Konten dari Pengguna

Sering Dianggap Remeh, Ini Nilai Seru Gabung Karang Taruna!

Arum Sari

Arum Sari

Mahasiswa S1 pendidikan sosiologi universitas negeri Jakarta

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arum Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbagai program kerja yang telah kami jalani. Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Berbagai program kerja yang telah kami jalani. Dok. Istimewa

Kalau mendengar kata Karang Taruna, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu?

Sebagian besar orang mungkin langsung membayangkan sekelompok anak muda yang cuma kelihatan sibuk pas mau hajatan 17 Agustusan saja. Atau mungkin, anggapan kaku bahwa Karang Taruna itu cuma tempat kumpul-kumpul nggak jelas sambil ngopi di pos ronda. Secara definisi resmi, Karang Taruna memang wadah organisasi sosial tempat generasi muda di tingkat RT, RW, hingga desa untuk tumbuh dan berdampak buat lingkungan. Tapi jujur saja, stigma remeh itu sudah melekat sangat kuat di masyarakat.

Dulu, aku adalah salah satu orang yang punya pikiran kerdil seperti itu. Bagi anak muda seusiaku, gabung Karang Taruna rasanya sama sekali tidak keren, jujur lebih ke gengsi aja sih. Namun, sebuah keputusan kecil akhirnya membawaku masuk ke dalam lingkaran ini dan mengubah seluruh sudut pandangku.

Awal Mula Ikut-Ikutan, Canggung, Sampai Akhirnya Ketagihan

Perjalananku di Karang Taruna sebenarnya dimulai dari rasa penasaran yang dibungkus nekat. Suatu hari, aku memutuskan buat datang ke rapat perdana cuma dengan modal coba-coba. Tapi saat melangkahkan kaki masuk ke ruangan, ekspektasiku langsung hancur berkeping-keping. Bayangan bakal ketemu teman-teman sebaya yang relatable dan seru langsung sirna. Di sana, mayoritas anggotanya adalah orang-orang yang usianya jauh lebih dewasa dariku.

Jujur, di momen itu aku males banget. Bawaannya ingin cepat cepat pulang ke rumah. Rasa canggungnya luar biasa, bingung mau ngobrol apa, dan merasa salah kostum sekaligus salah tempat. Rasanya seperti anak kecil yang tiba-tiba nyasar di rapat bapak-bapak.

Tapi ternyata, meremehkan isi buku cuma dari sampulnya adalah kesalahan besarku.

Seiring berjalannya waktu, aku memberanikan diri untuk bertahan sebentar lagi. Dan di situlah keajaiban kecil itu terjadi. Rasa canggung yang awalnya menekan pelan-pelan mencair. Orang-orang dewasa yang tadinya aku kira bakal kaku, membosankan, atau galak, ternyata asyik, lucu, dan baiknya luar biasa! Mereka sama sekali tidak bersikap superior. Malah sebaliknya, mereka sangat merangkul dan tidak pelit membagi ilmu kepada anggota yang lebih muda.

Dari yang tadinya datang dengan keterpaksaan, aku malah berubah jadi orang yang paling antusias setiap kali ada jadwal kumpul.

Sosial Media Kami. Dok. Istimewa

Dari Bersih-Bersih Masjid Sampai Panggung 'Gebyar Nusantara'

Berproses di Karang Taruna bikin aku sadar bahwa berekspresi itu tidak ada batasnya. Kami mulai merancang dan mengeksekusi berbagai program kerja (proker). Mulai dari kegiatan sosial yang membumi seperti aksi bersih-bersih masjid, sampai memutar otak jualan kecil-kecilan demi menambah kas organisasi.

Namun, dari sekian banyak pengalaman, ada satu proker yang paling berkesan dan mengubah hidupku, yaitu Panggung Hiburan Rakyat bertajuk Gebyar Nusantara.

Menciptakan sebuah festival dari nol bukanlah hal yang mudah. Kami harus menyusun konsep, mengurus perizinan, mencari pengisi acara, hingga pontang-panting mencari sponsor. Tapi di panggung inilah kami menyalurkan seluruh kreativitas dan ide-ide liar kami tanpa batas.

Saat malam puncak acara tiba, lampu panggung menyala, musik bergema, dan ratusan warga berkumpul sambil tersenyum bahagia, ada luapan euphoria yang meledak di dalam dada. Rasa lelah berbulan-bulan langsung menguap begitu saja saat kami semua menikmati festival itu bersama-sama. Kebanggaan itu makin lengkap karena acara kami dianggap sukses besar, sampai akhirnya berhasil melahirkan kelanjutannya, Gebyar Nusantara Vol. 2!

Belajar Mengelola Drama, Miskomunikasi, dan Perbedaan Kepala

Apakah jalan yang kami tempuh selalu mulus tanpa hambatan? Tentu saja tidak. Justru di balik suksesnya panggung yang megah, ada lika-liku dan drama internal yang menguras emosi.

Kami berhadapan dengan masalah klasik organisasi salah satunya, sulitnya menyatukan waktu kumpul karena kesibukan masing-masing. Ada yang sibuk jadwal kuliah, ada yang ketat dengan jam kerja, dan ada yang urusan keluarga. Belum lagi bentrokan ide dan perbedaan pendapat saat rapat malam yang tak jarang bikin suasana hangat berubah jadi agak dingin.

Tapi di sinilah pendewasaan diri itu diuji. Karena kami sadar Karang Taruna adalah tempat belajar, kami tidak memilih untuk kabur atau membubarkan diri. Kami mencoba meredam ego masing-masing dan merapikan miskomunikasi itu secara pelan-pelan. Ya, namanya juga proses belajar, kan? Hehehe. Justru lewat drama-drama kecil itulah mental, kesabaran, dan kemampuan penyelesaian masalah kami makin terasah.

Benefit Nyata yang Tak Pernah Diajarkan di Bangku Sekolah

Pengalaman bertahun-tahun di Karang Taruna membukakan mataku bahwa benefit gabung di organisasi ini terlampau banyak dan sangat bernilai:

  • Sekolah Soft Skill yang Sesungguhnya: Kamu akan dilatih berbicara di depan orang banyak (public speaking), belajar bernegosiasi dengan tokoh masyarakat, hingga mengolah emosi saat menghadapi konflik secara gratis dan langsung di lapangan.

  • Portofolio Emas Buat Masa Depan: Mampu mengelola event skala besar seperti Gebyar Nusantara adalah pengalaman kepemimpinan dan manajemen proyek yang sangat mahal buat dijadikan batu lompatan untuk dunia dewasa nantinya.

  • Ruang Paling Bebas Buat Berekspresi: Tidak ada kurikulum kaku yang membatasi. Ide kreatifmu sejauh apa pun itu bisa didengar dan berpeluang besar untuk diwujudkan menjadi karya nyata.

  • Keluarga dan Networking Tanpa Batas: Kamu tidak hanya dapat teman seangkatan, tapi juga senior dan tokoh lokal yang ke depannya bisa jadi pintu rezeki, relasi, maupun tempat bertukar pikiran di luar organisasi.

Kenapa Kamu Harus Mulai Ambil Peran?

Coba deh sesekali kamu tengok ke belakang dan refleksi. Apakah masa mudamu saat ini cuma habis dipakai buat pola yang itu-itu saja? Bangun tidur, jalan ke kampus atau tempat kerja, kepikiran tugas dan tenggat waktu, pulang ke rumah, lalu membiarkan sisa harimu menguap begitu saja lewat scrolling media sosial sampai larut malam?

Jujur, pola hidup yang repetitif seperti itu sering banget bikin kita merasa hampa dan kehilangan arah. Kita merasa berkembang di akademis atau karier, tapi mati rasa secara sosial. Nah, Karang Taruna hadir justru sebagai kepingan puzzle yang selama ini mungkin hilang dari hidupmu.

Di sinilah kamu diajak buat keluar dari zona nyaman yang membosankan. Kamu tidak hanya diasah buat mengenali potensi dan bakat terpendam yang selama ini terendam ego, tetapi juga diajak belajar menumbuhkan empati. Kamu bakal belajar bagaimana rasanya peduli pada tetangga sebelah rumah, memahami kesulitan warga sekitar, dan punya keberanian buat berdiri paling depan saat lingkunganmu membutuhkan bantuan.

Lagipula, kapan lagi kamu punya panggung seluas ini di usia muda? Tempat di mana kamu bisa gagal tanpa harus takut dipecat, tempat kamu bisa mencoba ide gila tanpa takut dinilai buruk, dan tempat kamu belajar menjadi manusia seutuhnya yang tidak cuma hidup untuk diri sendiri. Kalau bukan sekarang saat energi dan idealismemu sedang membara, mau tunggu kapan lagi?

Jangan Pernah Menganggap Remeh Para Pemuda

Pada akhirnya, Karang Taruna bukanlah sekadar tempat kumpul-kumpul tanpa arah, dan jelas bukan sekadar 'organisasi pelengkap' yang cuma dicari saat kampung butuh panitia lomba. Lebih dari itu, Karang Taruna adalah kawah candradimuka sebuah laboratorium kehidupan yang nyata, tempat anak-anak muda menempa dirinya dari yang tadinya pemalu menjadi pemberani, dari yang tadinya acuh menjadi peduli, dan dari yang tadinya biasa saja menjadi pribadi yang tangguh.

Segala canggung di awal, obrolan seru di posko, peluh saat bersih-bersih masjid, sampai detak jantung yang berpacu di balik megahnya panggung Gebyar Nusantara, semuanya adalah sepaket memori mahal yang membentuk siapa diriku hari ini. Aku belajar bahwa kedewasaan itu tidak datang dari teori-teori di dalam buku, melainkan dari keberanian kita buat terjun langsung, bersentuhan dengan masyarakat, dan merawat perbedaan yang ada.

Jadi, buat kamu yang membaca tulisan ini dan masih memandang Karang Taruna sebelah mata, atau kamu yang sebenarnya tertarik tapi masih ragu buat melangkah, segera buang jauh-jauh stigma lama itu.

Coba buka pintumu, datangi kumpulannya, sapa teman-teman di sana, dan beranikan dirimu untuk ambil bagian. Rasakan sendiri hangatnya kebersamaan, serunya berproses, dan indahnya berekspresi di Karang Taruna daerahmu. Jangan pernah anggap remeh organisasi ini, karena di sinilah tempat sebenarnya cerita pendewasaan dan karya terhebatmu baru saja dimulai!