Konten dari Pengguna

Belajar Matematika Bisa Seru Lewat Budaya Lokal Berbasis Augmented Reality

Arma Hadi

Arma Hadi

Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Surabaya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arma Hadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Implementasi RIset Sosial Humaniora
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Implementasi RIset Sosial Humaniora

Di tengah rendahnya capaian siswa Indonesia dalam studi internasional PISA 2022, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) justru menghadirkan angin segar melalui riset inovatif yang menggabungkan budaya lokal dan teknologi modern untuk pembelajaran matematika.

Menurut data OECD (2023), Indonesia menempati peringkat 69 dari 81 negara dalam kemampuan menyelesaikan soal matematika kontekstual. Kondisi ini menjadi tantangan serius menuju visi besar “Indonesia Emas 2045”. Namun, siapa sangka, kunci untuk memperbaikinya justru datang dari budaya kita sendiri.

Matematika dalam Permainan Tradisional

Tim mahasiswa UMSurabaya yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) menemukan bahwa budaya Jawa dan Madura ternyata memiliki potensi besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa.

“Permainan tradisional seperti engklek, bekel, dan petak umpet sebenarnya mengandung banyak unsur matematika seperti pola bilangan, perbandingan, hingga logika spasial,” ujar ketua tim peneliti.

Berangkat dari konsep etnomatematika, tim ini mengembangkan pembelajaran berbasis budaya melalui aplikasi AREMATH (Augmented Reality Mathematics) — sebuah inovasi berbasis Augmented Reality (AR) yang memungkinkan siswa belajar matematika melalui animasi interaktif yang berakar pada budaya daerahnya.

Budaya Pengaruhi Cara Berpikir Matematis

Penelitian ini dilakukan di dua wilayah dengan latar belakang budaya berbeda, yaitu Mojokerto (Jawa) dan Bangkalan (Madura). Melibatkan siswa kelas 6 SD, riset ini membandingkan hasil belajar antara kelas yang menggunakan AREMATH dan kelas yang tidak.

Hasilnya cukup mencolok. Siswa yang belajar menggunakan aplikasi AREMATH menunjukkan peningkatan signifikan dalam nilai post-test, serta lebih cepat memahami soal-soal kontekstual. Guru pun mengakui bahwa pendekatan ini membuat siswa lebih aktif dan antusias dalam belajar.

“Anak-anak ternyata lebih mudah memahami konsep matematika jika dikaitkan dengan hal yang mereka alami sehari-hari, misalnya saat menghitung langkah di permainan engklek atau pola bola bekel,” ungkap salah satu guru pendamping.

Inovasi Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal

Riset ini menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari akar budaya. Integrasi budaya lokal melalui etnomatematika, ditambah sentuhan teknologi AR, menjadikan pembelajaran bukan hanya menyenangkan, tetapi juga bermakna.

Ke depan, tim UMSurabaya berencana mengembangkan AREMATH dengan mengangkat budaya lain di Indonesia, seperti Bali, Sunda, hingga Papua. Selain sebagai media pembelajaran, inovasi ini berpotensi menjadi produk edutech unggulan yang mengangkat kekayaan budaya nasional ke panggung global.

Budaya: Bukan Masa Lalu, Tapi Modal Masa Depan

Penelitian ini menjadi bukti bahwa budaya bukanlah sesuatu yang ketinggalan zaman. Justru di dalamnya tersimpan nilai-nilai logika, strategi, dan kreativitas yang bisa menjadi fondasi pendidikan masa depan.

“Kalau kita bisa memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern, cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tapi benar-benar bisa kita capai,” tutup ketua tim optimistis.