Apakah Fenomena Pick Me Adalah Produk Gagal Dari Patriarki? Ini Jawabannya

Mahasiswa S1 pendidikan sosiologi universitas negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Arum Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di jagat media sosial, istilah "Pick Me Girl" menjadi salah satu label yang paling gampang dilemparkan untuk menyudutkan sesama perempuan. Karakteristik utamanya sangat mudah dikenali: perempuan yang secara eksplisit menyatakan bahwa dirinya tidak seperti perempuan lain. Mereka kerap mengkritik kebiasaan feminin seperti memakai makeup, menyukai belanja, berdandan rapi, atau bertindak emosional demi mendapatkan satu hal yang mereka anggap amat berharga yaitu validasi dari laki-laki.
Masyarakat dengan cepat menghakimi pelaku pick me sebagai sosok yang menyebalkan, haus perhatian, manipulatif, atau sekadar sok beda. Namun, jika kita menanggalkan kekesalan dangkal tersebut dan memasang kacamata sosiologi gender yang lebih dalam, ada sebuah realitas yang jauh lebih kelam di balik fenomena ini sebenarnya, perilaku pick me adalah produk gagal dari sistem patriarki yang terinternalisasi (internalized misogyny).
(Internalized Misogyny)Ketika Korban Mengadopsi Bahasa Penindas
Dalam kajian sosiologi gender, internalized misogyny terjadi ketika perempuan secara tidak sadar mengadopsi, memvalidasi, dan menerapkan pandangan seksis masyarakat terhadap dirinya sendiri dan perempuan lain.
Perempuan yang menunjukkan perilaku pick me tidak pernah lahir di ruang hampa. Sejak kecil, mereka tumbuh dalam struktur sosial yang secara halus (maupun terang-terangan) mendegradasi nilai-nilai kewanitaan. Ketika media massa, budaya populer, dan lingkungan sosial secara konsisten menggambarkan sifat-sifat feminin sebagai hal yang lemah, dramatis, rumit, atau dangkal, beberapa perempuan mengambil mekanisme pertahanan diri yang radikal seperti menjauhkan diri dari identitas generiknya demi merasa selamat.
Mereka secara sadar maupun tidak meyakini sebuah narasi palsu, jika mereka membenci dan mengejek hal-hal yang dibenci patriarki, maka mereka tidak akan menjadi target penindasan atau pelecehan sistemis tersebut. Mereka merendahkan feminitas agar tidak diasosiasikan dengan kelompok yang diposisikan inferior.
Intrasexual Competition dan Scarcity Mindset Validasi Sosial
Sosiolog Simone de Beauvoir dalam karyanya The Second Sex pernah menjelaskan bagaimana masyarakat patriarkis menempatkan pria sebagai The One (subjek utama/standar) dan perempuan sebagai The Other(objek pelengkap). Dalam hierarki sosial yang timpang ini, persetujuan dan pujian dari pria secara keliru diposisikan sebagai hadiah tertinggi atau bentuk kepastian status bagi seorang perempuan.
Hal ini menciptakan scarcity mindset (pola pikir kelangkaan). Karena porsi pengakuan dan penghargaan bagi perempuan dalam masyarakat sangat terbatas, muncul kompetisi tidak sehat antarperempuan (intrasexual competition). Perilaku pick me adalah manifestasi dari strategi bertahan hidup yang pincang di dalam sistem tersebut.
Dengan merendahkan kelompoknya sendiri melalui frasa-frasa seperti "Aku nggak rewel kaya cewek lain"atau "Aku tuh lebih nyaman temenan sama cowok karena cewek ribet," seorang pick me berusaha memenangkan perlombaan validasi di bawah naungan male gaze. Mereka merasa sedang naik kelas ketika berhasil beda dari saudarinya.
Komodifikasi Karakter "Cewek Asyik" di Media Sosial
Di era digital, fenomena ini diakselerasi oleh algoritma media sosial. Sosok cewek asyik the cool girl) sebuah kiasan yang dipopulerkan dalam literatur feminis sebagai figur perempuan yang memiliki penampilan menarik tetapi bertingkah seperti salah satu dari teman pria yang dikomodifikasi secara masif.
Media sosial memberi panggung dan engagement berlimpah bagi konten-konten yang menyudutkan stereotip perempuan. Ketika seorang perempuan membuat konten yang membandingkan dirinya yang polos/santai dengan perempuan lain yang heboh/berdandan, kolom komentar akan langsung dipenuhi pujian dari audiens pria.
Eksistensi pick me akhirnya diperkuat oleh sistem imbalan digital (digital reward system). Validasi instant berupa likes dan komentar pujian dari pria mengunci mereka dalam ilusi bahwa cara berpikir mereka adalah benar dan lebih unggul.
Adu Domba Sistemik dan Illusi Kontrol Publik
Tragedi terbesar dari fenomena ini adalah bagaimana patriarki berhasil menjalankan taktik kuno: adu domba (divide and conquer). Daripada mengkritik sistem yang menindas dan membatasi ruang gerak perempuan, energi perempuan justru dihabiskan untuk saling menyerang, menghakimi, dan membandingkan satu sama lain.
Perempuan yang mengadopsi mentalitas pick me merasa mereka telah berhasil menang karena diterima oleh lingkaran pria. Padahal, persetujuan yang mereka dapatkan bersifat sangat semu dan bersyarat. Mereka hanya diterima selama mereka bersedia menjadi alat atau amunisi bagi pria untuk merendahkan perempuan lain. Begitu mereka berani keluar dari koridor ekspektasi pria, mereka akan menerima perlakuan seksis yang sama.
Mereka merasa memiliki kontrol atas hidupnya, padahal sebenarnya mereka sedang menari di atas alunan musik yang dimainkan oleh sistem yang sama yang mengikat mereka.
Melampaui Rage dan Membangun Sisterhood
Membedah fenomena pick me secara sosiologis bukan berarti kita membenarkan atau mengalihkan tanggung jawab atas tindakan merendahkan sesama perempuan. Namun, perspektif ini memberi kita sudut pandang yang lebih analitis dan empati: bahwa musuh utamanya bukanlah individu perempuan yang haus validasi tersebut, melainkan struktur sosial yang membuat mereka merasa harus menjatuhkan saudarinya demi bisa dihargai.
Daripada sekadar melabeli, mempermalukan, dan merundung mereka kembali di media sosial yang ironisnya justru makin mengekalkan siklus kebencian antar perempuan sudah saatnya kita membongkar akar masalahnya.
Sebab pada akhirnya, di dalam sistem yang patriarkis, tidak ada perempuan yang benar-benar terpilih (picked) sampai kita semua menolak untuk dimainkan oleh aturan main yang sama dan mulai membangun solidaritas perempuan (sisterhood) yang sesungguhnya.
