Cara Penggunaan Obat Berdasarkan Bentuk Sediaan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami cara penggunaan obat berdasarkan bentuk sediaannya adalah langkah penting dalam mendukung penyembuhan dan menjaga kesehatan. Pasalnya, setiap sediaan obat memiliki aturan pemakaian yang berbeda-beda.
Bentuk sediaan obat menentukan cara penggunaan, kestabilan obat, hingga kenyamanan pasien. Dalam dunia farmasi, bentuk sediaan obat dibagi menjadi beberapa kategori besar, yaitu sediaan padat, semipadat, cair, dan gas.
Setiap sediaan dirancang untuk digunakan dengan cara tertentu. Salah dalam penggunaan bisa membuat obat tak bekerja optimal, bahkan menimbulkan efek samping yang tak diinginkan.
Cara Penggunaan Obat Berdasarkan Bentuk Sediaan
Klasifikasi obat berdasarkan sediaan farmasi merupakan suatu cara untuk mengelompokkan obat-obatan sesuai bentuk fisik atau formulasi obat tersebut diproduksi dan disiapkan untuk dikonsumsi pasien.
Mengutip buku Farmasetika Dasar: Teori, Konsep dan Praktik dalam Layanan Sedian Farmasi karya Muh. Akbar Ardiputra dkk., berikut penjelasan mengenai cara penggunaan obat berdasarkan bentuk sediaan.
1. Sediaan Padat
Sediaan padat merupakan salah satu bentuk pengolahan obat yang paling umum digunakan dalam dunia farmasi. Bentuk ini memiliki karakteristik fisik padat.
Contoh sediaan padat, antara lain, tablet, kapsul, pil, serbuk, granul, supositoria, strip lembut, tablet kunyah, tablet lapis ganda, hingga implan. Keunggulan bentuk ini adalah fleksibilitas dalam pengaturan dosis, stabilitas bahan aktif yang lebih baik, serta kemudahan dalam penyimpanan.
Penggunaan sediaan padat umumnya dilakukan secara oral maupun topikal. Misalnya, tablet dan kapsul dikonsumsi melalui mulut dan ditelan bersama air.
Serbuk biasanya perlu dilarutkan terlebih dahulu dalam air sebelum diminum. Selain itu, beberapa sediaan padat seperti supositoria digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam tubuh melalui rektum.
2. Sediaan Cair
Sediaan cair adalah formulasi obat yang memiliki bentuk fisik cair. Obat ini dapat diberikan melalui berbagai cara seperti oral, topikal, atau injeksi.
Sediaan ini memiliki keunggulan berupa kemampuan absorpsi yang lebih cepat dan kemudahan penggunaan, meski stabilitasnya cenderung lebih rendah dibanding bentuk padat. Contoh bentuk sediaan cair meliputi sirop, suspensi, emulsi, dan larutan.
Baca Juga: 4 Efek Samping Amoxicillin yang Perlu Diketahui Sebelum Mengonsumsinya
3. Sediaan Semi padat
Sediaan semi padat merupakan formulasi obat yang bertekstur setengah padat. Biasanya digunakan dengan cara dioleskan ke kulit atau membran mukosa.
Bentuk obat ini praktis dibawa, mudah diaplikasikan, dan umumnya cepat diserap kulit. Contoh bentuk sediaan semipadat, antara lain, gel, pasta, krim, dan salep.
4. Sediaan Gas
Sediaan gas merupakan bentuk sediaan farmasi yang mengandung bahan aktif dalam bentuk gas atau aerosol. Jenis sediaan ini umumnya digunakan untuk terapi inhalasi atau pemberian gas medis secara langsung, terutama pada pasien dengan gangguan pernapasan.
Contoh bentuk sediaan gas, yaitu inhaler dosis terukur dan semprotan hidung. Cara menggunakannya dengan meletakkan alat di mulut, lalu menekan alat sambil menarik napas dalam secara bersamaan.
(SA)
