Konten dari Pengguna

Gerakan Literasi Unik dan Memikat?

Asep Totoh

Asep Totohverified-green

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak membaca.  Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak membaca. Foto: Thinkstock

Menurut survei Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD–Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang dirilis pada tanggal 03 Desember 2019 di Paris-Prancis, Indonesia berada di urutan ke-74 dari 79 negara dengan total nilai kemampuan literasi pelajar Indonesia sebesar 371. Skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara, lalu skor matematika ada di peringkat 72 dari 78 negara, dan skor sains ada di peringkat 70 dari 78 negara. Skor PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study), Indonesia berada pada Level 41 dari 45 peserta PIRLS dengan skor 405.

Nilai tersebut bahkan mengalami penurunan dari hasil nilai yang diperoleh Indonesia yang dirilis oleh PISA pada tahun 2012. Pada tahun 2012, PISA merilis hasil surveinya di mana Indonesia memperoleh nilai sebesar 384. Nilai 371 yang diperoleh Indonesia sama persis dengan capaian Indonesia pada kemampuan literasi yang dirilis oleh lembaga PISA pada tahun 2000.

Selain hasil survei PISA, Lembaga Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian pendidikan dan Lebudayaan (Puspendik kemendikbud) dalam program Indonesian National Assessment Program (INAP) atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) pada tahun 2016 melakukan uji keterampilan membaca, matematika, dan sains peserta didik SD kelas IV. Pada kategori membaca hasilnya adalah 46,83% dalam kategori kurang, 47,11% dalam kategori cukup, dan hanya 6,06% dalam kategori baik (Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, hal. 2)

Ironis memang kondisi memprihatinkan literasi bangsa Indonesia, disarikan dari berbagai sumber ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya literasi tersebut karena; perkembangan teknologi canggih yang belum bisa dioptimalkan, kesadaran dan kebiasaan membaca di rumah, akses, jumlah dan kualitas buku, rendahnya literasi untuk pendidikan di Indonesia, belum banyaknya kerja sama kelembagaan, belum terbentuknya sistem yang terintegrasi, kurangnya program literasi, dan ketertarikan masyarakat untuk berliterasi.

Selanjutnya ada banyak akibat yang bisa terjadi dengan rendahnya literasi baca tulis di Indonesia misalnya: budaya membaca dan menulis yang masih rendah, pola berpikir yang masih rendah (LOTS), dan kurang terasah atau berkembangnya kemampuan 4C untuk Critical thinking (berpikir kritis), Collaborative (kolaboratif), Communication (komunikatif), dan Creative (kreatif)

Senyatanya literasi dibutuhkan dalam berbagai kondisi, jika dalam perkembangan era teknologi saat ini dengan revolusi industri era 4.0 maka yang harus dikembangkan kemampuan yang berkaitan dengan literasi, yaitu: literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. Semua komponen dalam revolusi industri era 4.0 menjadikan peluang pada pengembangan kebijakan dan program strategis untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.

PR besar untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat dan menghasilkan para peserta didik yang literat. Tantangan nyata untuk menghadirkan gerakan literasi, yang utama gerakan literasi saat ini adalah harus sangat dekat tentunya dengan tampilan yang memikat, berbeda, baru, dan menyenangkan. Gerakan literasi dengan wajah baru seperti itu akan jauh lebih mudah diterima dan menarik perhatian.

Sejak Maret 2016 sebenarnya pemerintah melalui Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) sekarang Kemendikbudristek mencanangkan suatu program yang terstruktur dan tersistem lewat perubahan kurikulum dengan menetapkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sasaran dari program ini adalah para pelajar dan pelaku pendidikan mulai dari tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT).

Tujuannya adalah agar generasi penerus bangsa melek literasi yakni sekurang-kurangnya melek baca dan tulis. Ketika para pelajar di semua tingkat satuan pendidikan memiliki kemampuan membaca dan menulis yang merupakan pangkal dari multiliterasi maka akan memberikan positive effect terhadap kemampuan diri seorang literat.

Seorang pelajar yang literat tentu akan memiliki kemampuan lebih dari pelajar non-literat. Selain itu tujuan mulia dari program ini tentu saja membentuk kepribadian atau karakter para pelajar. Penguatan pendidikan Karakter (PPK) yang merupakan ciri khas Kurikulum 2013, tidak hanya mampu lewat kegiatan esktrakurikuler kepramukaan, ataupun kegiatan bernuansa religi tetapi juga lewat program Gerakan Literasi Sekolah(GLS).

Literasi dasar tetap merujuk kepada kemampuan membaca dan menulis yang menjadi fundamen dari literasi itu sendiri. Oleh sebab itu, membaca dan menulis inheren dengan proses belajar atau mencari pengetahuan.

Pun menulis yang tidak kalah pentingnya, dengan menulis maka pengetahuan akan diikat dan didokumentasikan untuk menjadi rujukan di masa depan.

“Ikatlah ilmu dengan menulis.” – Ali bin Abi Thalib

Senyatanya literasi memiliki implikasi yang sangat penting untuk menunjang kecakapan dalam berbagai aspek kehidupan.

Ada banyak cara untuk bisa belajar berbagai gerakan literasi, misalnya bisa belajar dari Book Fairies, Swedia. Gerakan literasi ini cukup populer di Swedia. Book Fairies merupakan ide dari sekumpulan masyarakat di negara Swedia yang sangat gemar membaca. Kebiasaan masyarakat Swedia ketika selesai membaca buku, mereka akan meninggalkan buku tersebut di fasilitas umum dan meninggalkan tulisan, “Apakah kamu mau membaca buku ini?” Gerakan ini kemudian kian popular setelah seorang aktivis kemanusiaan, Emma Watson membagikan tagar #bookfairies pada akun media sosialnya.

Atau ada gerakannya Kargo Baca ala Edy Dimyati, di Jogya ada Kampung Buku, Macosik Festival dan Patjar Merah. Dan masih terdapat banyak lagi gerakan-gerakan yang telah dilakukan oleh para pegiat literasi di seluruh Indonesia.

Iliustrasi Buku, Foto: Unplash

Alhasil, ketika zaman serba canggih dan arus informasi yang serba cepat maka gerakan literasi untuk meningkatkan minat membaca dan menulis harus dirancang semenarik mungkin agar tetap relevan.

Bisa jadi cara-cara lama dan konvensional tidak sepenuhnya efektif lagi. Maka diperlukan adanya ide-ide kreatif untuk membentuk gerakan literasi yang dekat dengan target sasaran misalnya anak muda generasi milenial. Tantangan berat bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi yang jauh lebih dekat dan asyik dengan gadget atau gawainya namun bukan menghabiskan waktunya untuk berliterasi.

Tentunya ada banyak program atau gerakan literasi terlebih di era digital dan ketika pandemi Covid-19 yang bisa dilakukan, dengan literasi kita tentu bisa turut serta membangun negeri ini hingga mampu bersaing di kancah internasional.

“Mari bersama turun tangan membuat gerakan literasi yang unik dan memikat”

Salam literasi, semoga menginspirasi!