Konten dari Pengguna

Jejak Taufik Hidayat, 'Si Raja Backhand Smash', Kritis dan Kontroversi

Asep Totoh

Asep Totohverified-green

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek

·waktu baca 5 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tak kenal Taufik Hidayat, salah satu tunggal putra terbaik Indonesia itu tiada lawannya yang dikenal dengan sebutan "Si Raja Backhand Smash" pengguncang jagat bulu tangkis begitu ditakuti di era kejayaannya.

Pemain Bandung kelahiran 10 Agustus 1981 yang awalnya ia bermain di klub SGS Elektrik Bandung adalah putra pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah. Taufik dikenal karena memiliki andalan backhand smash atau smash dari belakang tanpa melihat menjadi senjata mematikan yang sering menipu musuh-musuhnya.

Terungkap jika berkat latihan intens yang dijalaninya dengan Lie Sumirat, Taufik Hidayat pun di puncak kariernya berhasil mencatatkan rekor pukulan backhand smash tercepat hingga 260 km/jam.

Gelar demi gelar diperoleh sebagai legenda bulu tangkis Indonesia, Taufik mencatatkan namanya sebagai pemain tunggal putra dengan pukulan smash tercepat yang mencapai 305 km/jam pada semifinal Kejuaraan Dunia 2006 di Madrid. Ia juga dikenal dengan pukulan backhand smash tercepat yang mencapai 206 km/jam, sehingga banyak pemain lain yang mencoba untuk melakukan hal tersebut, namun belum ada yang sebaik Taufik. Ketika bermain, Taufik juga dapat melakukan pukulan drop shot dan permainan net dengan baik.

Prestasi yang diperolehnya:

  1. Tahun 1998: Juara Brunei Open

  2. Tahun 1999: Juara Indonesia Open, Juara SEA Games

  3. Tahun 2000: Juara Indonesia Open, Juara Malaysia Open, Juara Kejuaraan Asia

  4. Tahun 2001: Juara Singapore Open

  5. Tahun 2002: Juara Sanyo-BNI Maybank Indonesia Open, Juara Taiwan Open, Juara Asian Games

  6. Tahun 2003: Juara Sanyo-BNI Maybank Indonesia Open

  7. Tahun 2004: Juara Indonesia Open, Juara Kejuaraan Asia, Juara Olimpiade

  8. Tahun 2005: Juara Singapore Open, Juara Kejuaraan Dunia

  9. Tahun 2006: Juara Indonesia Open, Juara Asian Games

  10. Tahun 2007: Juara Kejuaraan Asia, Juara SEA Games

  11. Tahun 2008: Juara Macau Open

  12. Tahun 2009: Juara US Open, Juara India Open

  13. Tahun 2010: Juara Canada Open, Juara Indonesia GP Gold, Juara French Open SS

  14. Tahun 2011: Semifinalis VICTOR- BWF Superseries Finals, Runner Up PROTON MALAYSIA OPEN SUPER SERIES, Semifinalis Victor Korea Open Super Series Premier, Semifinalis Yonex – Sunrise India Open Superseries, Perempat final Indonesia Open Superseries Premier 2011, perempat final 2011 Yonex OCBC US Open Grand Prix Gold, Runner - up 2011 Yonex Canada Open, Semi final Bankaltim Indonesia Open GP Gold 2011, Juara India Open Grand Prix Gold 2011

  15. Tahun 2012: Semifinal Maybank Malaysia Open Presented by PROTON, Perempat final YONEX All England Open Badminton Championships 2012, Semi final Swiss Open 2012, Perempat final 2012 Yonex Australian Open GP Gold, Perempat final Yonex Sunrise India Open 2012, Perempat final YONEX Open Japan 2012, Perdelapan Final Olimpiade London.

Tercatat ikut berpartisipasi dalam tim beregu Indonesia pada Piala Thomas (2000, 2002, 2004, 2006, dan 2008) serta Piala Sudirman (1999, 2001, 2003, dan 2005).

Total sudah ada 27 gelar juara yang berhasil dimenangkan oleh Taufik Hidayat sepanjang kariernya sebagai pebulutangkis. Catatan itu sudah membuktikan bahwa Taufik Hidayat layak disebut salah satu legenda bulutangkis terbaik Indonesia pada masanya.

Dikenal kritis semasa jadi pemain, namun loyalitas dan kecintaannya pada bangsa ini tidak diragukan lagi. Selain kritis terhadap Federasi juga terhadap kebijakan pemerintah. Misalnya raihan medali Olimpiade pun tak luput dari kritikannya, Taufik Hidayat memberikan kritik tajam bagi pemerintah Indonesia dalam hal pengelolaan dan pengembangan olahraga di Tanah Air.

Terbaru yang menggegerkan dari pengakuan Taufik Hidayat yang menceritakan pengalamannya ketika menjelang semifinal Asian Games Doha 2006. Salah seorang ofisial dari Malaysia menemuinya dan meminta Taufik untuk mengalah dari Lee Chong Wei.

Berkaitan kabar ini, sontak saja mendapat respon dari Lee Chong Wei. Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia pun akan melakukan tindak lanjut untuk verifikasi kebenaran pernyataan Taufik Hidayat dan Lee Chong Wei tersebut. Bahkan, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) pun turut didorong untuk melakukan investigasi.

Menurut pengakuan Taufik, selama perjalanannya memang tidak mudah untuk bisa jadi atlet. Perjuangan extra pun harus dilalui Taufik karena menurutnya tak melalui jalan lapang untuk jadi bintang. Jalannya tetap terjal dan tetap menghadapi risiko untuk gagal. Ketika kecil, sejak usia 7 tahun dia adalah sosok anak yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk bolak-balik pergi ke tempat latihan. Dia harus rela mengesampingkan kegemarannya bermain sepak bola, demi mimpi jadi atlet badminton dunia karena orang tuanya memaksa untuk bisa sukses di dunia badminton tersebut.

Menurut Taufik, di dunia olahraga talenta tak pernah berdiri sendirian mendorong seorang pemain jadi bintang. Ia selalu bergandengan dengan komitmen dan kerja keras untuk membentuk pemain yang bisa tampil sebagai pemenang.

Taufik Hidayat, Foto AFP Roslan Rahman

Winning or Losing is a dunamic process of being a world class champion. WInning is an attitude, keping it is a commitment..(Taufik Hidayat)

Sebagai atlet harus memiliki tujan atau goals yang jelas di masa mendatang. Saat itu ketika sudah ada di pelatnas, arulah ia sadar bahwa pelatnas bukan tujuan akhir melainkan hanya batu pijakan untuk melompat jauh lebih tinggi. Determinasi dan motivasi harus terus ia jaga dalam perjuangan menjadi yang terkuat.

Walau dalam perjalanannya atau terbaru dengan kontroversi-kontroversi yang ada pada diri taufik Hidayat, namun hal itu justru makin memperkaya cerita. Mengenang Taufik adalah mengenang salah satu pebulutangkis terbaik dalam sejarah badminton Indonesia. Sampai saat ini sosok Taufik tetap menjadi sebagai “ATLET INDONESIA YANG JADI IDOLAMU”.

Oleh :

Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Bakti Nusantara 666