OCD: Gejala, Penyebab, dan Cara Menanganinya

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gangguan OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder adalah jenis gangguan kecemasan yang ditandai dengan adanya pemikiran obsesif yang menganggu dan perilaku kompulsif yang diulang secara terus menerus.
Gangguan mental ini bisa sangat mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya karena memaksa mereka untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu agar merasa tenang.
Istilah OCD juga kerap disalahartikan sebagai obsesi berlebihan terhadap kebersihan atau keadaan teratur semata. Untuk lebih memahami apa itu OCD, simak informasinya pada artikel ini.
Gejala OCD
Setiap individu bisa mengalami OCD dalam bentuk yang berbeda. Namun mengutip laman Mayo Clinic, secara umum gejala OCD dapat dibagi menjadi dua kategori utama:
1. Gejala Obsesi
Obsesi merupakan pikiran, dorongan, atau gambaran mental yang muncul secara berulang, tak diinginkan, dan menimbulkan kecemasan. Obsesi dapat mencakup hal-hal seperti:
Takut akan kuman atau kontaminasi.
Takut kehilangan atau salah menaruh sesuatu.
Kekhawatiran tentang bahaya yang akan menimpa diri sendiri atau orang lain.
Pikiran agresif atau menyimpang terhadap diri sendiri atau orang lain.
Membutuhkan barang-barang yang disusun dengan tepat atau diatur dengan cara tertentu.
2. Gejala Kompulsi
Kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental yang dilakukan secara berulang untuk meredakan kecemasan akibat obsesi. Beberapa kompulsi yang umum meliputi:
Membersihkan atau mencuci tangan secara berulang
Memeriksa barang berulang kali, seperti apakah pintu terkunci atau kompor mati, dan sebagainya.
Menghitung atau mengulang kata-kata dalam hati.
Menyusun barang dengan cara tertentu.
Mencari kepastian terus-menerus.
Baca Juga: Tangan Berkeringat Tanda Penyakit Apa? Ini Penjelasannya
Penyebab OCD
Gangguan OCD bisa dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya sebagai berikut.
1. Faktor Genetika
OCD cenderung menurun dalam keluarga. Jika ada anggota keluarga dekat yang mengidap OCD, kemungkinan seseorang mengalami gangguan ini juga lebih tinggi.
2. Perubahan Otak
Struktur otak tertentu dapat menyebabkan gangguan OCD. Orang dengan OCD umumnya memiliki korteks frontal dan struktur subkortikal yang berbeda dari orang lain.
3. Trauma Masa Kcil
Peristiwa kehidupan yang traumatis, stres berkepanjangan, atau pola asuh tertentu juga bisa menjadi pemicu munculnya OCD.
Sementara itu, dalam beberapa kasus, anak-anak dapat mengembangkan OCD setelah infeksi streptokokus. Kondisi ini disebut dengan gangguan neuropsikiatri autoimun pediatrik (pediatric autoimmune neuropsychiatric disorders atau sindrom PANDAS).
Cara Mengatasi OCD
OCD bisa ditangani dan dikendalikan dengan melibatkan psikoterapi dan obat-obatan. Berikut beberapa metode yang umum digunakan:
1. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
Terapi cognitive behavioral therapy (CBT) terbukti efektif untuk mengatasi OCD. Terapi ini membantu penderita berpikir, berperilaku, dan bereaksi terhadap obsesi dan kompulsi.
2. Terapi Exposure and Response Prevention (ERP)
Pada terapi ini membantu penderita menghadapi ketakutan tanpa melakukan kompulsi sehingga lama-kelamaan kecemasan berkurang.
2. Obat-obatan
Dokter biasanya meresepkan beberapa jenis obat antidepresan seperti serotonin reuptake inhibitors (SRI), selective SRIs (SSRIs), dan antidepresan trisiklik. Obat harus dikonsumsi sesuai resep dan dipantau secara berkala.
(SA)
