Konten dari Pengguna

5 Cara Penularan Cacar Monyet yang Perlu Diketahui

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Positif Cacar Monyet. Foto: Dado Ruvic / REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Positif Cacar Monyet. Foto: Dado Ruvic / REUTERS

Cacar monyet atau dikenal juga sebagai Monkeypox, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Monkeypox, anggota dari genus Orthopoxvirus.

Penyakit cacar monyet sebelumnya lebih sering ditemukan di wilayah Afrika tengah dan barat. Namun dalam beberapa tahun terakhir telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Agar terhindar dari penyakit ini, penting bagi kita untuk memahami cara penularan cacar monyet serta langkah pencegahan yang dapat diambil.

Cara Penularan Cacar Monyet

Ilustrasi cacar monyet atau Monkeypox. Foto: Shutterstock

Cacar monyet adalah penyakit zoonosis, artinya ditularkan dari hewan ke manusia. Gejalanya mirip dengan cacar air, yaitu berupa demam, nyeri otot, dan munculnya ruam kulit yang berkembang menjadi lenting

Berdasarkan informasi dari World Health Organization (WHO), cacar monyet pertama kali ditemukan di monyet laboratorium pada 1958. Sementara kasus pertama pada manusia tercatat pada 1970 di Republik Demokratik Kongo, Afrika. Sejak itu, penyebaran virus ini terus dipantau oleh otoritas kesehatan dunia.

Merujuk Centers for Disease Control and Prevention (CDC), cara penularan cacar monyet dapat terjadi melalui beberapa hal berikut:

1. Kontak Langsung dengan Lesi Kulit

Penularan paling umum terjadi melalui kontak langsung dengan luka, lesi kulit, atau cairan tubuh dari penderita cacar monyet. Jika seseorang menyentuh bagian kulit yang terinfeksi atau cairan dari lenting yang pecah, risiko tertular sangat tinggi.

2. Kontak Tak Langsung Melalui Benda Terkontaminasi

Virus cacar monyet juga bisa menular melalui benda-benda yang terkontaminasi seperti handuk, sprei, pakaian, dan peralatan makan. Barang-barang tersebut bisa menyimpan virus dalam waktu tertentu jika terkena cairan dari luka penderita.

3. Penularan Melalui Droplet

Meski tak seefisien COVID-19, droplet dari saluran pernapasan penderita saat batuk atau berbicara juga bisa menyebarkan virus ke orang lain.

Oleh karena itu, kontak dekat dan lama dengan penderita sangat berisiko, terutama jika berada dalam satu ruangan tanpa ventilasi yang baik.

4. Kontak Seksual

Cacar monyet juga dapat menyebar melalui kontak seksual, baik heteroseksual maupun homoseksual. Dalam beberapa kasus, ruam cacar monyet muncul di area genital atau anus, dan kontak langsung saat hubungan intim bisa menjadi jalur penularan.

5. Penularan dari Hewan ke Manusia

Selain dari manusia, cacar monyet juga dapat menular dari hewan, terutama hewan pengerat dan primata. Penularan bisa terjadi melalui:

  • Gigitan atau cakaran hewan terinfeksi.

  • Kontak dengan darah atau cairan tubuh hewan.

  • Mengonsumsi daging hewan liar yang tidak dimasak dengan baik.

Baca Juga: Gejala Mpox pada Anak dan Cara Mengatasinya

Cara Mencegah Penularan Cacar Monyet

Ilustrasi Positif Cacar Monyet. Foto: Dado Ruvic / REUTERS

Untuk mencegah penularan cacar monyet, penting untuk melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Hindari kontak fisik langsung dengan penderita cacar monyet, terutama bagian kulit yang terdapat ruam atau lenting.

  2. Gunakan masker dan jaga jarak saat berada di sekitar orang yang sedang sakit.

  3. Cuci tangan secara rutin dengan sabun, terutama setelah menyentuh benda umum atau mencuci pakaian dan sprei penderita.

  4. Hindari berbagi barang pribadi seperti handuk, alat makan, atau pakaian.

  5. Masak daging dengan matang, khususnya jika berasal dari hewan liar.

  6. Gunakan alat pelindung diri saat merawat orang yang terinfeksi.

  7. Edukasi masyarakat tentang cara penularan dan gejala awal cacar monyet.

Jika Anda atau anggota keluarga menunjukkan gejala cacar monyet, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Isolasi mandiri diperlukan untuk mencegah penyebaran, terutama selama fase aktif penyakit hingga ruam mengering sepenuhnya.

(NDA)