Kenapa Orang Kena Rabies Takut Air? Ini Penjelasannya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rabies adalah penyakit dari virus yang sangat mematikan karena menyerang sistem saraf pusat. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi, terutama anjing, kucing, atau kelelawar.
Salah satu gejala paling khas dari rabies pada manusia adalah takut air, atau dalam istilah medis disebut hidrofobia. Namun, kenapa orang rabies takut air? Untuk mengetahui jawabannya, simak terus uraian ini.
Kenapa Orang Kena Rabies Takut Air?
Berdasarkan informasi dari World Health Organization (WHO), orang yang terkena rabies biasanya akan mengalami gejala hidrofobia. Ini merupakan salah satu gejala neurologis yang muncul pada penderita rabies tahap lanjut.
Hidrofobia bukan berarti membuat penderita rabies takut air secara emosional, tetapi berupa timbulnya rasa sakit saat mencoba menelan air. Penderita rabies bisa mengalami kejang otot yang hebat di tenggorokan dan laring (kotak suara) saat mencoba minum.
Akibatnya, muncul refleks takut atau menghindari air karena rasa sakit atau ketidaknyamanan yang luar biasa. Berikut beberapa alasan medis mengapa penderita rabies mengalami hidrofobia:
1. Infeksi Menyerang Sistem Saraf Pusat
Virus rabies menyebar melalui saraf menuju otak dan sumsum tulang belakang. Ketika mencapai otak, virus ini menyebabkan ensefalitis (radang otak) yang memicu disfungsi pada berbagai pusat saraf, termasuk pusat menelan dan pusat pernapasan.
2. Gangguan Neurologis Saat Menelan
Orang yang terkena rabies akan mengalami kontraksi otot yang tak terkendali saat menelan air atau bahkan ketika membayangkannya. Proses ini menyebabkan rasa nyeri hebat dan kejang di otot tenggorokan. Karena trauma ini, penderita secara refleks menjadi takut air.
3. Hipersensitivitas Terhadap Stimulus
Penderita rabies stadium lanjut menjadi sangat sensitif terhadap suara, cahaya, udara, dan bahkan air. Hal ini membuat air yang biasanya tak berbahaya, menjadi pemicu kejang yang menyakitkan. Ini bukan karena fobia psikologis, tetapi merupakan respons fisiologis terhadap rangsangan.
4. Produksi Air Liur Berlebihan dan Ketidakmampuan Menelan
Virus rabies juga menyebabkan produksi air liur meningkat, tetapi penderita tak mampu menelannya. Kombinasi ini menciptakan rasa tersedak yang membuat mereka semakin trauma terhadap aktivitas menelan, termasuk saat minum air.
Baca Juga: 4 Varian COVID-19 di Indonesia yang Perlu Diwaspadai
Gejala Lain yang Menyertai Rabies
Selain hidrofobia, berikut gejala-gejala lain dari rabies pada manusia yang dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC).
Demam dan rasa tak nyaman.
Nyeri di area gigitan.
Gelisah, cemas, dan halusinasi.
Kejang dan kelumpuhan.
Agitasi ekstrem atau agresivitas.
Produksi air liur berlebihan (hipersalivasi).
Setelah gejala neurologis muncul, rabies hampir selalu berujung pada kematian karena hingga kini belum ada pengobatan yang efektif untuk rabies yang sudah simptomatik.
(NDA)
