Konten dari Pengguna

Toxic Positivity dalam Konten Self Development: Ketika Motivasi Justru Membebani

Djazilah Arvan Fathurohman

Djazilah Arvan Fathurohman

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalitik UIN Sunan gunung Djati Bandung Semester 2

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Djazilah Arvan Fathurohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, saat di hadapkan dengan suatu masalah, curhat kepada seseorang, lalu dibalas dengan kalimat "gausah di pikirin, ambil baiknya aja" awalnya mungkin terasa menenangkan, tapi jutru itu semakin capek. seolah olah kita tidak boleh meluapkan permasalahan kita.

Dua mahasiswa yang sedang bertukar cerita permasalahan yang di hadapinya (Sumber : Djazilah Arvan Fathurohman)
zoom-in-whitePerbesar
Dua mahasiswa yang sedang bertukar cerita permasalahan yang di hadapinya (Sumber : Djazilah Arvan Fathurohman)

Di era sekarang ini, konten konten self development sering bermunculan di berbagai platform media sosial, Hampir setiap membuka aplikasi sosial media, kita dicekoki dengan motivasi super positif: bangun pagi jam 4, kerja keras non-stop, sampai afirmasi "positive vibes only" yang seolah jadi mantra wajib. Namun, di balik semua itu, ada sisi gelap yang disebut toxic positivity.

Toxic Positivy adalah sikap memaksakan untuk selalu berpikir positif dan berbahagia dalam keadaan apapun yang dan menolak atau mengabaikan emosi negatif, bahkan ketika sedang dihadapkan suatu permasalahan atau perasaan sedih, marah, atau kecewa. Berbeda dengan Positive thinking realistis yang mengarahkan kepada pendekatan yang menggabungkan optimisme dengan pemahaman yang akurat tentang kenyataan.

Sikap Toxic Positivy juga bisa berbahaya karena dapat menghambat proses penyembuhan emosional juga merugikan diri sendiri dan orang lain yang di sebabkan karena dapat mengurangi empati dan kepercayaan kepada orang lain.

Contoh dari sikap ini adalah salah satunya dengan meremehkan kesulitan orang lain. ketika seseorang berkeluh kesah akan permasalahan hidup yang berat, kemudian di tanggapi dengan “Orang lain banyak yang lebih susah dari kamu, kok.” Kalimat ini membuat orang itu merasa bersalah karena punya masalah, seolah-olah masalahnya dianggap tidak penting.

Ada banyak cara untuk menghadapi sikap ini, beberapa hal yang harus di perhatikan saat menghadapi toxic positivy, diantaranya :

  1. Menyadari bahwa emosi negatif itu adalah hal yang normatif

  2. Validasi akan diri sendiri

  3. Pilih lingkungan yang bisa membuat dirimu untuk memahami situasi dan juga berkembang

  4. Gunakan Positive thinking yang realistis

  5. Berani berbicara pada saat mendapatkan sikap toxic positivity

Self Development yang sehat bukan tentang soal "Sempurna", tapi paham akan situasi dan kondisi diri sendiri. sikap ini juga bisa di artikan sebagai upaya seseorang untuk bisa mengembangkan potensi diri, keterampilan, dan pengetahuan, guna meningkatkan kualitas hidup dan mencapai tujuan pribadi yang lebih baik secara sadar.

Di balik kalimat-kalimat manis "kamu pasti bisa", "semangat terus", "jangan menyerah", tersembunyi bahaya toxic positivity yang sering tak kita sadari. Mengembangkan diri bukan berarti mengabaikan kenyataan. Justru dengan menghadapi realita baik yang manis maupun yang pahit kita bisa benar-benar bertumbuh.

"Self development bukan tentang seberapa sering kita tersenyum, tapi seberapa berani kita menghadapi rasa takut dan kecewa untuk terus melangkah."