapai. Maka, tantangan kedepan ekonomi RI yang berasal dari disruption sisi supply, komoditas ataupun geopolitik, serta inflasi harus terus diperhatikan agar kenaikan ekonomi tetap terjaga.
Kenaikan ekonomi Indonesia tahun 2022 merupakan awalan yang baik untuk ekonomi Indonesia kedepannya yaitu dengan tetap menjaga kestabilan ekonomi. Hal ini tentu dapat terus tercapai apabila terdapat kerja sama antara masyarakat dengan pemerintah. Masyarakat harus patuh terhadap kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan ekonomi dan pembangunan nasional juga dibarengi dengan program-program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa agar masyarakat tidak merasa dirugikan, salah satunya dengan optimalisasi program pemerataan distribusi pendapatan negara.
