Konten dari Pengguna

DBD Shock Syndrome, Ini Gejala dan Penyebabnya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi DBD shock syndrome. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi DBD shock syndrome. Foto: Pexels

Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok yang menakutkan bagi banyak keluarga. Penyakit ini bisa menyebabkan berbagai gejala serius yang bisa mengancam nyawa bila tak ditangani dengan cepat dan tepat.

Penderita dengan demam berdarah yang sudah parah dapat mengalami komplikasi berat, yaitu DBD Shock Syndrome atau dalam dunia medis disebut dengan Dengue Shock Syndrome (DSS). Syok yang tak teratasi dapat membuat kondisi penderita semakin memburuk.

Artikel ini akan menguraikan secara rinci apa yang dimaksud dengan DBD Shock Syndrome dan gejala-gejala yang harus diwaspadai agar dapat mengambil langkah penanganan yang tepat.

Apa Itu DBD Shock Syndrome?

Ilustrasi DBD shock syndrome. Foto: Pexels

DBD Shock Syndrome merupakan keadaan demam berdarah yang sudah lanjut. Sindrom ini bisa menyebabkan penurunan tekanan darah secara dratis akibat bocornya pembuluh darah sehingga pasien mengalami syok.

Sindrom syok dengue pada demam berdarah banyak terjadi selama fase kritis. Kondisi ini ditandai dengan terjadinya kebocoran plasma yang menyebabkan volume darah yang bersirkulasi di dalam tubuh menurun drastis.

Jika tidak segera diatasi, syok dapat menyebabkan kegagalan organ seperti hati, ginjal, otak, dan jantung serta dapat berujung pada kematian.

Baca Juga: DBD Menular atau Tidak? Ini Penjelasannya

Penyebab dan Faktor Risiko DBD Shock Syndrome

Ilustrasi DBD shock syndrom. Foto: Pexels

Penyebab utama DBD Shock Syndrome adalah infeksi virus dengue yang telah mengakibatkan kebocoran plasma darah. Namun, ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena DSS, antara lain:

  • Orang yang pernah mengalami demam berdarah dengue berisiko tinggi terkena sindrom syok dengue, jika terinfeksi serotipe virus dengue yang berbeda.

  • Anak-anak dan orang lanjut usia.

  • Riwayat kondisi medis yang ada sebelumnya, seperti penyakit jantung, hati atau diabetes.

  • Penanganan DBD yang terlambat dapat meningkatkan risiko komplikasi dan kematian.

Gejala DBD Shock Syndrome

Ilustrasi DBD shock syndrome. Foto: Pexels

DSS memiliki fase awal yang serupa dengan DBD biasa, yaitu demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, dan ruam kulit. Namun, yang membedakan adalah fase kritis yang biasanya terjadi setelah 3–7 hari sakit.

Mengutip buku berjudul Buku Pintar Penanggulangan Wabah Penyakit Dunia dan Nasional karya Yanuar dan Winarni, gejala-gejala DSS yang perlu diwaspadai meliputi:

1. Tekanan Darah Menurun Drastis

Penurunan tekanan darah adalah tanda utama terjadinya syok. Ketika plasma darah bocor ke luar pembuluh, volume darah yang bersirkulasi menurun. Akibatnya, tekanan darah turun secara tiba-tiba.

2. Nadi Melemah

Tekanan darah yang rendah menyebabkan nadi lemah dan tidak stabil. Ini bisa dirasakan di pergelangan tangan atau leher, bahkan terkadang sulit teraba.

3. Keringat Dingin dan Gelisah

Ketika tubuh masuk kondisi syok, sistem saraf menghasilkan gejala seperti berkeringat dingin dan kulit lembap, terutama di ujung jari dan ujung hidung. Selain itu, penderita juga merasakakan gelisah pada fase ini.

4. Penurunan Kesadaran

Jika keadaan terus memburuk, penderita bisa mengalami lemah, lunglai, hingga kehilangan kesadaran. Ini adalah gejala serius yang menunjukkan DSS telah berkembang ke tahap lanjut.

5. Pendarahan

Penderita dengan DSS juga dapat mengalami pendarahan seperti mimisan, gusi berdarah, muntah darah, atau muncul bintik-bintik merah di kulit.

6. Sesak Napas

Gejala yang mengkhawatirkan dan bisa muncul adalah sesak napas. Pasien sering kali merasa sulit bernapas, napas pendek-pendek, bahkan seperti tercekik.

(SA)