Cacar Monyet: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cacar monyet adalah penyakit akibat infeksi virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Penyakit ini menyebabkan luka-luka disertai kerak (crusta) yang berwarna kuning dan mengkilap.
Mengutip buku Penyakit Cacar yang Sudah Dianggap Bukan Wabah di Indonesia (2010), cacar monyet lebih banyak menjangkit anak-anak. Infeksinya bisa mengenai bagian wajah mereka, terutama di daerah mulut.
Penyakit cacar monyet bisa ditularkan kepada orang lain melalui luka terbuka atau jari-jari yang kotor. Di sisi lain, World Health Organization (WHO) juga mengatakan bahwa cacar monyet bisa tertular melalui kontak langsung dengan binatang terinfeksi, darah, atau cairan tubuh.
Per Juni 2022, 1.000 kasus cacar monyet sudah ditemukan secara global. Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang cacar monyet selengkapnya yang bisa Anda simak.
Baca Juga: Cacar Monyet: Penyebab, Gejala, hingga Cara Mengobatinya
Cacar Monyet
Kasus cacar monyet (Monkeypox) pertama kali ditemukan pada tahun 1958. Kala itu, cacar monyet banyak menjangkit di daerah Afrika dan sekitarnya.
Mengutip situs Kementerian Kesehatan, penyakit ini bisa menular ke sesama manusia. Virus penyebabnya banyak ditemukan pada spesies hewan, di antaranya monyet, tikus Gambia, dan tupai.
Cacar monyet bisa menular melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit hewan yg terinfeksi dan mengonsumsi daging hewan liar yang terkontaminasi (bush meat).
Di samping itu, penularan juga bisa terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin atau kontak selama persalinan. Namun, penularan seksual masih belum dapat dipastikan, sehingga para ilmuwan masih melakukan penelitiannya.
Gejala cacar monyet bisa berupa demam, sakit kepala berat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot, dan lemas. Gejala ini dapat dirasakan pasien setelah 7-21 hari infeksi awal.
Kemudian, pasien mulai merasakan ruam atau lesi di beberapa bagian tubuh sama seperti cacar air (Smallpox). Ruam ini dapat berbentuk bintik kecil seperti jerawat, bergerombol, berair, dan bernanah.
Untuk bisa sembuh dari gejala tersebut, dibutuhkan waktu sampai 3 minggu. Nantinya, ruam cacar akan mengering dan rontok dengan sendirinya, kemudian meninggalkan bekas hitam di tubuh pasien.
Cacar monyet termasuk penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Lamanya proses penyembuhan berkisar antara 14-21 hari. Mengutip situs Cleveland Clinic, anak-anak dan remaja sangat rentan terkena penyakit ini.
WHO mengatakan bahwa cacar monyet hanya bisa didiagnosis melalui laboratorium khusus. Untuk itu, jika Anda mengalami beberapa gejala yang sudah disebutkan tadi, segera hubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan.
Setelah itu, Anda bisa melakukan beberapa upaya untuk menyembuhkan gejalanya. Mengutip buku Apa yang Anda Kerjakan Bila Tidak Ada Dokter karya David Werner, dkk., berikut penjelasannya:
Bersihkan bagian tubuh yang terkena ruam dengan sabun dan air matang. Basahi perlahan-lahan dan bersihkan keraknya.
Oleskan gentian violet atau salep antibiotik seperti Polyporin dan tetracycline pada luka cacar monyet. Jika Anda tidak mempunyai obat-obatan ini, mintalah resep dokter.
Jika infeksinya menjalar dan meluas serta menyebabkan peningkatan suhu tubuh, maka berikan tablet penicillin untuk meredakan gejalanya.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa itu cacar monyet?

Apa itu cacar monyet?
Cacar monyet adalah penyakit akibat infeksi virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis).
Apa gejala cacar monyet?

Apa gejala cacar monyet?
Gejala cacar monyet bisa berupa demam, sakit kepala berat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot, dan lemas.
Kapan kasus pertama cacar monyet ditemukan?

Kapan kasus pertama cacar monyet ditemukan?
Kasus cacar monyet (Monkeypox) pertama kali ditemukan pada tahun 1958.
