Konten dari Pengguna

Apakah Vertigo Bisa Sembuh? Ini Penjelasannya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengalami vertigo. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengalami vertigo. Foto: Unsplash

Vertigo adalah kondisi yang membuat penderitanya merasa seolah-olah dirinya atau sekelilingnya berputar, meskipun sebenarnya tak ada gerakan.

Sensasi pusing ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama jika terjadi berulang. Hal ini pun membuat penderitanya merasa khawatir dan bertanya-tanya, apakah vertigo bisa sembuh?

Untuk mengetahui jawaban lengkapnya, simak penyebab vertigo, jenis-jenisnya, serta bagaimana peluang kesembuhan dan cara mengatasinya secara efektif.

Apakah Vertigo Bisa Sembuh?

Ilustrasi mengalami vertigo. Foto: Unsplash

Dikutip dari WebMD, vertigo bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari gangguan pada sistem vestibular, yaitu sistem yang mengatur keseimbangan tubuh yang terletak di telinga bagian dalam.

Saat sistem keseimbangan tubuh ini terganggu, otak akan menerima sinyal yang salah mengenai posisi tubuh sehingga timbul sensasi berputar atau melayang.

Vertigo bisa terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung beberapa detik, menit, bahkan berjam-jam. Beberapa orang juga mengalami gejala tambahan seperti mual, muntah, keringat dingin, dan kehilangan keseimbangan.

Meski begitu, gejala vertigo dapat sembuh jika ditangani dengan tepat sesuai jenisnya. Diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai, dapat membuat penderita vertigo hidup normal dan bebas gejala dalam jangka panjang.

Baca Juga: 5 Makanan Penyebab Vertigo yang Perlu Dihindari

Jenis-jenis Vertigo

Ilustrasi mengalami vertigo. Foto: Unsplash

Telah disinggung sebelumnya, vertigo dapat sembuh jika ditangani sesuai dengan jenisnya. Merujuk Cleveland Clinic, berikut jenis-jenis vertigo yang umum dialami.

1. Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)

Vertigo ini disebabkan oleh perpindahan partikel kecil di telinga dalam. Umumnya penderita bisa sembuh total dengan terapi fisik seperti manuver Epley yang dilakukan oleh dokter atau terapis. Sejumlah kasus BPPV disebut sembuh dalam beberapa minggu hingga bulan.

2. Labirinitis (Vestibular Neuritis)

Vertigo ini terjadi akibat infeksi pada telinga bagian dalam. Penderita biasanya akan pulih seiring berjalannya waktu dengan pengobatan dan istirahat cukup.

3. Penyakit Meniere

Vertigo ini terjadi karena penumpukan cairan di telinga yang memicu tekanan dan gangguan pendengaran. Vertigo akibat penyakit meniere biasanya tak dapat disembuhkan secara total. Namun, gejalanya bisa dikontrol dengan perubahan gaya hidup, diet rendah garam, dan obat-obatan.

4. Vertigo sentral

Jenis ini lebih jarang dan berhubungan dengan masalah di otak, seperti strok, tumor otak, atau multiple sclerosis. Penanganan vertigo ini tergantung pada kondisi neurologis yang mendasarinya. Dalam beberapa kasus, vertigo bisa menjadi kronis.

Cara Mengatasi Vertigo

Ilustrasi mengalami vertigo. Foto: Unsplash

Dr. Iskandar Junaidi menjelaskan dalam bukunya yang bertajuk Mencegah & Mengatasi Sakit Kepala, berikut beberapa cara untuk mengatasi vertigo agar tidak kambuh atau makin parah:

  1. Konsultasi ke dokter THT atau neurologi. Pemeriksaan menyeluruh akan membantu menentukan penyebab vertigo dan penanganannya.

  2. Melakukan manuver Epley atau Semont. Manuver ini membantu mengembalikan posisi partikel di telinga bagian dalam, terutama untuk kasus BPPV.

  3. Mengonsumsi obat-obatan seperti antihistamin (meclizine), obat antimual, atau obat penenang ringan sesuai resep dokter.

  4. Terapi rehabilitasi vestibular. Latihan fisik yang membantu otak beradaptasi dengan sinyal yang salah dari telinga dan meningkatkan keseimbangan.

  5. Menghindari pemicu seperti gerakan kepala mendadak, stres, alkohol, kafein berlebihan, dan kurang tidur.

  6. Gaya hidup sehat. Diet rendah garam untuk mengontrol tekanan cairan di telinga, cukup tidur, dan olahraga ringan seperti yoga atau tai chi.

(NDA)