Sekolah Ramai Digitalisasi, Tapi Guru Masih Bingung Teknologi
Tulisan dari Muhammad Asyhadullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah Ramai Digitalisasi, Tapi Guru Masih Bingung Teknologi, Transformasi digital di dunia pendidikan tampaknya sedang menjadi tren besar. Mulai dari pembelajaran berbasis aplikasi, penilaian daring, hingga platform manajemen kelas telah masuk ke ruang-ruang sekolah. Namun, di balik semangat digitalisasi yang digaungkan, ada realita yang kerap luput diperhatikan: banyak guru yang belum sepenuhnya siap, bahkan masih bingung menggunakan teknologi itu sendiri.
Pelatihan Terbatas: Mengapa Guru Masih Bingung?
Tidak semua guru memiliki latar belakang atau pelatihan yang cukup dalam menggunakan perangkat digital. Sebagian besar hanya mendapatkan pelatihan singkat atau bahkan sekadar mengikuti tutorial seadanya. Akibatnya, teknologi yang seharusnya mempermudah proses belajar-mengajar justru menjadi beban tambahan.
Teknologi: Alat atau Beban?
Sebagian guru akhirnya hanya menggunakannya secara formalitas: menyalin tugas ke Google Classroom, memberikan link YouTube, atau membagikan PDF tanpa strategi pedagogis yang kuat di baliknya. Padahal, esensi digitalisasi bukan hanya soal menggunakan alat, tetapi mengubah cara berpikir, cara mengajar, dan cara membangun hubungan dengan siswa di ruang virtual.
Tuntutan yang Terus Bertambah
Permasalahan ini menjadi semakin kompleks ketika tuntutan terhadap guru terus bertambah: menguasai platform, melaporkan progres digital, hingga membuat konten interaktif. Sementara itu, dukungan teknis, pelatihan berkelanjutan, dan kebijakan yang adaptif sering kali belum tersedia secara merata.
Solusi: Pelatihan Berkelanjutan dan Dukungan yang Konsisten
Jika kita sungguh ingin menjadikan pendidikan lebih maju melalui digitalisasi, maka pelatihan yang mendalam dan berkelanjutan bagi guru harus menjadi prioritas. Sekolah tidak cukup hanya menyediakan perangkat dan aplikasi tetapi harus menyediakan waktu, ruang belajar, dan pendampingan yang memadai bagi para pendidik.
Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Kualitas pendidikan tetap bergantung pada siapa yang menggunakannya, dan sejauh mana ia memahami cara terbaik untuk menjadikannya bermakna.

