Fenomena Sosial Pocong, Budaya Mistifikasi dan Misteri ala Scooby-Doo

Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arya Wijaya Pramodha Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa pekan terakhir, santer di beberapa wilayah dindonesia diramaikan oleh kemunculan fenomena yang terdengar absurd, tetapi berhasil menciptakan keresahan nyata di tengah masyarakat. Video dan pesan berantai tentang sosok pocong yang mengetuk pintu rumah warga pada malam hari beredar luas melalui TikTok, Instagram, Facebook, hingga grup WhatsApp keluarga dan lingkungan RT.
Fenomena ini pertama kali ramai diperbincangkan setelah sejumlah video dari wilayah Tangerang viral di media sosial. Dalam video tersebut, sosok berpakaian putih menyerupai pocong terlihat berdiri di depan rumah warga atau muncul di gang-gang permukiman pada malam hari.
Tidak lama kemudian, narasi serupa muncul di berbagai daerah lain, mulai dari Bandung Barat, Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, hingga sejumlah wilayah di Jawa Timur. Meski lokasi dan detail ceritanya berbeda, pola yang muncul hampir sama. Warga mengaku mendengar ketukan pintu atau suara mencurigakan pada dini hari, lalu beredar kabar tentang sosok pocong yang berkeliaran di sekitar permukiman.
Penyebarannya berlangsung sangat cepat. Video dari satu daerah kerap dibagikan ulang dan diklaim sebagai kejadian di daerah lain. Akibatnya, kepanikan meluas jauh melampaui lokasi asal video tersebut. Di beberapa tempat, warga mulai meningkatkan ronda malam dan membatasi aktivitas di luar rumah pada malam hari. Rasa takut menyebar lebih cepat dibandingkan proses verifikasi fakta.
Namun ketika sejumlah kasus ditelusuri aparat, fakta yang ditemukan justru jauh dari unsur mistis. Salah satu kasus yang cukup menyita perhatian terjadi di Lamongan. Video yang memperlihatkan sosok pocong di sebuah gang sempit sempat membuat warga geger. Setelah dilakukan penelusuran, sosok tersebut ternyata diperankan oleh dua remaja yang mengaku membuat konten prank untuk media sosial. Mereka sengaja mengenakan kain putih dan merekam aksinya demi mendapatkan perhatian di internet.
Di Bandung Barat, polisi juga melakukan penyelidikan setelah muncul kabar tentang pocong yang disebut mengetuk rumah warga dan bahkan membawa senjata tajam. Hingga saat itu, aparat menyatakan belum menemukan bukti yang mengarah pada keberadaan makhluk gaib. Dugaan yang lebih masuk akal adalah adanya orang yang sengaja menggunakan kostum menyerupai pocong untuk menakut-nakuti masyarakat.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa yang sedang kita hadapi bukanlah fenomena supranatural, melainkan fenomena sosial. Yang bergerak dari satu daerah ke daerah lain bukan pocong, melainkan informasi, ketakutan, dan imajinasi kolektif yang dipercepat oleh media sosial.
Di sinilah ironi budaya populer itu muncul. Fenomena ini mengingatkan pada pola cerita klasik dalam kartun Scooby-Doo. Dalam hampir setiap episodenya, monster yang meneror sebuah kota selalu berakhir sebagai manusia biasa yang memakai kostum untuk menakut-nakuti orang lain. Di balik topeng hantu biasanya terdapat pelaku yang memiliki motif tertentu, mulai dari mencari keuntungan, menyembunyikan tindakan, hingga sekadar membuat kekacauan.
Kemiripannya dengan fenomena yang terjadi saat ini cukup mencolok. Sosok yang dianggap sebagai makhluk gaib berulang kali terbukti merupakan manusia biasa yang memanfaatkan simbol ketakutan untuk menciptakan efek psikologis yang besar. Yang membuatnya menarik adalah kenyataan bahwa trik sederhana seperti ini masih sangat efektif di tengah masyarakat yang hidup pada era internet, kecerdasan buatan, dan teknologi digital.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi "Apakah pocong itu nyata?" melainkan "Mengapa masyarakat begitu mudah mempercayainya?"
Jawabannya terletak pada budaya mistifikasi yang masih kuat dalam kehidupan sosial kita. Sejak kecil, banyak orang tumbuh dengan cerita tentang makhluk gaib yang diwariskan dari lingkungan keluarga maupun komunitas.
Sosok pocong bukan sekadar figur horor, melainkan juga simbol yang memiliki asosiasi kuat dengan kematian, dunia arwah, dan ketakutan kolektif. Ketika simbol itu muncul di ruang publik, respons emosional sering kali bekerja lebih cepat daripada penalaran rasional.
Akibatnya, logika sederhana sering kalah oleh sugesti. Pertanyaan seperti “Mengapa makhluk gaib harus mengetuk pintu rumah?” atau “Mengapa pocong harus berjalan dari kampung ke kampung?” tidak lagi menjadi fokus utama. Yang lebih dominan justru rasa takut yang telah tertanam dalam memori budaya masyarakat.
Dalam ilmu sosial, kondisi seperti ini dapat menghasilkan apa yang dikenal sebagai chilling effect. Istilah ini biasanya digunakan untuk menjelaskan situasi ketika rasa takut membuat seseorang mengurangi atau menghentikan suatu tindakan.
Dalam konteks fenomena pocong viral, ketakutan yang beredar melalui media sosial dapat membuat warga enggan keluar rumah, ragu memeriksa situasi di sekitar lingkungan, atau menjadi terlalu curiga terhadap keadaan di sekitarnya.
Ketika ketakutan kolektif berkembang tanpa verifikasi, yang muncul bukan kewaspadaan rasional, melainkan paranoia sosial. Lingkungan menjadi tegang. Informasi yang belum tentu benar diterima sebagai fakta. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat justru lebih mudah dikendalikan oleh rumor daripada oleh bukti.
Karena itu, persoalan utama dalam fenomena pocong gedor pintu bukanlah keberadaan makhluk gaib, melainkan kerentanan masyarakat terhadap penyebaran ketakutan. Kita hidup pada masa ketika sebuah video berdurasi beberapa detik dapat mengubah suasana satu kampung hanya dalam hitungan jam. Ketakutan tidak lagi menyebar dari mulut ke mulut, tetapi melalui algoritma yang mempercepat distribusi emosi secara massal.
Fenomena ini menjadi cermin yang memperlihatkan bahwa tantangan terbesar masyarakat modern bukan hanya hoaks politik atau disinformasi ekonomi, melainkan juga kemampuan membedakan antara fakta, sugesti, dan hiburan yang dikemas sebagai kenyataan.
Sudah saatnya masyarakat merespons fenomena seperti ini dengan sikap yang lebih rasional. Setiap informasi perlu diverifikasi. Setiap video perlu diperiksa konteksnya. Dan setiap klaim yang menimbulkan kepanikan perlu diuji dengan akal sehat sebelum dipercaya.
Sebab sejauh ini, yang berulang kali ditemukan di balik kain kafan itu bukanlah makhluk dari dunia lain, melainkan manusia biasa yang memanfaatkan ketakutan publik. Persis seperti akhir cerita dalam Scooby-Doo: monster yang tampak menakutkan ternyata hanyalah seseorang yang memakai kostum.
