Konten dari Pengguna

Retensi Urine: Definisi, Jenis, Gejala, dan Penyebabnya

Artikel Kesehatan

Artikel Kesehatan

Kumpulan artikel yang membahas informasi seputar kesehatan.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Artikel Kesehatan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengalami retensi urine. Foto: Shutterstock.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengalami retensi urine. Foto: Shutterstock.com

Retensi urine adalah kondisi medis yang ditandai dengan ketidakmampuan seseorang untuk mengosongkan kandung kemih secara tuntas.

Akibatnya, urine tertahan di dalam kandung kemih yang bisa menyebabkan rasa nyeri, pembengkakan perut bagian bawah, dan bahkan infeksi saluran kemih.

Masalah ini bisa terjadi secara mendadak (akut) atau berkembang perlahan (kronis), dan bisa menimbulkan rasa tak nyaman hingga komplikasi serius jika tak segera ditangani.

Jenis Retensi Urine

Ilustrasi mengalami retensi urine. Foto: Shutterstock

Merujuk Mayo Clinic, retensi urine adalah kondisi ketika kandung kemih tak dapat dikosongkan sepenuhnya. Retensi urine terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Retensi Urine Akut: Terjadi secara tiba-tiba dan merupakan kondisi darurat medis. Penderitanya merasakan dorongan kuat untuk buang air kecil, tetapi tak dapat mengeluarkan urine sama sekali.

  • Retensi Urine Kronis: Berkembang secara perlahan. Kandung kemih tak pernah benar-benar kosong, dan biasanya hanya diketahui setelah muncul gejala lain seperti sering buang air kecil dalam jumlah sedikit.

Baca Juga: Gegar Otak Ringan: Definisi, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Gejala Retensi Urine

Ilustrasi mengalami retensi urine. Foto: Shutterstock

WebMD menerangkan bahwa gejala yang dirasakan biasanya tergantung pada jenis retensi urine yang dialami. Berikut beberapa gejalanya yang paling umum:

  • Sulit memulai buang air kecil.

  • Rasa tak puas setelah buang air kecil.

  • Perut bagian bawah terasa penuh atau nyeri.

  • Frekuensi buang air kecil meningkat, tetapi dalam jumlah sedikit.

  • Tak bisa buang air kecil sama sekali (kondisi akut).

  • Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil (nokturia).

Retensi urine adalah kondisi medis yang tak boleh dianggap sepele. Meskipun kadang muncul tanpa gejala berat, penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

Jika kamu atau orang terdekat mengalami kesulitan buang air kecil, jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke dokter. Penanganan yang tepat waktu bisa mencegah masalah yang lebih serius di kemudian hari.

Penyebab Retensi Urine

Ilustrasi mengalami retensi urine. Foto: Shutterstock

Retensi urine bisa disebabkan oleh berbagai faktor, baik struktural maupun fungsional. Berikut beberapa penyebab umumnya menurut Mayo Clinic:

1. Pembesaran Prostat (BPH)

Kondisi ini sering terjadi pada pria lanjut usia. Prostat yang membesar bisa menekan uretra, saluran tempat urine keluar sehingga menghambat alirannya.

2. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Peradangan akibat ISK dapat menyebabkan pembengkakan jaringan yang akhirnya mengganggu fungsi kandung kemih.

3. Batu Kandung Kemih

Batu atau endapan mineral di kandung kemih dapat menghalangi aliran urine dan memicu retensi.

4. Efek Samping Obat

Obat-obatan tertentu, seperti antihistamin, dekongestan, dan antidepresan dapat memengaruhi kerja otot kandung kemih.

5. Gangguan Saraf

Penyakit yang memengaruhi sistem saraf seperti diabetes, strok, atau cedera tulang belakang bisa mengganggu sinyal dari otak ke kandung kemih.

6. Operasi atau Anestesi

Setelah menjalani operasi besar, terutama yang melibatkan tulang belakang atau panggul, beberapa pasien mengalami kesulitan buang air kecil.

(NDA)