Konten dari Pengguna

Briefing Sebagai Ruang Pencerahan

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Artikel.oscas.co.id
zoom-in-whitePerbesar
Artikel.oscas.co.id

Hampir setiap kali penulis melewati kantor yang bercat hijau, terlihat pimpinan dan karyawannya sedang melakukan briefing. Kantor bercat hijau itu terkenal dengan slogan “mengatasi masalah tanpa masalah.”

Dalam tataran praktiknya, kantor itu tidak hanya mengurai masalah ke luar, tetapi juga mengurai masalah ke dalam. Perilaku organisasi yang demikian penting dilakukan dan dijalankan oleh lembaga pendidikan.

Lembaga pendidikan yang menjalankan tidak hanya di lingkungan pendidikan sekolah, tetapi juga bisa dilakukan di lingkungan perguruan tinggi. Ini penting dilakukan, mengingat pagi-pagi jiwa tenaga pendidik dan kependidikan perlu mendapat spirit, asupan nutrisi ruhiah dan pencerahan jiwa.

Boleh jadi para pendidik dan kependidikan di rumahnya sudah memberi hak kepada fisiknya berupa sarapan. Sarapan yang diurai hanya untuk memenuhi dahaga haus dan memberi rasa kenyang kepada perutnya.

Namun, dahaga spirit dan spiritual sebagai ruang pencerahan belum banyak diperhatikan. Di lain pihak, ada pendidik dan tenaga kependidikan yang memperhatikan diri mereka untuk memberi asupan ruhiah di rumah masing-masing.

Namun, apakah semua pendidik dan tenaga kependidikan bisa seperti itu? Jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak. Bagi pendidik dan tenaga kependidikan yang sudah melakukan, alhamdulillah, jiwanya bisa tenang ketika berkendara di jalan.

Tapi jika tidak, sumpah serapah saat berkendara dan di lapangan media sosial sering kali terlihat. Ini menunjukkan sarapan fisiknya diperhatikan, namun sarapan ruhiahnya tidak diperhatikan. Wajar, ketika sedang berkendara, saat jiwa tidak terpenuhi, maka perkataan yang ada di kebun binatang bisa muncul semua ketika tersenggol antarpendara.

Atau ketika tidak tersenggol pun, berkendaranya urak-urakan, egois dan tidak memperhatikan keselamatan dirinya dan orang lain. Buktinya, di jalan dan di laman media sosial masih banyak terlihat fakta demikian. Padahal, yang urak-urakan itu, kendaraannya banyak yang bagus-bagus, tapi sayang, pikiran dan jiwanya tidak bagus.

Keadaan di atas ditambah dengan kondisi kemacetan di jalan raya. Kondisi macet bisa mengubah orang yang tadinya sabar menjadi tidak sabar. Fisiknya berkeringat. Bensin terbuang tanpa kendali. Jarak tempuh membutuhkan waktu tambahan. Dan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah kualitas hidup yang berkurang.

Logika sederhananya, jika jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja membutuhkan waktu satu jam, maka harus memberi tambahan waktu untuk kondisi macet. Macet tidak hanya berangkat, pulangnya pun macet. Akhirnya, kualitas hidup berkurang karena waktunya terpakai lama di jalan.

Di sinilah fungsi briefing harus didesain untuk memberi pencerahan jiwa. Briefing tidak hanya berupa instruksi, tetapi juga bisa memberi spirit kepada jiwa-jiwa pendidik dan tenaga kependidikan yang lelah dihantam suasana di perjalanan.

Ketika tiba di kantor, ekspresi jiwa kusut dan lelah segera tercium dari aura wajahnya. Untuk menjawab itu, pemimpin lembaga pendidikan mesti punya ide-ide cemerlang untuk mengobati kondisi pendidik dan tenaga kependidikan.

Salah satu idenya adalah briefing. Briefing jangan dimaknai sebagai instruksi teknis, namun lebih menguatkan dan memberi gairah kerja. Ucapan yang keluar dari mulut pemimpin lembaga pendidikan adalah ucapan yang memberi gairah kerja, mendorong untuk lebih maju dan bekerja dengan penuh integritas.

Di waktu briefing itu, tidak hanya monolog sebagai ruang mimbar pemimpin lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai ruang mimbar pendidik dan tenaga kependidikan untuk menyampaikan cerita-cerita indah kehidupannya.

Setiap pendidik dan tenaga kependidikan mendapat kesempatan untuk mengungkapkan cerita indah dan sulitnya kehidupan sebagai ruang reflektif untuk dirinya dan juga untuk semua hadirin yang hadir.

Sebagai pemimpin pendidikan, harus jeli melihat kondisi lingkungan pendidikan. Harus sering shopping ide dan shopping solusi agar lembaga pendidikan tidak hanya mendidik kepada mahasiswa, namun juga harus mendidik ke dalam.

Mendidik ke luar sudah maklum dan biasa dilakukan, namun mendidik ke dalam tidak bisa dipandang sebelah mata. Harus serius dan punya gairah untuk mendidik bawahannya melalui berbagai macam program.

Selesai breifing, pendidik dan tenaga kependidikan beranjak ke program berikutnya; mengaji dan shalat dhuha. Atau juga bisa dibalik, shalat dhuha dan mengaji lalu briefing. Secara teknis, tergantung situasi dan kondisi lapangan. Yang jelas, pagi sebelum mulai kerja; briefing termasuk di dalamnya ada cerita indah, cerita sulit, shalat dhuha dan membaca al-Quran.

Shalat dhuha dan membaca al-Qur’an sebagai pembentuk aura positif ketika briefing akan menaburkan suasana kedamaian dan rasa tenang. Briefing akan tenang dan damai karena suasana setelah salat secara psikologis bisa masuk ke dalam gelombang alfa.

Gelombang alfa inilah yang akan memberi angin segar berupa suasana kebatinan yang diliputi rasa damai dan tenang. Kondisi ini, cocok untuk segera dimulai briefing. Briefing akan berjalan dengan lancar, ucapan yang keluar dari mulut pemimpin dan pendidik pun akan terasa lebih nikmat. Karena jiwa orang yang sudah shalat dan membaca Al-Qur'an, bertaburan hikmah dan berkah untuk kehidupan pekerjaan di kantor atau di tempat kerja lainnya.

Selesai itu, kerja pun akan terasa menyenangkan. Kerja tidak akan menjadi beban, tetapi akan menjadi media pengabdian kepada Tuhan agar bisa berbuah menjadi ladang pahala untuk kehidupan abadi di akhirat kelak. Semoga bermanfaat.