Konten dari Pengguna

Mengenal Pitting Edema yang Rentan Dialami Ibu Hamil

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pitting edema yang rentan dialami ibu hamil. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pitting edema yang rentan dialami ibu hamil. Foto: Pixabay

Pitting edema adalah salah satu gangguan kesehatan yang kerap terjadi pada ibu hamil. Namun, bukan hanya ibu hamil, kondisi pitting edema rupanya juga bisa dialami oleh seseorang dengan penyakit tertentu.

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya pitting edema. Mulai dari bepergian dengan pesawat terbang, sirkulasi darah yang kurang baik, obesitas, dehidrasi, mengalami trauma atau cedera, hingga kondisi kekurangan protein.

Selain itu, penyebab lain yang bisa memicu kondisi pitting edema adalah tekanan darah tinggi, diabetes, masalah ginjal, penyakit paru-paru, penyakit hati, insufisiensi vena kronis, komplikasi katup jantung, hingga gagal jantung kongestif.

Meski bisa disebabkan oleh hal sepele, tapi tidak menutup kemungkinan pitting edema disebabkan oleh berbagai hal yang serius. Maka dari itu, sangat direkomendasikan untuk segera memeriksakan diri ke dokter saat mengalami gejala-gejala di atas.

Penasaran, apa sebenarnya pitting edema yang banyak dialami oleh ibu hamil? Lebih jelasnya, simak penjelasannya berikut ini.

Ilustrasi ibu hamil yang mengalami pembengkakan di kaki akibat penumpukan cairan di dalam tubuh. Foto: Pixabay

Pengertian Pitting Edema

Pitting edema adalah kondisi membengkaknya jaringan tubuh akibat penumpukan cairan. Umumnya, pitting edema ditemukan pada bagian tubuh bawah seperti kaki, lutut, atau pergelangan kaki.

Magdalena Tri Putri Apriyani dalam buku Komplikasi Kehamilan dan Penatalaksanaannya memaparkan bahwa secara umum pitting edema terjadi akibat retensi cairan. Dalam hal ini, retensi cairan merupakan kondisi ditemukannya cairan berlebih yang tertahan oleh tubuh.

Cairan berlebih pada pitting edema ditemukan di pembuluh darah. Lalu, cairan ini keluar dari jaringan tubuh. Oleh sebab itu, terjadi permukaan yang lebih tinggi daripada permukaan tubuh lainnya atau mengalami pembengkakan.

Ketika mengalami kaki bengkak saat ditekan lama akibat pitting edema, kulit akan terasa berat dan lebih kencang. Dihimpun dari buku Asuhan Keperawatan Kehamilan karya Yuanita Syaiful, S.Kep.Ns, beberapa hal yang menjadi tanda seseorang mengalami pitting edema adalah sebagai berikut:

  • Gatal dan sensasi terbakar di sekitar bagian tubuh yang bengkak.

  • Rasa nyeri, kebas, dan kram.

  • Kulit terasa terlalu panas ketika disentuh.

  • Mual dan batuk tanpa sebab jelas.

  • Kehabisan energi.

  • Nyeri dada.

  • Kesulitan bernapas.

Kondisi pitting edema umumnya banyak terjadi pada ibu hamil. Sebab, semakin tingginya volume cairan selama hamil, semakin berisiko pula terjadinya pitting edema.

Risiko Terjadinya Pitting Edema pada Ibu Hamil

Saat hamil, tubuh memproduksi 50% lebih banyak darah dan cairan tubuh demi memenuhi kebutuhan janin. Kelebihan cairan inilah yang bisa menjadi penyebab kaki dan tangan bengkak saat hamil.

Kelebihan cairan penting untuk melunakkan tubuh, sehingga janin bisa mendapat cukup ruang seiring dengan pertambahan usianya. Tak hanya itu, kelebihan cairan ini juga membantu mempersiapkan persendian di panggul untuk proses persalinan.

Bahkan, kelebihan cairan ini merupakan 25% dari seluruh kenaikan berat badan ibu hamil selama mengandung. Selain itu, pitting edema pada ibu hamil juga bisa terjadi karena tubuh terlalu banyak mengandung garam.

Kelebihan garam dapat menyebabkan tubuh menahan air, yang kemudian masuk ke dalam jaringan interstitial, sehingga memunculkan kondisi pitting edema.

Ilustrasi ibu hamil yang mengalami pitting edema saat memasuki trimester ketiga. Foto: Pexels

Cara Mencegah Terjadinya Pitting Edema

Bagi ibu hamil, kaki bengkak bisa terjadi kapan saja. Bukan hanya ketika memasuki trimester ketiga (saat berat badan janin semakin bertambah), kondisi pitting edema bisa juga muncul sejak trimester pertama.

Wajar jika ibu hamil pada trimester ketiga merasakan pembengkakan pada kaki, bahkan sampai harus berganti ukuran sepatu. Namun, ketika ibu hamil mengalami pitting edema, bagian tubuh seperti kaki tidak mudah kembali ke bentuk semula setelah ditekan. Bahkan, bisa saja meninggalkan bekas.

Lantas, bagaimana cara untuk mencegah pitting edema? Mengutip informasi dari situs Osmosis, upaya pencegahannya bisa berupa:

  • Hindari berdiri atau duduk terlalu lama.

  • Konsumsi makanan tinggi potasium.

  • Menghindari konsumsi kafein.

  • Kurangi aktivitas di luar ruangan ketika cuaca terlalu panas.

  • Kenakan sepatu yang nyaman.

  • Hindari pakaian yang terlalu ketat terutama di pergelangan kaki dan tangan.

  • Berenang secara berkala.

  • Posisi tidur miring ke kiri.

  • Berolahraga secara berkala.

  • Mengurangi konsumsi garam atau sodium berlebihan.

  • Selalu pastikan tekanan darah normal karena tekanan darah tinggi dapat menyebabkan beberapa bagian tubuh tiba-tiba bengkak.

Apabila Anda merasakan kondisi serius akibat pitting edema seperti bengkak mulai terjadi di sekitar wajah, mata, atau tangan, sekaligus merasakan nyeri dada dan sesak napas, segeralah berkonsultasi pada dokter kandungan untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Baca Juga: Tubuh Bengkak Setelah Melahirkan, Kapan Bisa Mereda?

(VIO)

Frequently Asked Question Section

Bagaimana cara mengatasi edema?

chevron-down

Dokter mungkin akan menyarankan penderita edema untuk mengurangi asupan garam dalam makanan atau minuman. Sebab, terlalu banyak garam dalam tubuh dapat meningkatkan penumpukan cairan dan memperparah pembengkakan.

Edema apa itu?

chevron-down

Edema adalah kondisi medis yang ditandai dengan pembengkakan akibat penumpukan cairan pada jaringan tubuh.

Apa yang menyebabkan edema?

chevron-down

Pada kasus yang ringan, edema sering kali disebabkan oleh kondisi terlalu lama duduk atau berdiri, cedera ringan, terlalu banyak konsumsi garam, gejala sindrom pramenstruasi, dan kehamilan.