Konten dari Pengguna

Ciri Anak ADHD, Penyebab, dan Cara Menghadapinya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ciri anak ADHD. Foto: Unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ciri anak ADHD. Foto: Unsplash.com

Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau disingkat ADHD adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang umumnya terdeteksi pada masa kanak-kanak.

Ciri anak ADHD biasanya berperilaku hiperaktif, impulsif, dan kesulitan memusatkan perhatian. Tanda-tanda ini sering kali dianggap sebagai “kenakalan” biasa, padahal ADHD merupakan kondisi medis yang membutuhkan penanganan khusus.

Diagnosis dini dan intervensi yang tepat dapat membantu anak ADHD berkembang secara optimal dalam aspek akademis maupun sosial. Simak penjelasan lebih lanjut seputar ciri anak ADHD dan informasi lain yang masih berkaitan di bawah ini.

Apa Itu ADHD?

Ilustrasi anak ADHD. Foto: Unsplash

Mengutip Healthline, ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi cara seseorang mengatur perhatian, mengontrol perilaku, dan mengelola aktivitas sehari-hari. ADHD terbagi menjadi tiga tipe utama:

  • Tipe dominan kurang perhatian (inattentive type)

  • Tipe dominan hiperaktif-impulsif (hyperactive-impulsive type)

  • Tipe gabungan (combined type)

Setiap anak dapat menunjukkan gejala yang berbeda tergantung dari tipe ADHD yang dialaminya.

Baca Juga: 7 Tanda Anxiety Kambuh yang Umum Dialami Penderita Gangguan Kecemasan

Ciri Anak ADHD yang Perlu Dikenali

Ilustrasi ciri anak ADHD. Foto: Unsplash

Dikutip dari buku Pendidikan Inklusif Anak Usia Dini Berkebutuhan Khusus oleh Ni Luh Putri, berikut ciri umum anak ADHD berdasarkan ketiga tipe tersebut:

A. Kesulitan Memusatkan Perhatian (Inattentive)

  • Mudah teralihkan oleh hal-hal kecil.

  • Sering kehilangan barang seperti buku, alat tulis, atau mainan.

  • Tidak mendengarkan saat diajak bicara.

  • Kesulitan mengikuti instruksi atau menyelesaikan tugas.

  • Terlihat ceroboh atau sering melakukan kesalahan karena tidak teliti.

  • Tidak dapat mempertahankan perhatian dalam aktivitas yang memerlukan konsentrasi.

B. Perilaku Hiperaktif (Hyperactive)

  • Tidak bisa duduk diam dalam waktu lama.

  • Sering bergerak, memanjat, atau berlarian tanpa alasan jelas.

  • Bicara terus-menerus tanpa jeda.

  • Sulit bermain dengan tenang.

  • Terlihat selalu gelisah atau tidak bisa tenang.

C. Impulsif (Impulsive)

  • Sering menyela pembicaraan orang lain.

  • Tidak sabar menunggu giliran, baik dalam bermain maupun belajar.

  • Menjawab pertanyaan sebelum selesai ditanyakan.

  • Bertindak tanpa memikirkan konsekuensi.

  • Mengganggu atau mencampuri permainan orang lain tanpa izin.

Penyebab ADHD

Ilustrasi anak ADHD. Foto: Unsplash

Menurut Medical News Today, penyebab pasti ADHD belum diketahui sepenuhnya, tetapi ada faktor risiko yang diduga berkontribusi seperti:

  • Faktor genetik. ADHD cenderung diturunkan dalam keluarga.

  • Kelainan pada struktur atau fungsi otak. Beberapa studi menunjukkan perbedaan pada bagian otak yang mengatur perhatian dan kontrol impuls.

  • Paparan zat berbahaya selama kehamilan. Misalnya, alkohol, nikotin, atau obat-obatan tertentu.

  • Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah.

  • Lingkungan. Pola asuh yang tidak konsisten, stres keluarga, atau lingkungan belajar yang tidak mendukung dapat memperburuk gejala ADHD.

Cara Menghadapi Anak dengan ADHD

Menangani anak ADHD memerlukan kombinasi strategi dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, guru, hingga tenaga medis. Berikut langkah yang bisa dilakukan sebagaimana dijelaskan dalam buku Anak ADHD dan Cara Menanganinya karya Thomas Putra:

1. Diagnosis Profesional

Jika orang tua mencurigai adanya ciri ADHD, segera konsultasikan ke psikolog anak atau psikiater. Diagnosis dilakukan melalui observasi perilaku, wawancara, serta kuesioner yang relevan.

2. Terapi Perilaku

Terapi ini membantu anak belajar mengendalikan emosi, memperbaiki perilaku, dan meningkatkan keterampilan sosial. Orang tua juga bisa mendapatkan pelatihan khusus untuk mengelola perilaku anak.

3. Pengobatan

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan obat stimulan atau non-stimulan untuk membantu anak lebih fokus dan mengurangi impulsif.

4. Pendekatan Pendidikan

Guru dan sekolah perlu diberikan pemahaman tentang ADHD agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Anak ADHD biasanya membutuhkan pengulangan instruksi, jadwal yang teratur, dan waktu istirahat lebih banyak.

5. Konsistensi di Rumah

Orang tua harus menciptakan rutinitas harian yang terstruktur dan konsisten, termasuk waktu belajar, bermain, makan, dan tidur. Pujian positif ketika anak berperilaku baik juga sangat membantu.

(NDA)