Konten dari Pengguna

Analsik Obat untuk Penyakit Apa? Ini Kegunaan, Efek Samping, dan Aturan Pakainya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 7 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi obat analsik. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat analsik. Foto: Unsplash

Analsik obat untuk penyakit apa? Analsik metamizole sodium diazepam adalah obat pereda nyeri yang mengandung zat aktif methampirone (metamizole) dan diazepam.

Dikutip dari Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal oleh Budiana Yazid, dkk., (2021: 31), analsik berfungsi untuk mengatasi nyeri otot, sakit kepala, dan nyeri pinggang, terutama nyeri yang terjadi pascaoperasi.

Methampirone yang terkandung dalam analsik merupakan obat yang bersifat pereda nyeri (analgesik), mengatasi peradangan (antiinflamasi), dan penurun demam (antipiretik) yang bekerja dengan menghambat respons nyeri pada otak.

Sementara, diazepam adalah obat golongan benzodiazepine yang bekerja pada sistem saraf pusat di otak untuk menghasilkan efek menenangkan.

Analsik Obat untuk Penyakit Apa?

Ilustrasi mengonsumsi obat analsik. Foto: Pixabay

Analsik metamizole sodium diazepam termasuk dalam golongan obat Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAID) yang bekerja dengan cara menghambat produksi hormon prostaglandin, yaitu zat kimia dalam tubuh yang menyebabkan rasa sakit dan peradangan.

Selain berfungsi untuk meredakan nyeri dan peradangan, menurut Everyday Health, analsik dapat digunakan untuk mengobati berbagai kondisi tertentu, di antaranya:

  • Mengatasi osteoarthritis, yaitu peradangan kronis pada sendi akibat kerusakan atau perubahan struktural sendi.

  • Mengatasi sakit pinggang dan sakit punggung.

  • Mengatasi nyeri otot dan sendi.

  • Menurunkan demam.

  • Mengatasi sakit gigi.

  • Mengatasi rasa nyeri akibat tersumbatnya saluran kemih oleh batu ginjal dan nyeri perut akibat tersumbatnya saluran empedu oleh batu empedu.

  • Mengatasi tendinitis, yaitu peradangan yang terjadi pada jaringan yang menghubungkan tulang dan otot (tendon).

  • Menjadi pengobatan pascaoperasi yang memerlukan kombinasi dengan obat penenang (trankuilizer).

Efek Samping Analsik

Ilustrasi salah satu efek samping analsik adalah sakit kepala. Foto: Unsplash

Menurut Cleveland Clinic, secara umum analsik aman dikonsumsi sesuai anjuran dokter. Namun, seperti obat-obat lainnya, analsik dapat menyebabkan beberapa efek samping, antara lain:

  1. Lemas

  2. Mengantuk

  3. Mual, mulas, dan sakit perut

  4. Sakit kepala

  5. Pusing

  6. Vertigo

  7. Tekanan darah rendah

  8. Sulit buang air kecil

Selain beberapa efek samping di atas, penggunaan obat ini jika terlalu sering atau dalam dosis yang besar dapat menyebabkan komplikasi tertentu, di antaranya:

  • Kerusakan pada organ dalam, seperti hati atau ginjal

  • Diare atau sembelit

  • Masalah jantung

  • Respons hipersensitivitas, seperti reaksi alergi berupa ruam kulit, pembengkakan pada bagian tubuh, gatal-gatal, dan hidung tersumbat

  • Telinga berdenging

  • Sakit maag

  • Gangguan pembekuan darah yang dapat menyebabkan pendarahan berlebihan

Jika mengalami kondisi di atas, segera hentikan pengobatan. Efek samping maupun komplikasi obat ini bisa berbeda-beda pada setiap pasien.

Jadi, tidak semua orang dapat mengalami efek samping dan komplikasi tersebut. Bahkan, pasien mungkin bisa mengalami efek samping lain yang tidak disebutkan di atas.

Dosis dan Aturan Pakai Analsik

Ilustrasi berkonsultasi dengan dokter terkait penggunaan obat analsik. Foto: Unsplash

Analsik yang beredar di pasaran memiliki beberapa nama merek. Namun, yang paling umum dijual di apotek diproduksi oleh Sanbe Farma. Penggunaan obat ini harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter.

Meski begitu, terdapat rekomendasi dosis yang biasa diberikan. Mengutip laman MIMS, berikut dosis dan aturan pakai obat analsik secara umum:

  • Orang dewasa: dosis awal 1 kaplet sehari, dengan dosis maksimal 4 kaplet sehari. Obat ini dapat dikonsumsi sesudah makan.

Cara Penyimpanan

Ilustrasi obat harus disimpan di tempat yang sejuk dan kering. Foto: Pexels

Simpan obat analsik pada suhu ruangan yang sejuk dan kering (sebaiknya di bawah 30 derajat Celsius), serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung dan kelembapan.

Selain itu, jangan menaruh tempat penyimpanan obat sembarangan. Simpan obat ini di luar jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Kontraindikasi

Ilustrasi berkonsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi obat analsik. Foto: Pexels

Sebelum mengonsumsi obat analsik, konsultasikan dengan dokter riwayat penyakit yang Anda miliki agar tidak terjadi kontraindikasi. Jangan mengonsumsi obat ini apabila memiliki kondisi berikut:

  • Pasien yang alergi terhadap kandungan obat.

  • Pasien yang menderita gangguan fungsi ginjal dan hati.

  • Pasien yang memiliki riwayat penyakit gangguan pernapasan, gangguan paru-paru akut, dan glaukoma sudut sempit.

  • Pasien yang memiliki penyakit psikosis akut.

  • Pasien yang memiliki tekanan darah sistolik.

  • Ibu hamil dan menyusui.

Interaksi Obat

Ilustrasi penggunaan obat analsik dengan obat-obatan lain dapat menyebabkan interaksi obat. Foto: Pexels

Selain riwayat penyakit yang dimiliki, konsultasikan kepada dokter tentang semua jenis obat yang Anda gunakan. Sebab, analsik dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat lain dan meningkatkan risiko efek samping atau mengurangi efektivitasnya.

Dikutip dari laman WebMD, adapun obat analsik tidak boleh digunakan bersamaan dengan:

  • Obat NSAID seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen memiliki efek serupa dengan analsik dalam mengatasi nyeri dan peradangan. Interaksi dengan analsik dapat meningkatkan detak jantung atau tekanan darah.

  • Obat antidepresan tertentu seperti fluoxetine, paroxetine, duloxetine, venlafaxine). Interaksi dengan analsik dapat meningkatkan risiko keracunan serotonin.

  • Klorpromazin, yaitu obat antipsikotik yang digunakan untuk mengatasi gangguan psikiatri seperti skizofrenia. Interaksi dengan analsik dapat mengakibatkan peningkatan risiko efek samping sistem saraf pusat, seperti mengantuk atau pusing.

  • Simetidin, yaitu obat yang biasanya digunakan untuk mengurangi produksi asam lambung. Interaksi dengan analsik dapat memengaruhi metabolisme analsik di dalam tubuh.

  • Warfarin, yaitu obat yang digunakan sebagai antikoagulan atau pengencer darah. Interaksi dengan analsik dapat mengubah efek antikoagulan warfarin dan meningkatkan risiko perdarahan.

  • Obat diuretik, yaitu obat yang digunakan untuk mengatasi retensi cairan dalam tubuh. Interaksi dengan analsik dapat memengaruhi kadar elektrolit dalam tubuh dan fungsi ginjal.

  • Obat MAOI atau monoamine oxidase inhibitors, yaitu obat untuk mengobati gejala depresi, seperti isocarboxazid, linezolid, metaxalone, methylene blue, moclobemide, phenelzine, procarbazine, atau tranylcypromine. Interaksi dengan analsik dapat menyebabkan efek samping serius.

  • Siklosporin, yaitu obat imunosupresan yang biasa digunakan setelah transplantasi organ. Interaksi dengan analsik dapat memengaruhi kadar siklosporin dalam tubuh.

Peringatan dan Perhatian

Ilustrasi obat analsik tidak disarankan untuk ibu hamil. Foto: Pexels

Analsik termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai petunjuk dokter. Sebelum mengonsumsi obat analsik, beri tahu dokter jika Anda memiliki riwayat kondisi berikut:

  • Tekanan darah tinggi

  • Riwayat penyakit ginjal atau hati

  • Asma

  • Riwayat ulkus, perdarahan saluran pencernaan (Gastrointestinal), penyakit Crohn, atau penyakit refluks gastroesofagus (GERD)

  • Kelainan darah atau gangguan pembekuah darah

  • Penyakit jantung

Kategori Kehamilan

Menurut Food and Drug Administration, analsik yang mengandung zat aktif metamizole dan diazepam termasuk dalam kategori D. Kategori D adalah jenis obat yang terbukti menunjukkan adanya efek samping pada janin manusia.

Oleh sebab itu, obat kategori D hanya boleh digunakan pada kondisi darurat, yaitu ketika tidak ada persediaan obat lain yang lebih aman bagi wanita hamil.

Peringatan Menyusui

Bahan aktif analsik berupa diazepam diketahui dapat terserap ke dalam ASI ibu menyusui dan berpotensi mengganggu kesehatan bayi. Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini.

Penyakit Terkait

Ilustrasi seorang wanita yang mengalami nyeri haid dapat diobati dengan analsik. Foto: Pexels

Analsik merupakan obat yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga parah. Berikut adalah beberapa penyakit terkait yang biasanya diobati dengan analsik.

  • Nyeri pasca operasi. Penggunaan obat analsik dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan ini.

  • Nyeri akut, seperti yang terjadi setelah cedera fisik atau trauma, dapat diatasi dengan obat analsik untuk mengurangi gejalanya.

  • Nyeri haid. Obat analsik sering digunakan untuk meredakan kram dan nyeri haid.

  • Sakit kepala ringan hingga sedang.

  • Sakit gigi. Penggunaan obat analsik dapat membantu meredakan sakit gigi sementara sebelum pergi ke dokter gigi.

  • Ketegangan otot. Obat analsik dapat digunakan untuk mengurangi nyeri akibat cedera otot atau ketegangan otot.

  • Nyeri setelah patah tulang. Penggunaan obat analsik dapat membantu mengurangi rasa sakit pada patah tulang.

Baca Juga: Diazepam Obat Apa? Ini Manfaat, Dosis, dan Efek Sampingnya

Rekomendasi Obat Sejenis

Ilustrasi obat-obatan sejenis analsik. Foto: Pexels

Selain analsik, terdapat beberapa jenis obat lain yang bisa digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat. Adapun rekomendasi obat sejenis analsik, yaitu:

  • Neurodial, yaitu obat yang mengandung methampirone dan ziazepam untuk meredakan nyeri dan memberikan efek penenang.

  • Analspec, yaitu obat yang mengandung asam mefenamat untuk meredakan nyeri. Obat ini biasa digunakan untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang, seperti sakit kepala, nyeri otot, atau nyeri gigi.

  • Potensik, yaitu obat yang mengandung methampirone dan diazepam untuk mengurangi rasa sakit dengan cepat.

  • Metaneuron, yaitu obat dengan kandungan methampirone dan diazepam untuk meredakan gejala nyeri sedang hingga berat, terutama kolik dan nyeri pasca operasi.

  • Opineuron, yaitu obat yang mengandung methampirone dan diazepam untuk meredakan nyeri. Obat ini biasa digunakan untuk mengatasi berbagai jenis nyeri, termasuk nyeri otot, sakit kepala, dan nyeri pasca operasi.

(SFR)