Konten dari Pengguna

7 Perbedaan Gejala Tipes dan DBD yang Bisa Diperhatikan

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengalami gejala tipes atau DBD. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengalami gejala tipes atau DBD. Foto: Pexels

Demam tinggi yang berlangsung lebih dari dua hari sering kali memunculkan kecurigaan terhadap penyakit seperti tipes (demam tifoid) atau DBD (Demam Berdarah Dengue).

Tipes dan DBD sama-sama umum terjadi di Indonesia, terutama saat musim hujan dan sanitasi lingkungan kurang baik. Meski gejalanya sekilas tampak serupa, penyebab dan dampaknya bisa sangat berbeda.

Mengenali perbedaan gejala tipes dan DBD sangat penting agar pengobatan bisa dilakukan secara tepat dan cepat. Simak informasi lengkapnya dalam uraian di bawah ini.

Perbedaan Gejala Tipes dan DBD

Ilustrasi mengalami gejala tipes atau DBD. Foto: Pexels

Tipes dan DBD memiliki gejala awal yang mirip, yaitu demam tinggi dan tubuh lemas. Namun sebenarnya, perbedaan gejala tipes dan DBD cukup jelas jika diperhatikan secara detail.

Gejala Tipes

Gejala tipes umumnya berkembang secara perlahan dalam waktu beberapa hari setelah terinfeksi. Penyakit ini biasanya membutuhkan pengobatan antibiotik dan istirahat total, serta asupan makanan yang bergizi. Merujuk CDC, gejala tipes yang sering muncul antara lain:

  • Demam bertahap. Biasanya demam naik perlahan, terutama di malam hari.

  • Sakit kepala dan nyeri otot

  • Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, hingga diare atau sembelit.

  • Lemas berlebihan. Badan terasa sangat lelah meski tak banyak aktivitas.

  • Nafsu makan menurun drastis

  • Ruam kemerahan di beberapa bagian tubuh (kadang muncul di minggu kedua).

  • Lidah berlapis putih dan kering.

Gejala DBD

Berbeda dengan tipes, gejala DBD muncul secara tiba-tiba dan cenderung lebih cepat memburuk jika tak ditangani dengan baik. Pengobatannya tak melibatkan antibiotik karena disebabkan oleh virus.

Meski begitu, pasien perlu rawat inap, pemantauan trombosit secara berkala, dan pemberian cairan yang cukup untuk mencegah syok. Berikut ciri khas gejala DBD:

  • Demam tinggi mendadak, bisa mencapai 39–40°C dan berlangsung 2–7 hari.

  • Nyeri hebat di kepala, belakang mata, sendi, dan otot (break bone fever).

  • Mual dan muntah.

  • Ruam atau bintik merah di kulit akibat pendarahan bawah kulit.

  • Mimisan atau gusi berdarah.

  • Penurunan jumlah trombosit (harus dicek lewat pemeriksaan darah).

  • Pendarahan internal, jika kondisi parah bisa menyebabkan syok dengue yang berbahaya.

Berdasarkan penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa tipes lebih banyak menyerang sistem pencernaan dan berkembang perlahan, sementara DBD datang tiba-tiba dengan risiko pendarahan yang berbahaya.

World Health Organtization (WHO) pun mengimbau masyarakat untuk jangan mengabaikan gejala tipes atau DBD yang muncul. Lakukan pemeriksaan medis sedini mungkin untuk mendapat diagnosis dan penanganan yang tepat.

Baca Juga: 8 Makanan untuk Anak Demam agar Cepat Pulih

(NDA)