Konten dari Pengguna

Menata Kembali Persiapan Anak Sekolah

Asep Abdurrohman

Asep Abdurrohman

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

eraspace.com
zoom-in-whitePerbesar
eraspace.com

Hari ini tepat menunjukkan tanggal 14 Juli 2025. Tiba waktunya anak-anak masuk kembali ke sekolah setelah liburan panjang hampir tiga pakan lamanya. Satu hari sebelum masuk sekolah atau bahkan beberapa hari sebelum itu, anak sekolah sudah mulai mempersiapkan diri.

Baik persiapan dari segi mental atau persiapan dari segi segala kebutuhan yang terkait sekolah. Persiapan sekolah yang berupa perlengkapan dapat disiapkan jauh-jauh hari oleh siswa, meskipun di lapangan yang cukup sibuk mempersiapkan adalah ibunya. Anaknya hanya sesekali membantu. Maklum anak usia SD masih perlu dikawal oleh ibunya.

Persiapan perlengkapan sekolah untuk kebutuhan anak dapat dibantu dengan benar-benar dalam kondisi berwujud nyata. Namun, persiapan mental perlu benar-benar dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan sebelum perlengkapan sekolah diadakan.

Banyak yang tidak peduli di anta orang tua siswa, untuk sekedar menyiapkan perlengkapan masih perlu dibantu uluran tangan orang tua. Yang perlu dipikirkan adalah akibat ke depannya untuk sang anak.

Kebutuhan anak yang disering ditangani langsung oleh orang tuanya tanpa melibatkan anak secara langsung, justru akan menjadi PR mental bagi sang anak. Belum lagi beban psikologis bagi anak yang terbiasa segala sesuatunya disiapkan oleh ibunya.

Tidak ada salahnya anak sudah mulai dirancang untuk mempersiapkan segala kebutuhan dirinya, tentu dengan kontrol dan pengawasan dari orang tua.

Sebelum masuk ke pembiasaan mempersiapkan kebutuhan sekolah, terlebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari anak diminta untuk punya sikap tanggung jawab dalam menata kehidupannya.

Mulai dari merapikan tempat tidur, mandi sendiri, menyimpan handuk basah di jemuran, menyiapkan seragam sekolah, menyiapkan bekal makanan, menyiapkan buku sekolah, mencuci piring bekas makan, dan lain sebagainya.

Untuk kewajiban yang menyangkut dirinya dengan Tuhannya, sang anak harus diberikan tanggung jawab mengenai waktu ibadah.

Setiap hari anak diingatkan dengan kewajibannya melaksanakan shalat. Pertama kali barang kali cukup berat bagi sang anak, namun setelah terbiasa akan mudah dan enteng bagi anak.

Tanggung jawab kepada Tuhannya harus benar-benar ditekankan oleh orang tua. Penekanan ini semata-mata dalam rangka meneguhkan fitrah keagamaan anak.

Fitrah sang anak tidak lain menjalankan kewajiban shalat sejak dini. Dari kewajiban inilah anak akan tertata waktunya. Anak yang memperhatikan waktu shalat, maka anak itu akan teratur hidupnya. Memilah, mana waktu untuk kewajiban dirinya dengan Tuhannya dan mana kewajiban dirinya terhadap kebutuhan dirinya sendiri.

Setelah kewajiban dirinya sendiri selesai, baru kemudian untuk memperhatikan sesama yang terdapat di lingkungannya. Baik lingkungan rumah, sekolah atau masyarakat.

Jika kondisi ini dibawa ke persiapan sekolah, bukan tidak mungkin anak akan bertanya apa yang saya harus siapkan untuk menyambut datang hari pertama sekolah?

Untuk menyambut hari pertama sekolah, anak yang sudah libur tiga pekan lamanya, tentu perlu dipersiapkan psikologinya bahwa besok ia benar-benar akan masuk sekolah. Satu hari sebelum masuk sekolah, alarm yang berbau untuk meningkatkan semangat belajar perlu dibangkitkan.

Umpamanya, sang anak di malam harinya sudah mulai membuka-buka buku. Membuka buku ini tidak semata-mata membuka, namun sebagai bentuk pemanasan untuk hari pertama sekolah penuh semangat.

Memang sih, membuka buku idealnya langsung dibaca. Namun anak di luar sana membutuhkan loading yang waktunya tidak sama antara anak satu dengan anak lainnya.

Membuka buku ibaratnya sebagai bentuk mengingat kembali bahwa sang anak punya kewajiban untuk belajar, meski belajar tidak harus membuka buku. Tetapi paling tidak dengan membuka buku anak bisa menatap huruf dan menggali ilmu dari buku tersebut.

Setelah membuka buku sekaligus di masukan ke dalam tas, menengok persiapan lain yang harus segera dipersiapkan, yaitu seragam sekolah untuk besoknya. Terlebih seragam sekolah yang belum disetrika malam hari segera dirapihkan.

Merapihkan seragam pun buka semata-mata merapihkan benda mati yang tidak artinya. Secara psikologi merapihkan seragam yang akan dipakai besok hari adalah seperti merapihkan diri untuk mempersiapkan masa depan.

Masa depan perlu dipersiapkan oleh anak dengan cara bertanggung jawab untuk mengawali sekolah dengan penuh persiapan. Inilah agama Islam, yang sejak bangun pagi diminta untuk mempersiapkan agenda.

Tidak tanggung-tanggung agenda itu dibawa melalui pelaksanaan shalat shubuh. Di dalamnya anak berdoa agar sekolahnya hari itu diberikan kelancaran dan juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah untuk masa depannya. Semoga bermanfaat.