Konten dari Pengguna

4 Perbedaan Paracetamol dan Ibuprofen, Mana yang Lebih Efektif?

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi paracetamol dan ibuprofen. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi paracetamol dan ibuprofen. Foto: Unsplash

Ketika mengalami demam, sakit kepala, atau nyeri tubuh, umumnya kebanyakan orang akan memilih untuk mengonsumsi paracetamol atau ibuprofen.

Paracetamol dan ibuprofen dikenal luas sebagai pereda nyeri serta penurun demam. Namun sebenarnya, keduanya memiliki sejumlah perbedaan mulai dari cara kerja hingga efek samping,

Maka dari itu, memahami perbedaan paracetamol dan ibuprofen sangat penting agar Anda bisa memilih obat yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan keluhan yang Anda alami.

Apa Itu Paracetamol?

Ilustrasi paracetamol. Foto: Unsplash

Merujuk Mayo Clinic, paracetamol (juga dikenal sebagai acetaminophen) adalah obat yang digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang dan menurunkan demam. Obat ini bekerja dengan memengaruhi area otak yang mengontrol suhu tubuh dan rasa sakit.

Obat ini tak memiliki efek antiinflamasi yang kuat sehingga lebih cocok untuk mengatasi demam, sakit kepala, sakit gigi, dan nyeri ringan tanpa peradangan. Keunggulan paracetamol, di antaranya:

  • Aman untuk digunakan oleh berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan ibu hamil (dengan dosis yang tepat).

  • Risiko efek samping terhadap lambung lebih kecil dibandingkan obat antiinflamasi lainnya.

Baca Juga: Obat Antibiotik untuk Apa? Ini Fungsi, Jenis, dan Aturan Pakainya

Apa Itu Ibuprofen?

Ilustrasi ibuprofen. Foto: Unsplash

Merujuk National Health Service (NHS), ibuprofen adalah obat dari kelompok nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID). Obat ini dapat digunakan untuk mengurangi peradangan, meredakan nyeri ringan hingga sedang, serta menurunkan demam.

Karena memiliki sifat antiinflamasi, ibuprofen efektif untuk mengatasi kondisi yang melibatkan peradangan, seperti nyeri sendi, nyeri otot, radang tenggorokan, hingga kram menstruasi. Berikut keunggulan ibuprofen:

  • Mengatasi nyeri yang disertai peradangan lebih efektif daripada paracetamol.

  • Memberikan efek analgesik dan antipiretik sekaligus antiinflamasi.

Perbedaan Paracetamol dan Ibuprofen

Ilustrasi paracetamol dan ibuprofen. Foto: Unsplash

Berdasarkan informasi yang dijabarkan WebMD, perbedaan paracetamol dan ibuprofen dapat dirincikan sebagai berikut.

1. Fungsi

Dalam hal fungsi, paracetamol dan ibuprofen sama-sama digunakan untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam. Namun, perbedaannya terletak pada kemampuan antiinflamasi.

Paracetamol tak memiliki efek antiinflamasi yang signifikan, sementara ibuprofen sangat efektif untuk mengurangi peradangan.

2. Efek Samping

Dari sisi efek samping, paracetamol relatif lebih aman untuk lambung. Ia jarang menyebabkan iritasi lambung atau masalah pencernaan sehingga bisa menjadi pilihan tepat bagi mereka yang memiliki riwayat masalah lambung.

Di sisi lain, ibuprofen, meskipun efektif dalam mengatasi peradangan, berpotensi menyebabkan iritasi lambung, tukak lambung, atau gangguan pencernaan, terutama jika digunakan dalam jangka panjang atau tanpa makanan.

3. Dosis

Dosis paracetamol untuk orang dewasa umumnya sebesar 500 hingga 1000 mg setiap 4–6 jam, dengan batas maksimal 4000 mg per hari. Sementara itu, dosis ibuprofen biasanya 200 hingga 400 mg setiap 4–6 jam, dengan batas maksimal sebanyak 1200–3200 mg per hari tergantung anjuran dokter.

4. Risiko

Paracetamol lebih sering direkomendasikan untuk wanita hamil atau menyusui karena keamanannya yang lebih tinggi dibanding ibuprofen. Namun, penggunaan keduanya tetap harus berdasarkan saran medis untuk menghindari risiko.

Dalam kasus penggunaan jangka panjang, ibuprofen memiliki risiko tambahan berupa peningkatan tekanan darah, gangguan ginjal, dan risiko penyakit jantung, sedangkan paracetamol berisiko menyebabkan kerusakan hati jika dikonsumsi dalam dosis berlebih.

(NDA)