Konten dari Pengguna

Memahami Gejala Rubella pada Anak-Anak dan Orang Dewasa

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang anak yang diberi vaksin agar terhindar dari penyakit rubella. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang anak yang diberi vaksin agar terhindar dari penyakit rubella. Foto: Pixabay

Rubella atau campak Jerman merupakan salah satu penyakit yang bisa menyerang semua umur. Namun, seorang anak yang terinfeksi rubella umumnya hanya menunjukkan gejala ringan. Lantas, apa saja gejala rubella?

Anak-anak yang menderita rubella umumnya menunjukkan gejala yang lebih ringan dibandingkan dengan orang dewasa. Meski demikian, bukan berarti penyakit ini tidak boleh dianggap remeh. Sebab, rubella merupakan salah satu penyakit menular.

Rubella adalah penyakit menular yang disebabkan oleh genus Rubivirus. Virus ini dapat menular melalui percikan air liur yang dikeluarkan penderita ketika batuk atau bersin. Selain itu, rubella juga bisa menyebar dari ibu hamil ke anak dalam kandungan melalui aliran darah.

Penting untuk diketahui bahwa menurut laman resmi milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, orang yang terinfeksi virus rubella dapat menularkan penyakitnya, sebelum orang tersebut merasakan gejalanya.

Penasaran, apa saja gejala yang dirasakan penderita rubella? Agar lebih memahaminya, simak penjelasan di bawah ini.

Ilustrasi ruam pada kulit sebagai gejala utama penyakit rubella. Foto: Pixabay

Gejala Rubella

Ketika pengidap terinfeksi, virus akan menyebar ke seluruh tubuh hanya dalam waktu 5-7 hari. Namun, secara keseluruhan penyakit rubella memakan waktu 14 hingga 21 hari sejak terjadinya infeksi hingga timbulnya gejala.

Gejala utama rubella adalah ruam merah yang muncul dalam 2–3 minggu sejak terpapar virus rubella. Awalnya, ruam akan muncul di wajah, lalu menyebar hingga ke seluruh tubuh. Bagi sebagian kasus, ruam juga bisa menimbulkan rasa gatal yang dapat berlangsung hingga 3 hari.

Selain ruam, merujuk pada buku Menghindari dan Mengatasi TORCH (Toksoplasma Rubella CMV) milik dr. Angela Nusatia-Abidin, gejala yang dirasakan penderita rubella bisa berbeda antara anak-anak dan orang dewasa.

Gejala rubella pada anak, di antaranya:

  • Demam ringan (<38℃)

  • Sakit kepala

  • Hidung tersumbat atau beringus

  • Muntah

  • Kelenjar getah bening leher dan belakang telinga membengkak.

Sementara itu, gejala pada orang dewasa, yaitu:

  • Hilang nafsu makan

  • Konjungtivitis (infeksi kelopak mata dan bola mata)

  • Sendi bengkak dan nyeri pada wanita usia muda yang bertahan pada 3-10 hari.

Gejala yang timbul akibat rubella biasanya ringan, sehingga sulit terdeteksi. Periode yang paling rentan untuk menularkan penyakit ini pada orang lain adalah pada hari 1-5 setelah ruam muncul.

Namun, bila memiliki daya tahan tubuh yang baik, penderita rubella tidak mengalami gejala apa pun. Sekalipun tak menunjukkan gejala, penyakit ini tetap bisa menular kepada orang lain yang belum memiliki daya tahan tubuh terhadap infeksi rubella.

Itulah sebabnya, segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala seperti yang telah disebutkan di atas, terlebih jika sebelumnya melakukan kontak dengan penderita rubella atau curiga terpapar oleh virus rubella.

Ilustrasi wanita hamil yang rentan terkena komplikasi rubella. Foto: Pixabay

Komplikasi Rubella

Komplikasi paling serius dari infeksi rubella adalah bahaya yang dapat ditimbulkannya pada janin yang sedang berkembang pada wanita hamil. Wanita hamil yang belum mendapatkan vaksin terinfeksi virus rubella dapat mengalami keguguran, atau bahkan bayinya lahir dalam kondisi cacat.

Cacat lahir yang serius lebih sering terjadi, jika seorang wanita terinfeksi di awal kehamilannya, terutama pada trimester pertama. Cacat lahir yang parah ini dikenal sebagai sindrom rubella kongenital (CRS).

Akibat dari sindrom tersebut, tuli adalah kondisi paling umum yang terjadi. Selain tuli, kondisi lain yang diakibatkan oleh sindrom rubella kongenital, di antaranya:

  • Katarak;

  • Penyakit jantung;

  • Anemia;

  • Hepatitis;

  • Keterlambatan perkembangan;

  • Kerusakan retina atau dikenal dengan retinopati;

  • Kepala, rahang bawah, atau mata yang berukuran kecil;

  • Masalah hati atau limpa;

  • Berat badan lahir yang rendah.

Pengobatan Rubella di Rumah

Seperti yang sudah dijelaskan, gejala rubella biasanya ringan dan bisa membaik dengan sendirinya. Oleh sebab itu, penderitanya cukup berada di rumah saja selama tidak terjadi komplikasi.

Terinspirasi dari buku Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya karya Faisal Yatim, pengobatan rumahan yang dapat membantu mengatasi rubella, di antaranya:

  • Konsumsi obat yang diresepkan untuk mengurangi gejala.

  • Perhatikan kebersihan tubuh dengan mencuci tangan sesering mungkin.

  • Gunakan krim pengurang rasa gatal yang diresepkan dokter.

  • Jangan menggaruk karena dapat meninggalkan bekas.

  • Hindari kontak dengan orang lain hingga membaik, khususnya dengan orang hamil.

  • Pantau suhu badan dan hubungi dokter apabila demam terlalu tinggi.

Baca Juga: Mengenal Gejala Zika, Komplikasi, dan Cara Mengobatinya

(VIO)

Frequently Asked Question Section

Apa akibatnya jika ibu hamil terinfeksi rubella?

chevron-down

Terdapat kemungkinan kondisi yang terjadi pada bayi dengan ibu yang terinfeksi rubella, di antaranya menderita katarak, penyakit jantung kongenital, tuli, hingga kelainan organ paru-paru, hati, dan otak.

Organ apa yang diserang virus rubella?

chevron-down

Rubella atau campak Jerman (campak tiga hari) adalah infeksi virus yang menyerang kulit dan kelenjar getah bening.

Berapa lama virus rubella berkembang di dalam tubuh?

chevron-down

Virus penyebab rubella berkembang selama 2-3 minggu setelah menyerang ke dalam tubuh. Lalu, gejalanya akan mulai terlihat selama 4-5 hari.