Konten dari Pengguna

SMK di Tengah Gelombang PHK

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Totoh Widjaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi PHK. Foto: khak/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi PHK. Foto: khak/Shutterstock

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di berbagai kawasan industri Jawa Barat bukan hanya persoalan buruh dan perusahaan. Di balik setiap pekerja yang kehilangan pekerjaan, ada keluarga yang harus mengatur ulang pengeluaran, menunda rencana, bahkan mencemaskan biaya pendidikan anak-anaknya.

Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Ketika para pekerja kehilangan pekerjaan, setiap tahun ribuan lulusan baru SMK juga datang mengetuk pintu perusahaan yang sama. Mereka membawa ijazah, keterampilan, dan harapan untuk segera bekerja.

Pertanyaannya, ke mana mereka akan melangkah ketika dunia industri justru sedang melakukan efisiensi?

Pertanyaan ini penting bagi Jawa Barat. Provinsi ini merupakan salah satu pusat industri nasional sekaligus memiliki ekosistem pendidikan vokasi yang sangat besar. Kawasan industri membentang dari Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Bandung Raya, hingga wilayah lain dengan karakter ekonomi yang beragam.

Selama puluhan tahun, kedekatan antara SMK dan industri menjadi sebuah kekuatan. Alasan masyarakat memilih SMK dengan harapan yang sangat sederhana: anaknya memiliki keterampilan, cepat bekerja, mandiri, dan membantu ekonomi keluarga.

Harapan itu tentu masih relevan. Namun, dunia tempat para lulusan mencari pekerjaan sedang berubah cepat.

Otomasi, robotika, kecerdasan artifisial, digitalisasi produksi, perubahan rantai pasok, dan tekanan efisiensi mengubah cara perusahaan beroperasi. Sebagian pekerjaan rutin mulai berkurang. Pada saat yang sama, muncul kebutuhan terhadap keterampilan baru yang sebelumnya belum banyak dikenal.

Masalahnya, perubahan di industri sering kali lebih cepat daripada perubahan di ruang kelas.

Masih ada kesenjangan antara alat praktik di sekolah dengan teknologi di industri. Praktik kerja lapangan belum semuanya memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Kerja sama sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri juga terkadang lebih kuat dalam seremoni penandatanganan nota kesepahaman daripada dalam perubahan proses pembelajaran.

Akibatnya muncul paradoks. Industri membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu, sementara sebagian lulusan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Sekolah merasa telah mendidik siswa untuk siap kerja, tetapi pasar kerja berubah lebih cepat daripada kemampuan pendidikan untuk menyesuaikan diri.

Gelombang PHK seharusnya menjadi momentum untuk meninjau kembali makna “siap kerja” dalam pendidikan vokasi.

Selama ini, siap kerja sering dipahami sebagai kemampuan menguasai keterampilan teknis tertentu agar lulusan dapat segera masuk ke perusahaan. Konsep tersebut tidak salah, tetapi kini tidak lagi cukup.

Di tengah perubahan industri, siap kerja harus berarti siap menghadapi perubahan kerja.

Seorang lulusan SMK tidak cukup hanya mampu mengoperasikan satu jenis mesin. Ia juga perlu memahami teknologi digital, mampu memecahkan masalah, bekerja dalam tim, berkomunikasi, membaca data, menjaga kualitas, dan terus mempelajari keterampilan baru.

Artinya, masa depan SMK tidak boleh hanya bergantung pada seberapa banyak lowongan pekerjaan yang tersedia. Pendidikan vokasi harus mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja yang semakin tidak pasti.

Link, Match, and Create.

Di sinilah paradigma link and match perlu diperluas menjadi Link, Match, and Create. Link berarti sekolah benar-benar terhubung dengan perubahan dunia industri. Hubungan itu tidak boleh berhenti pada kunjungan industri, magang, atau penandatanganan kerja sama. Industri perlu terlibat dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis proyek, peningkatan kompetensi guru, asesmen, hingga sertifikasi kompetensi siswa.

Match berarti kompetensi yang dipelajari siswa sesuai dengan kebutuhan nyata dunia kerja dan potensi ekonomi wilayah. SMK di kawasan industri manufaktur tentu membutuhkan orientasi kompetensi yang berbeda dengan SMK di wilayah pertanian, pariwisata, perdagangan, atau ekonomi kreatif.

Karena itu, Jawa Barat membutuhkan peta kebutuhan keterampilan yang lebih dinamis. Sekolah dan keluarga perlu mengetahui sektor mana yang sedang tumbuh, jenis pekerjaan apa yang mulai berkurang, serta kompetensi baru apa yang akan dibutuhkan.

Namun, Link dan Match saja belum cukup. Kita membutuhkan Create.

Create berarti pendidikan vokasi harus melahirkan generasi yang mampu menciptakan nilai, solusi, produk, jasa, dan peluang usaha. Lulusan SMK harus memiliki pilihan lebih luas daripada sekadar mengirimkan lamaran pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya.

Karena itu, kewirausahaan di SMK tidak boleh berhenti sebagai mata pelajaran di dalam kelas. Siswa harus mengalami proses nyata menemukan masalah, membaca peluang, menciptakan produk, menguji pasar, menggunakan teknologi digital, membangun merek, mengelola keuangan, hingga menawarkan produknya kepada konsumen.

Jawa Barat juga perlu mulai memikirkan peran baru SMK sebagai pusat reskilling dan upskilling masyarakat.

Sekolah memiliki bengkel, laboratorium, studio, guru produktif, serta jejaring industri. Mengapa sumber daya tersebut hanya digunakan untuk siswa reguler? SMK yang memiliki kapasitas dapat dikembangkan sebagai pusat pelatihan singkat bagi alumni, pekerja muda, pelaku UMKM, bahkan pekerja terdampak PHK.

Dengan cara itu, SMK tidak hanya menjadi tempat pendidikan sebelum seseorang bekerja, tetapi juga tempat seseorang kembali belajar ketika pekerjaannya berubah.

Inilah redefinisi yang dibutuhkan pendidikan vokasi Jawa Barat.

Gelombang PHK memang harus dijawab dengan perlindungan pekerja, penciptaan lapangan kerja, investasi, dan kebijakan ekonomi yang tepat. Namun, dalam jangka panjang, ketahanan tenaga kerja juga ditentukan oleh kemampuan pendidikan dalam membangun manusia yang adaptif.

Jawa Barat memiliki modal besar untuk melakukannya. Ada basis industri yang kuat, generasi muda yang besar, jaringan SMK yang luas, perguruan tinggi, komunitas usaha, UMKM, dan ekonomi kreatif.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menghubungkan seluruh kekuatan tersebut menjadi satu ekosistem.

Jangan sampai Jawa Barat menjadi tempat berdirinya pabrik-pabrik modern, tetapi generasi mudanya justru menjadi penonton perubahan.

SMK harus tetap menjadi jalan menuju dunia kerja. Namun, di tengah gelombang PHK dan perubahan industri, tugasnya kini jauh lebih besar: menyiapkan generasi yang mampu bekerja, belajar kembali, beradaptasi, berinovasi, dan menciptakan peluang.

Sebab, ketika industri berubah, sekolah tidak boleh berjalan dengan cara lama.