Konten dari Pengguna

Cara Mencegah Kehamilan Setelah Berhubungan untuk Pasutri

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dokter menjelaskan pemasangan KB IUD. Foto: Rabizo Anatolii/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dokter menjelaskan pemasangan KB IUD. Foto: Rabizo Anatolii/Shutterstock

Pasangan suami istri yang belum siap memiliki anak umumnya akan mencari cara mencegah kehamilan setelah berhubungan seks. Agar tingkat efektivitasnya tinggi, dibutuhkan metode, ketepatan waktu, hingga pemahaman yang benar.

Artikel ini akan menguraikan beberapa metode kontrasepsi darurat yang bisa digunakan untuk mencegah kehamilan setelah berhubungan. Simak penjelasan lengkapnya pada artikel berikut.

Cara Mencegah Kehamilan Setelah Berhubungan

Ilustrasi cara mencegah kehamilan setelah berhubungan. Foto: Pexels.com

Terdapat beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mencegah kehamilan setelah berhubungan, di antaranya:

1. Pil Kontrasepsi Darurat (Morning After Pill)

Pil kontrasepsi darurat yang sering disebut morning after pill adalah salah satu metode paling populer untuk mencegah kehamilan setelah berhubungan tanpa pengaman.

Pil ini mengandung hormon yang dirancang untuk mencegah ovulasi sehingga sperma tak bisa membuahi sel telur. Pil dapat dikonsumsi hingga lima hari setelah berhubungan seksual. Namun, semakin cepat dikonsumsi, semakin tinggi efektivitasnya.

Mengutip buku Bunga Rampai Keperawatan Maternitas dan Keluarga Berencana oleh Dhiana Setyorini dkk., ada dua jenis utama pil kontrasepsi darurat yang umum digunakan, yaitu levonorgestrel dan ulipristal acetate.

Pil levonorgestrel harus diminum dalam waktu 72 jam setelah berhubungan, sedangkan pil dengan bahan aktif ulipristal acetate (UPA) harus diminum dalam waktu 120 jam sejak bersenggama.

Efek samping yang bisa timbul meliputi mual, sakit kepala, atau perubahan siklus menstruasi. Namun, sebagian besar efek samping akan hilang dalam beberapa hari.

Kendati demikian, pil ini tak disarankan untuk digunakan sebagai metode kontrasepsi rutin karena dapat menganggu cara kerja kontrasepsi hormonal yang biasa digunakan.

2. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau IUD

Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau IUD adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan langsung ke dalam rahim. Alat ini biasanya berbentuk T dan terbuat dari plastik dan tembaga kecil.

Elemen tembaga inilah yang berfungsi mencegah sel telur dibuahi atau menempel di rahim. IUD bisa digunakan sebagai kontrasepsi darurat jika dipasang dalam waktu lima hari setelah berhubungan.

Penggunaan IUD memiliki tingkat efektivitas yang sangat tinggi dan dapat digunakan kontrasepsi jangka panjang selama lima hingga 10 tahun, tergantung jenisnya.

Namun, pemasangannya harus dilakukan oleh dokter atau bidan terlatih dan dalam pemasangan ini sering kali menimbulkan rasa tak nyaman bagi sebagian orang. Sementara itu, IUD memiliki efek samping seperti jumlah darah menstruasi yang lebih banyak dan dapat menimbulkan kram ketika awal pemakaian.

Baca Juga: Ciri-ciri Kanker Serviks yang Perlu Diwaspadai Wanita

(SA)