Artikel Peran Keluarga dalam Membangun Demokrasi yang Beradab untuk Wawasan
Membagikan informasi dari berbagai topik.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pojok Informasi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menciptakan lingkungan demokrasi berlaku di semua tempat. Ini sesuai Indonesia yang bernapas dengan demokrasi. Di aspek ini, artikel peran keluarga dalam membangun demokrasi yang beradab punya peran yang penting.
Dari teks artikel, semua orang bisa belajar untuk menambah wawasannya. Termasuk keluarga yang juga ikut andil ambil peran dalam menciptakan budaya demokrasi di Indonesia, terlebih yang beradab.
Artikel Peran Keluarga dalam Membangun Demokrasi yang Beradab di Indonesia
Di bawah ini terdapat artikel peran keluarga dalam membangun demokrasi yang beradab, ditulis oleh Zaenal Mutiin, Anggota KPU Kabupaten Serang dan dipublikasikan di halaman resmi kab-serang.kpu.go.id.
Judul artikel: Pendidikan Demokrasi: Dari Keluarga Semua Bermula
Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak dalam membentuk karakter, moral, dan perilaku. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial, anak-anak semakin mudah terpapar berbagai perilaku negatif.
Oleh karena itu, keluarga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai akhlak, toleransi, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati sejak dini.
Pendidikan anak adalah tanggung jawab sekolah dan tanggung jawab utama orang tua. Perilaku anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh, komunikasi, perhatian, dan keteladanan yang diberikan dari dalam keluarga.
Kurangnya perhatian dan komunikasi emosional antara orang tua dan anak bisa memicu anak mencari pelarian melalui perilaku negatif. Sebab itu, orang tua perlu menciptakan lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, terbuka, dan kondusif bagi perkembangan karakter anak.
Selain membentuk moral, keluarga berperan penting dalam menanamkan pendidikan demokrasi. Sebagai lingkungan sosialisasi primer, keluarga menjadi tempat pertama bagi anak untuk mempelajari nilai-nilai, norma, hak, kewajiban, dan cara berinteraksi dengan orang lain.
Pendidikan demokrasi dalam keluarga bisa membangun kesadaran politik yang sehat dan menghilangkan anggapan bahwa politik selalu identik dengan sesuatu yang kotor dan buruk.
Pendidikan demokrasi bisa diterapkan lewat kebiasaan sederhana. Contohnya seperti menghargai pendapat setiap anggota keluarga, memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya dan menyampaikan gagasan, bermusyawarah dalam mengambil keputusan, dan menghindari pola asuh otoriter.
Orang tua harus turut membangun komunikasi dua arah dan memberi kebebasan yang bertanggung jawab kepada anak. Namun di samping itu hal ini harus tetap dengan memperhatikan nilai agama, moral, dan karakter.
Suasana keluarga yang penuh cinta, kasih sayang, keadilan, dan keterbukaan membantu anak mengembangkan sikap demokratis dalam kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, pola asuh yang keras dan penuh kekerasan dapat membentuk perilaku serupa pada anak.
Keluarga adalah tempat pertama anak mendapatkan pendidikan moral dan demokrasi. Keberhasilan membangun masyarakat demokratis dimulai dari keluarga yang mampu memberikan pendidikan, keteladanan, dan pembiasaan nilai-nilai demokrasi.
Dengan demikian, anak bisa tumbuh menjadi generasi yang berakhlak, toleran, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran politik yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Itulah artikel peran keluarga dalam membangun demokrasi yang beradab untuk menambah wawasan setiap Keluar. Dengan menerapkan isi artikel tersebut, semua keluarga bisa menciptakan lingkungan demokrasi dari dalam rumah. (Win)
Baca juga: Upah Tidak Tetap dalam Bentuk Bonus sebagai Tambahan Penghasilan Pekerja