Pengertian STD Test dan Jenis-jenisnya yang Perlu Dipahami

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sexually Transmitted Disease atau STD test adalah tes yang digunakan untuk mendiagnosis infeksi atau masalah terkait penyakit menular seksual. Tes ini dapat mendeteksi penyakit menular seksual yang disertai maupun tanpa gejala sebagai upaya pencegahan.
Mengutip Asuhan Keperawatan Gangguan Maternitas oleh Rina Nuraeni, dkk. (2021: 230), STD adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Penyebab STD meliputi infeksi bakteri, parasit, dan virus.
Ada banyak penyakit yang dapat digolongkan sebagai STD. Di Indonesia, kasus yang banyak ditemukan adalah gonore, sifilis (raja singa), herpes kelamin, klamidia, trikomoniasis, kutil kelamin, dan HIV/AIDS.
Sebagian besar STD dapat diobati, tapi ada beberapa yang tidak bisa diobati secara tuntas, seperti HIV/AIDS dan herpes kelamin. Karenanya, penting untuk melakukan tes STD secara berkala, terutama bagi orang yang aktif secara seksual.
Jenis-Jenis STD Test
STD dapat didiagnosis dengan melakukan serangkaian tes laboratorium. Mengutip MedlinePlus, berikut jenis-jenis tes STD yang bisa digunakan untuk mendeteksi penyakit menular seksual.
1. Tes Darah
Tes darah digunakan untuk mendiagnosis penyakit STD seperti sifilis, HIV/AIDS, dan herpes. Selama tes, dokter akan mengambil sampel darah dari vena di lengan pasien. Sampel darah tersebut akan dikumpulkan ke dalam tabung vial untuk diuji di laboratorium.
2. Tes Urine
Tes urine digunakan untuk mendiagnosis penyakit trikomoniasis dan gonore. Dokter biasanya akan meminta pasien untuk memasukkan sampel urin steril ke dalam gelas khusus sebelum diujikan ke laboratorium.
3. Swab Test
Swab test dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit penyebab human papillomavirus (HPV), klamidia, gonore, dan herpes. Biasanya, dokter akan menggunakan alat swab khusus untuk mengambil sampel dari tempat infeksi.
Pada wanita, sampel dapat diambil dari vagina atau leher rahim. Sementara pada pria, sampel dapat diambil dari penis atau saluran uretra.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukan STD Test?
Perlu diketahui, STD tidak selalu menimbulkan gejala, sehingga kemungkinan tertular atau menularkan infeksi tetap bisa terjadi. Akan tetapi, semua orang yang aktif secara seksual berpotensi terkena STD. Mengutip Mayo Clinic, tes STD perlu dilakukan oleh orang-orang yang termasuk dalam satu atau lebih dari kategori berikut.
Wanita yang aktif secara seksual di bawah usia 25 tahun.
Wanita berusia 21 tahun ke atas.
Wanita hamil. Biasanya, wanita hamil dites untuk mendeteksi HIV/AIDS, hepatitis B, klamidia, dan sifilis.
Pria dan wanita yang aktif secara seksual yang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dan tidak dalam hubungan monogami.
Orang yang berhubungan seksual tanpa pengaman. Orang dengan kategori ini harus dites secara berkala untuk mendeteksi HIV/AIDS dan jenis STD lainnya.
Pria yang berhubungan seksual dengan pria.
Orang dengan HIV. Jika seseorang mengidap HIV, orang tersebut berisiko lebih tinggi terkena STD yang lain.
Orang yang menggunakan obat suntik.
Selain beberapa kategori di atas, seseorang perlu melakukan tes STD jika mengalami gejala tertentu. Gejalanya dapat bervariasi tergantung pada jenis STD-nya, tetapi umumnya yang kerap mengindikasikan adanya penyakit menular seksual, antara lain:
Mengalami perubahan pada urine.
Buang air kecil terasa menyakitkan atau panas.
Rasa nyeri selama berhubungan seksual.
Keputihan abnormal.
Sakit panggul atau perut bagian bawah.
Vagina terasa gatal atau panas.
Keluar cairan dan terasa gatal dari penis.
Adanya luka atau benjolan di area genital atau dubur.
Jika mengalami salah satu atau lebih gejala di atas dan termasuk dalam kategori orang-orang yang berisiko terkena STD, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendeteksi apakah ada penyakit menular seksual atau tidak.
Baca Juga: 7 Gejala HIV pada Wanita dan Cara Mencegahnya
Frequently Asked Question Section
Berapa kali harus melakukan tes STD?

Berapa kali harus melakukan tes STD?
Untuk beberapa orang, dianjurkan melakukan tes STD secara berkala, khususnya yang sangat aktif secara seksual.
Apakah ada gejala tertentu dari STD?

Apakah ada gejala tertentu dari STD?
Bisa berupa perubahan pada urine atau sakit saat buang air kecil.
(SFR)
