Gempa dalam Kehidupan Sosial

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemarin, 14/12/2021, NTT diguncang gempa dengan kekuatan 7,5 magnitudo. Masyarakat kaget dan berhamburan menyelamatkan diri ke berbagai tempat. Gempa dengan kekuatan sebesar itu sudah mampu mendorong air laut ke permukaan.
Secara sains, gempa memang terjadi akibat gesekan antar lempeng Bumi. Bumi yang kita pijak ini setiap hari berputar dengan kecepatan tinggi. Manusia terlalu nyaman di dalamnya, sehingga Bumi berputar dengan dua kali kecepatan rata-rata pesawat terbang tidak terasa apa-apa.
Gesekan dan tubrukan antar lempeng itu menjadikan dunia ini goyang dan air laut pasang. Dalam konteks kehidupan sosial, gempa tidak hanya dimiliki oleh gerak antar lempeng Bumi saja, tetapi gempa kontekstual dalam kehidupan sehari-hari pun selalu menghiasi detak langkah kehidupan manusia.
Gempa Kontekstual
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya bergaul dengan sesama anggota keluarga, tetapi juga bergaul dengan berbagai elemen masyarakat. Di masyarakat pergaulan mendapat tempat berharga. Manusia modern yang tidak lepas dari pergaulan maya dan nyata, kini tidak bisa bergaul dengan leluasa karena di tangannya ada gadget.
Di genggamannya terdapat layar kaca yang lebih menarik untuk dijadikan partner. Sebaliknya, rekan dalam dunia nyata menjadi terasing dan terpinggirkan keberadaannya. Perlakuan ini lambat laun mendarah daging dalam setiap detak kehidupan manusia. Akhirnya, menjadi habit dan tradisi yang tidak dapat ditinggalkan.
Tradisi ramai sendiri di tengah kehidupan ramai secara real menjadi terpinggirkan. Lama-kelamaan, tradisi itu seperti menjadi duri dalam dunia sosial. Sedangkan manusia sebagai makhluk sosial sudah didesain oleh Tuhan sebagai makhluk yang mengharuskan berbagi dengan dunia sosial.
Contoh kasat mata, hampir setiap manusia yang lahir sudah bisa dipastikan menangis. Menangis secara medis adalah hal normal yang diharapkan dari seorang bayi. Pada sisi lain, bayi menangis justru sebagai bentuk komunikasi dengan lingkungannya. Selama dalam kandungan bayi secara internal hanya berkomunikasi dengan Sang Ibu dan Tuhannya.
Tetapi ketika lahir, ia komunikasi dengan alam lingkungannya. Manusia yang ramai sendiri, maka sebenarnya ia sedang menyiapkan gempa spritual, moral-emosional, dan juga gempa sosial kemasyarakatan.
Manusia yang terasing dari dunia ramai, sebenarnya sedang menuju gempa kemasyarakatan. Manusia normalnya bersosialisasi dengan sesama manusia yang menjadi partnernya. Saat lepas dari sosialisasi dengan masyarakat, maka ia sedang menyiapkan dirinya menghadapi gempa kesunyian batin.
Apalagi manusia modern, setiap harinya sibuk dengan dunia kerja. Berangkat pagi pulang malam tanpa menyempatkan waktu untuk bersosialisasi dengan masyarakat, maka kehidupannya siap-siap mengalami kekeringan sosial. Belum lagi ditambah dengan jarangnya menghadiri acara-acara keagamaan yang mampu merekatkan hubungan manusia dengan Tuhannya, maka kesiagaan menghadapi gempa spritual sudah di ambang pintu.
Wajar jika weekend tiba, jalan-jalan protokol mengalami kemacetan yang luar biasa. Secara pribadi, mereka sedang mengalami gempa spritual berupa ketidaktenangan dan mencari kebahagian sesaat. Setelah liburan selesai, batin kembali gelisah dan kehidupan menjadi tidak karuan.
Kenapa demikian? Karena hiburan yang dicari hanya menyentuk aspek fisik, bukan aspek batin. Di sinilah perlu keseimbangan piknik jasmani dan piknik rohani. Piknik jasmani bisa diselesaikan dengan pergi ke tempat-tempat wisata, dan lainnya sebagainya. Sementara piknik batin pergi ke majelis ilmu yang di dalamnya terdapat guru yang mengarahkan manusia ke jalan ridho-Nya.
Ini yang jarang disadari oleh sebagian besar manusia modern. Manusia modern hanya sibuk aspek lahiriahnya saja, sementara aspek batiniahnya tidak terpenuhi. Ini menjadi pincang, rentan kehilangan jati diri manusia sebagai makhluk yang merindukan kedamaian.
Baru-baru ini kita dikagetkan dengan adanya seorang guru yang mencabuli muridnya sendiri. korbannya tidak tanggung-tanggung sampai belasan orang. Bahkan melahirkan anak dari hasil perbuatan cabulnya itu. Tentu ini menjadi petaka untuk dunia pendidikan. Inilah gempa moral, menghentak kewarasan manusia sebagai makhluk sosial yang beragama.
Gempa moral ini telah membuat gaduh dunia maya. Sedangkan dunia maya, sangat gandrung menjadi sahabatnya manusia digital yang setiap harinya tidak lepas dari dunia gadget. Sehingga, berita yang viral menjadi pusat perhatian masyarakat.
Kemudian, berita ini dikonsumsi oleh anak-anak muda. Pertanyaannya, bagaimana kalau perilaku guru cabul tersebut menjadi bahan inspirasi bagi anak-anak muda lainnya. Meskipun bagi orang dewasa kejadian tersebut menjadi bahan pelajaran agar tidak punya perilaku seperti guru tersebut.
Dan tidak menutup kemungkinan bagi orang dewasa pun bisa menjadi inspirasi sebagai pendorong perilaku negatif. Jadilah contoh buruk untuk masyarakat. Maka, sudah sepatutnya bagi para pengguna media sosial untuk memberikan teladan positif agar tidak terjadi gempa moral.
Imbasnya, kasian kepada lembaga-lembaga pendidikan yang terkerdilkan peran dan fungsinya di mata masyarakat. Di sisi lain, dengan adanya kejadian guru cabul tersebut lembaga pendidikan menjadi lebih selektif merekrut guru dan sebagai bahai evaluasi untuk merancang sistem pendidikan yang mampu mendidik muridnya, juga mendidik guru-gurunya.
Semoga dengan adanya gempa sepritual dan gempa moral berbagai elemen masyarakat mampu bahu membahu kembali membangun peradaban akhlak yang mewarnai kehidupan sosial dalam setiap detak langkahnya. Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Tangerang.
