Birrul Walidain

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
KISAH inspiratif ini yang selalu mengingatkan bagaimana hebatnya orang tua dalam kesuksesan seseorang. “Tidak ada Kesuksesan Tanpa Kerja Keras, Tidak ada Kesuksesan Tanpa Perjuangan dan Tidak Ada Kesuksesan Tanpa Ada Dorongan Doa Dari Kedua Orang tua.” Sambutannya dan pesan hebat yang disampaikan dan diingatkan di depan para wisudawan di salah satu Universitas ternama oleh Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd.
Beliau mengatakan pada para wisudawan; Pada hari ini silahkan anda ucapkan selamat dan mintalah maaf kepada orang-orang tercinta yang berkontribusi pada kesuksesan pendidikan kita. Hati-hati memperlakukan kedua orang tua, saya tahu di sini ada Master Hukum, ada Master Manajemen, ada banyak prodi dan memiliki tata kelola yang baik maka itu salah satunya didukung oleh perilaku anda saat lulus.
Pada saat anda berinteraksi dengan kedua orang tua jangan menggunakan pasal hukum. Pada saat ibu mengatakan “saya mau ketemu, kamu pulang” maka anda akan mengatakan “Mah tidak boleh memaksa karena ada pasal hukumnya.” tuturnya Ga ada itu, tidak berlaku pada kedua orang tua kita. Pada saat anda diminta untuk membantu kedua orang tua, anda jangan menggunakan manajemen efektif. Tidak ada manajemen dalam hubungan orang tua kecuali penghargaan, penghormatan dan tempatkan dia di tempat paling sempurna sebagai orang tua.
Beliau kemudian menuturkan kembali ingin mengulang dengan cerita lama tetapi ternyata ini menjadi sebuah inspirasi bagi kita. “Mohon maaf Saya pernah menjadi seorang pejabat. Pada saat saya sedang rapat, saya ditelepon oleh keponakannya dan menyatakan jika ibunya sedang sakit. Kemudian beliau balas telepon tersebut dengan ungkapan yang agak sedikit sombong..Is tolong cepat bawa ke dokter dan nanti uangnya akan saya transfer.
Ternyata ibu dari kajauhan menjawab kalimat saya dengan sebuah kalimat tegas “Ga usah transfer yang penting kita bisa ketemu”. Kalau ibu sudah mengatakan yang penting ketemu maka jabatan itu tidak ada dan rapat itu tidak ada. Boleh saya katakan kalau saya sudah dipanggil ibu dan bapak, tidak ada yang bisa menolak panggilan siapapun termasuk atasan saya kalau itu ibu dan bapak yang memanggil. Karena saya yakin kalaupun saya bisa memberikan sebuah alasan..Pak mohon maaf ibu saya dalam keadaan sakit maka atasan saya akan memamahi semua karena mereka pernah dibesarkan dan memiliki rasa hormat kepada kedua orang tua.
Pukul setengah sembilan malam beliau pulang, beliau menyatakan beliau terlahir di sebuah kampung yang lebih kampung dari para wisudawan dan tamu yang hadir. Beliau dilahirkan tidak dilahirkan di tengah kota tapi dilahirkan di kaki gunung papandayan yang terkenal sebagai objek wisata kawahnya.
Sekitar tiga jam perjalanan menuju rumah dan setengah 12 malam sampai di rumah, ibunya terlihat segar bugar. Tetapi beliau tidak menunjukkan perasaan syuudhon kepada ibu, karena di situ ada hikmah. Bagi seorang ibu dan bapak dalam keadaan sakit, kemudian mereka menunggu kedatangan anaknya terkasih dan tersayang. Pada saat dia bertemu maka kehadirannya lebih mujarab dari obat yang diberikan dokter.
Tuturnya.. ibunya tidak hanya terlihat segar bugar tetapi juga memperhatikan makanan kesukaan anaknya, saya dimasakkan sayur kacang merah, saya dogorengkan asin peda, saya dibuatkan samabal terasi dan saya juga dibakarkan pete.
Setengah 12 malam coba bayangkan ada nasi putih, sayur kacang merah, goreng asin peda, sambal terasi dan pete bakar. Setengah 12 malam disuguhi masakan itu maka tidak ada kalimat yang diucapkan bagi ibu selain ucapan terima kasih. Padahal saya tidak biasa makan malam kecuali makan nasi di waktu malam, ya saya makan.
Saya tidak pernah mengatakan mamah ngapain masak, kan paling tidak kata dokter tiga jam sebelum tidur boleh makan..ini mau tidur setengah 12 malam ngapain masak, bagaimana perasaan seorang ibu pada saat seorang anak yang dia tunggu, yang dia masakan kemudian anak berargumentasi dengan sebuah ilmu ketika ibu tidak paham dengan ilmu itu..MENYAKITKAN..Ya.
Saya makan, mudah-mudahan ini menjadi obat. Begitu saya lirik dari sudut mata saya, ibu kelihatan bahagia kenapa karena makanan yang dia pasak betul-betul dimakan oleh anaknya. Begitu selesai makan saya mengatakan kepada ibu, mah mohon maaf ini makanan sangat enak terima kasih tapi mohon maaf besok tidak akan pulang siang karena ada pekerjaan yang tersisa kemungkinan saya pulang sebelum salat shubuh. Ibu sangat bijak mengatakan, engga apa-apa yang penting kita sudah ketemu..sok istirahat, saya sambil dituntun, saya dibawa ke kamar lalu saya diselimutin, ibu lupa kalau anaknya seorang profesor.
Itulah ibu, jadi anda..mohon maaf apa ya Ahli Madya, mau di selimutin..eh ngapain ini baru diwisuda. Ada yang lebih tinggi lagi, masa mah diselimutin ini kan sarjana. Ga ada di depan orang tua itu jangankan Ahli Madya, Sarjana, Master, Doktor, Seorang Profesor di hadapan ibu dan bapak tetap kita adalah seorang anak yang perlu menghormati orang tua.
Yang paling indah dan paling membuat saya terharu, pada pukul 3 saya bangun ternyata ibu sudah berdiri di samping saya sambil menepuk bahu saya. Cepat kamu bangun, jangan lupakan sholat sepertiga malam terakhir. Kenapa? Kamu bisa mendapatkan yang semua ini, bukan karena kepintaran kamu, jangan-jangan bukan karena kecerdasan kamu, mungkin keberuntungan doa kita dikabulkan oleh Allah swt. Jadi ibu masih khawatir tentang anaknya, ibu khawatir anaknya merasa pintar sehingga pintar menjadi sebuah kesombongan. Ibu khawatir anaknya merasa cerdas sehingga cerdas menjadi sebuah kesombongan bahkan melupakan siapa yang menentukan takdir segalanya didalam kehidupan kita.
Dari penggalan sambutan tersebut, kita bisa mengambil hikmah yaitu fakta tak dapat dimungkiri, kenyataan tak dapat terbantahkan, realitas obyektif telah membuktikan bahwa kisah sukses orang-orang besar tak lepas dari bakti mereka kepada kedua orang tuanya, serta dukungan dan doa orang tua yang tak kenal lelah.
Tengok lagi kisah Khalid Bin Walid, Abu Hurairah, Imam Syafi’I, serta tokoh-tokoh kontemporer dan muslim sukses abad ini tidak terlepas dari The Great Power of Parents. Kisah tersebut sangat relevan dengan ajaran Islam, Suatu saat Rasulullah SAW pernah ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah).
Senyatanya jika kisah suskses orang-orang hebat sebagaimana dicontohkan di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu memberikan baktinya kepada orang tua. Selain itu pula, adalah mereka yang mampu menggali potensi dahsyat dari rumahnya, dari orang tuanya. Orang tua adalah madrasah sebelum madrasah lainnya. Merekalah adalah Sekolah sebelum sekolah lainnya.
Birrul walidain sejatinya menjadi wujud ketaatan dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila posisi kita kepada Allah dan Rasul-Nya di puncak ketaatan, maka berbakti kepada kedua orang tua adalah ekspresi cinta itu sendiri. Cinta kepada Allah memberikan inspirasi untuk menaati segala yang diperintahkan-Nya termasuk berbakti kepada kedua orang tua.
Birrul Walidain sesungguhnya bukan hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban. Akan tetapi dapat dimaknai lebih dahsyat yakni sebagai ekspresi keimanan, bukti kecintaan, wujud ketaatan, investasi masa depan, perencanaan reuni abadi di surga penuh kebahagiaan. Karena itulah, berbakti kepada orang tua harus terus dilakukan baik ketika masih hidup maupun setelah tiada. Dan dari bakti sejati inilah akan kita dapatkan doa yang mustajabah dan ridha yang mengiringi langkah. Sebab, berbakti kepada orang tua itulah yang mengantarkan kepada rida Allah.
Bukankah Rasulullah pernah bersabda “Ridhallahi fi ridhal walidain” (Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua). Maka jika ada anak yang terperosok ke dalam lubang kehancuran, itu karena menyia-nyiakan orang tuanya. Sementara ada anak yang mendulang kesuksesan dan kebahagiaan hidup itu karena memuliakan orang tuanya.
Alhasil, jika perintah untuk berbakti kepada orang tua telah didedikasikan dengan dilandasi Mahabbatullah, ikhlas meraih rida-Nya, maka Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amalannya, akan dikabulkan doanya, akan dimudahkan urusannya dan akan diwujudkan harapannya. Berbakti kepada orang tua akan mendatangkan energi kebahagiaan dan kesuksesan. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua akan mendatangkan kesengsaraan penuh penderitaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita tergolong orang-orang yang selalu menjaga birrul walidain serta memiliki keyakinan dan keteguhan hati jika di balik keberhasilan hidup ini ada peran orang tua yang tak terlupakan. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.
Oleh :
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666
