Jangan Lupa, Ada Orang Tua Di Balik Sukses Kita

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Terdapat banyak hikmah yang bisa kita ambil sebagai fakta yang tidak bisa dimungkiri, sebuah kenyataan tak dapat terbantahkan dalam realitas obyektif telah membuktikan bahwa kisah sukses orang-orang besar tak lepas dari bakti mereka kepada kedua orang tuanya, serta dukungan dan doa orang tua yang tak kenal lelah.
Tengok lagi kisah Khalid Bin Walid, Abu Hurairah, Imam Syafi’I, serta tokoh-tokoh kontemporer dan muslim sukses abad ini tidak terlepas dari The Great Power of Parents. Kisah tersebut sangat relevan dengan ajaran Islam, Suatu saat Rasulullah SAW pernah ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah).
Mengutip kish Imam Syafi’i di usia 7 tahun beliau telah hafal al-Quran dengan lancar, umur 10 tahun telah hafal kitab hadits karya imam Malik, al-Muwatha’. Dan umur 12 tahun beliau telah disahkan menjadi seorang mufti. Kesuksesan yang diukir Imam Syafi’i ini juga tak lepas dari ketaatannya kepada ibundanya. Bahkan secara khusus Imam Syafi’I mengekspresikan baktinya dengan menulis kitab al-Umm yang maknanya Ibu dan mengungkapkan dalam syair:
Taatilah Allah sebagaimana yang Dia perintahkan
Penuhilah hatimu dengan sikap waspada
Taatilah bapakmu karena dialah yang telah memeliharamu di waktu kecil
Merendah dan ridhalah kepada ibumu karena durhaka kepadanya termasuk dosa besar
Senyatanya jika kisah suskses orang-orang hebat sebagaimana dicontohkan di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa orang-orang sukses adalah orang-orang yang mampu memberikan baktinya kepada orang tua. Selain itu pula, adalah mereka yang mampu menggali potensi dahsyat dari rumahnya, dari orang tuanya. Orang tua adalah madrasah sebelum madrasah lainnya. Merekalah adalah sekolah sebelum sekolah lainnya.
Birrul walidain sejatinya menjadi wujud ketaatan dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila posisi kita kepada Allah dan Rasul-Nya di puncak ketaatan, maka berbakti kepada kedua orang tua adalah ekspresi cinta itu sendiri. Cinta kepada Allah memberikan inspirasi untuk menaati segala yang diperintahkan-Nya termasuk berbakti kepada kedua orang tua.
Birrul Walidain sesungguhnya bukan hanya sekadar untuk memenuhi kewajiban. Akan tetapi dapat dimaknai lebih dahsyat yakni sebagai ekspresi keimanan, bukti kecintaan, wujud ketaatan, investasi masa depan, perencanaan reuni abadi di surga penuh kebahagiaan. Karena itulah, berbakti kepada orang tua harus terus dilakukan baik ketika masih hidup maupun setelah tiada. Dan dari bakti sejati inilah akan kita dapatkan doa yang mustajabah dan ridha yang mengiringi langkah. Sebab, berbakti kepada orang tua itulah yang mengantarkan kepada ridha Allah.
Bukankah Rasulullah pernah bersabda “Ridhallahi fi ridhal walidain” (Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua). Maka jika ada anak yang terperosok ke dalam lubang kehancuran, itu karena menyia-nyiakan orang tuanya. Sementara ada anak yang mendulang kesuksesan dan kebahagiaan hidup itu karena memuliakan orang tuanya.
Alhasil, jika perintah untuk berbakti kepada orang tua telah didedikasikan dengan dilandasi Mahabbatullah, ikhlas meraih ridha-Nya, maka Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amalannya, akan dikabulkan doanya, akan dimudahkan urusannya dan akan diwujudkan harapannya. Berbakti kepada orang tua akan mendatangkan energi kebahagiaan dan kesuksesan. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua akan mendatangkan kesengsaraan penuh penderitaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita tergolong orang-orang yang selalu menjaga birrul walidain serta memiliki keyakinan dan keteguhan hati jika di balik keberhasilan hidup ini ada peran orang tua yang tak terlupakan. “Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular”...Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.
**Asep Totoh - Dosen Ma'soem University - Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666 Cileunyi Kab.Bandung
