Gejala Anoreksia pada Anak dan Cara Mengatasinya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka, kasus anoreksia pada anak di bawah usia 12 tahun juga banyak ditemui di lingkungan sekitar. Gangguan makan satu ini ternyata tak hanya diderita oleh remaja maupun dewasa.
Secara medis, anoreksia dikenal dengan istilah anorexia nervosa. Gangguan makan sekaligus kesehatan mental ini perlu diwaspadai gejalanya sedini mungkin.
Pengidap gangguan ini cenderung menerapkan metode makan yang ekstrem untuk menghindari penambahan berat badan atau bahkan menurunkannya. Akibatnya, pengidap anoreksia termasuk anak-anak sekalipun, sangatlah rentan terserang komplikasi bahkan malnutrisi.
Mengutip Child Mind Institute, data terbaru menunjukkan hampir 100 anak yang berusia antara 5 sampai 7 tahun di Inggris telah dirawat, karena menderita gangguan makan anoreksia maupun bulimia dalam tiga tahun terakhir.
Anak yang mengidap anoreksia mungkin akan menunjukkan gejala yang bervariasi. Namun, terdapat beberapa gejala khas dari gangguan tersebut yang perlu orang tua ketahui.
Lantas, apa saja gejala anoreksia pada anak? Bagaimana upaya untuk mengatasinya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak pembahasan di bawah ini.
Gejala Anoreksia pada Anak
Umumnya, ketika nafsu makan anak sudah mulai menurun secara terus-menerus, bisa menjadi salah satu pertanda yang mengarah ke penyakit anoreksia.
Selain itu, Endy P. Prawirohartono dalam bukunya STUNTING: Dari Teori dan Bukti ke Implementasi di Lapangan memaparkan, orang tua juga patut waspada jika turunnya nafsu makan diikuti dengan beberapa perilaku berikut ini:
Kehilangan banyak berat badan yang terlihat sangat jelas.
Menyangkal perasaan lapar, padahal sebenarnya rasa lapar itu ada.
Tidak mau makan atau mengaku tidak lapar setelah melakukan aktivitas olahraga yang berlebihan.
Selalu merasa bahwa dirinya gemuk dan tidak ada kepuasan terhadap bentuk badan yang dimilikinya.
Tidak jarang menarik diri dari lingkungan sosialnya. Mereka biasanya tidak mau untuk datang ke pesta ulang tahun teman atau keluar bersama teman-teman untuk sekadar makan malam.
Menyisihkan makan di piringnya dan memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil, mengunyah lambat-lambat, serta menghindari makan bersama keluarga.
Sering terlihat secara sengaja mengeluarkan makanan yang telah mereka konsumsi sesaat setelah makan.
Tak hanya persoalan perilaku, anoreksia pada anak juga dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri fisiknya, seperti:
Kulit kering dan menguning;
Dehidrasi;
Sakit perut dan sembelit;
Kelesuan dan kelelahan yang berarti;
Pusing;
Intoleransi terhadap suhu dingin;
Terlalu kurus;
Pengembangan lanugo (rambut halus dan berbulu halus).
Jika tak segera diatasi, anoreksia pada anak bisa menyebabkan kurang gizi dan kerusakan fatal pada berbagai organ tubuh, seperti aritmia atau detak jantung tidak beraturan, anemia, berkurangnya produksi hormon pertumbuhan, tulang rapuh, dan lain sebagainya.
Cara Mengatasi Anoreksia pada Anak
Bila sang anak terkonfirmasi mengidap anoreksia, merujuk pada buku 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya tulisan Ana Widyastuti, M.Pd, Kons, terdapat beberapa pilihan perawatan yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Terapi Keluarga
Perawatan melalui terapi keluarga melibatkan orang tua dan anak yang mengidap anoreksia. Terapis akan memberi saran seputar bagaimana keluarga menyikapi dan mendukung anak untuk menjadi lebih baik.
Di samping itu, terapis juga akan membantu anak yang mengidap anoreksia untuk mengelola perasaan dan situasi sulit yang dapat memicu kebiasaan makan yang tidak sehat.
2. Program Penambahan Gizi dan Berat Badan
Anak dengan pengidap anoreksia rentan mengalami kekurangan vitamin, energi, dan nutrisi penting lainnya untuk menunjang pertumbuhan. Maka dari itu, dokter akan memberikan saran kepada orang tua terkait makanan sehat yang perlu dikonsumsinya.
Selain itu, dokter juga akan menganjurkan penggunaan suplemen vitamin dan mineral. Hal ini bertujuan agar selama menjalani perawatan di rumah, kebutuhan nutrisi sang anak senantiasa terpenuhi.
3. Pemberian Suplemen Kalsium
Gangguan anoreksia pada anak dapat melemahkan tulang pengidapnya, sehingga rentan menyebabkan osteoporosis. Oleh sebab itu, selain menganjurkan terapi keluarga dan program penambahan berat badan, dokter juga akan menganjurkan pemindaian kepadatan tulang.
Bilamana dibutuhkan, dokter akan meresepkan penggunaan suplemen tulang untuk membantu melindungi kepadatan dan kesehatan tulang sang anak.
4. Penggunaan Obat-obatan Antidepresan
Antidepresan sebenarnya sangat jarang diresepkan untuk anak-anak atau remaja yang masih berusia di bawah 18 tahun. Kendati demikian, pengidap anoreksia juga rentan untuk mengalami beberapa gangguan mental lain seperti gangguan kecemasan, fobia sosial, hingga depresi.
Jika anak yang mengidap anoreksia juga mengalami salah satu atau sejumlah gangguan mental tersebut, kemungkinan besar dokter akan meresepkan penggunaan antidepresan dengan dosis yang ketat.
Baca Juga: Perbedaan Eating Disorder: Anoreksia, Binge Eating, dan Bulimia
(VIO)
Frequently Asked Question Section
Apa arti kata dari anoreksia?

Apa arti kata dari anoreksia?
Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan berat badan yang sangat rendah, rasa takut yang berlebihan pada kenaikan berat badan, dan persepsi yang salah terhadap berat badan.
Apa risiko anoreksia?

Apa risiko anoreksia?
Umumnya, penyakit anoreksia dialami oleh perempuan. Gangguan jiwa ini dapat menimpa individu dari berbagai usia, tetapi lebih sering terjadi pada remaja dan jarang dialami oleh mereka yang usianya di atas 40 tahun.
Adakah dampak kesehatan untuk anak dari pengidap anoreksia?

Adakah dampak kesehatan untuk anak dari pengidap anoreksia?
Jika tak segera diatasi, anoreksia pada anak bisa menyebabkan kurang gizi dan kerusakan fatal pada berbagai organ tubuh, seperti aritmia atau detak jantung tidak beraturan, anemia, berkurangnya produksi hormon pertumbuhan, tulang rapuh, dan lain sebagainya.
