PJJ Jilid 2: Peluang, Tantangan dan Solusi (1)

Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesiaku kini sedang menghadapi ujian cukup serius. Imbas perkataan dari salah satu pejabat di negeri ini yang tidak terkontrol dengan baik, pada akhirnya berdampak pada demo besar-besar di berbagai kota yang cukup serius.
Salah satu dampak demo dalam konteks pendidikan adalah menyebabkan dialihkannya pembelajaran dari tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), seperti yang sudah diumumkan oleh pemerintah Kabupaten Tangerang melalui surat edaran dari Dinas Pendidikannya.
PJJ bagi pendidikan ibaratnya pisau bermata dua. Satu sisi sebagai alternatif agar peserta didik tetap mendapatkan haknya untuk belajar, namun dalam konteks lain apakah semua anak didik sudah siap, baik persiapan budaya, psikologi, mental, sarana prasarana ataupun pendampingan belajar dari pihak keluarga?
Persiapan budaya misalnya, memerlukan usaha yang serius dari pihak keluarga dan pemerintah. Anggota keluarga yang mana yang siap kembali mengubah tradisi belajar anak dari tatap muka ke PJJ. Wajar nanti akan timbul shock culture.
Seperti yang sudah terjadi ketika Covid-19 melanda dunia empat tahun silam, PJJ sangat berat dijalankan. Ini karena kebiasaan belajar di sekolah lengkap dengan teman-teman dan gurunya, tiba-tiba harus beralih ke rumah yang pendamping belajarnya belum dipastikan siap atau tidak siapnya?
Tidak mudah memang mengalihkan tradisi belajar tatap muka yang mengakar sejak lama itu tiba-tiba harus beralih ke PJJ. Apalagi, di masa Covid-19 belajarnya dialihkan ke online melalui zoom meeting dan lain sebagainya.
Ini menjadi barang aneh dan tidak sedikit pendidik di sekolah atau di perguruan tinggi gagap dalam menghadapi tradisi baru itu. Tapi itulah faktanya. Fakta itu menjadi guru sejati untuk menggembleng manusia agar tahan banting.
Dari masalah yang ada di hadapan kita hari ini, kita bisa belajar dengan penuh kesadaran bahwa kegiatan belajar mengajar dalam kondisi tidak normal itu harus benar-benar dihadapi dengan hati dan pikiran terbuka.
Di dunia ini hampir tidak ada orang yang ingin maju dalam kehidupannya tanpa ada ujian dan cobaan hidup. Ujian dan cobaan itu harus menjadi daya lenting untuk menjadikan diri kita lebih hebat lagi.
Persoalannya adalah anak-anak sekolah itu tidak hanya SMP dan SMA, namun ada PAUD, TK, dan SD. Apakah anak didik yang di PAUD, TK dan SD sudah memahami fakta hari ini? Jawabannya sudah barang tentu jauh dari yang diharapkan.
Oleh karena itu, sebelum lebih jauh membicarakan masalah belajar di rumah perlu adanya persiapan. Baik persiapan budaya baru, mental dan lain sebagainya. Persiapan budaya baru inilah perlu mendapatkan perhatian penting dari pemerintah, lembaga pendidikan dan keluarga.
Sedangkan keluarga yang menjadi ujung tombak pendamping anak didik belajar, apakah sudah siap menerima budaya baru ini? Tentu tidak mudah bagi keluarga, di tengah-tengah harus mencari nafkah untuk keluarga sambil mendampingi anak-anak belajar.
Jangankan sambil mencari nafkah dan mendampingi anak belajar, orang tua yang sudah berjalan kerja dan anak-anak belajar normal di sekolah pun cukup kerepotan mendampingi anak ketika mengerjakan PR di rumah. Apalagi harus membagi waktu antara kerja dan mendampingi anak belajar di rumah, bisa-bisa masalah baru akan segera datang kembali.
Oleh karena itu, mari kita buka mata dan hati agar masalah ini berhasil dilalui oleh kita semua dengan cara pikiran terbuka dan hati yang lapang serta mengadukan semua masalah ini kepada yang punya langit dan Bumi.
Suka tidak suka. Ngerti tidak mengerti. Masalah budaya baru ini haru dihadapi pikiran jernih dan hati terbuka. Budaya baru kita jadikan sebagai media untuk mengindahkan kehidupan. Kehidupan itu tidak seru, jika hanya itu-itu saja budayanya.
Anggap saja budaya baru anak-anak belajar di rumah itu sebagai media untuk mendidik ayah, ibu, kakek, nenek, paman, om, tante dan keponakan agar menjadi orang yang selalu membelajarkan diri.
Belajar tidak harus melalui pendidikan formal dan non formal, melalui pendidikan informal pun yang ada masalah di keluarga bisa menjadi media untuk meningkatkan kapasitas diri, agar lebih mengerti bahwa hidup itu banyak dinamika yang harus dilalui dengan penuh kesadaran.
Tetapi tidak boleh lupa minta kepada Allah dalam salat kita, agar budaya baru yang sedang dihadapi ini diberikan petunjuk dan hidayah oleh Allah melalui salat yang sebenar-benarnya salat.
Bukan salat yang hanya sekadar menggugurkan kewajiban, namun salat yang bisa menjawab segala permasalahan kehidupan, termasuk budaya baru berupa anak-anak kembali belajar di rumah. Semoga bermanfaat.
