Kartini Setiap Zaman

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berapa banyak orang saat ini sudah lupa dan mungkin melupakan peringatan atau tidak mengenal sosok pahlawan nasional “Raden Ajeng Kartini? Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini.
Biasanya sebelum pandemi Covid-19, ada banyak peringatan yang diadakan oleh beberapa instansi dengan berbagai metode dan acara. Misalnya, para pelajar dan guru yang menggunakan pakaian adat sebagai bentuk perayaannya dan diwarnai aneka perlombaan.
Bukan untuk mengkultuskan orangnya, namun sebuah penghormatan akan perjuangannya secara utuh. Akan tetapi bukan hanya sebatas perayaan simbolik dengan mengenakan kebaya dan berkonde atau lomba memasak semata, perjuangan Kartini lebih cerdas dari sekadar ornamen dan solekan yang melekat pada tubuh perempuan.
Sejarah telah mencatat bahwa R.A Kartini merupakan pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia atau dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia. R.A Kartini hadir terdepan dalam memperjuangkan nasib perempuan di tengah kemelut bangsa melalui pikiran, tenaga, dan waktunya.
Kartini adalah orang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia yang menutup zaman tengah, zaman feodalisme pribumi yang “sakitan” menurut istilah Bung Karno. Bersamaan dengan batas sejarah pribumi ini, mulai berakhir pula penjajahan kuno Belanda atas Indonesia dan memasuki babak sejarah penjajahan baru; imperialisme modern” (Toer, 2009: 12).
Yang menjadi perhatian perjuangan Kartini adalah permasalahan yang berhubungan dengan aksara, literasi, dan pendidikan bagi perempuan.
Saat itu “Perempuan tidak perlu sekolah. Perempuan tidak perlu tahu baca tulis. Perempuan hanya perlu tahu masak dan dapur, serta melayani suami.”
“Kartini berjuang lewat tulisan” memosisikan pokok pikiran Kartini yang kritis (Critical Tinking). Kartini adalah pejuang literasi dan dengan penanya menghasilkan banyak tulisan. Dengan tulisannya itulah Kartini menyampaikan gagasan-gagasan kritis kepada sejumlah sahabatnya bahkan sampai ke para sahabatnya di belahan Eropa.
Apa yang dilakukan Kartini waktu itu, di kemudian hari menjadi inspirasi bagi banyak kalangan-khususnya wanita-wanita bahkan sampai sekarang untuk bisa hidup lebih bermartabat.
Kartini sebagai wujud literasi perempuan, seyogyanya harus dimaknai sebagai pengerahan seluruh kapasitas diri perempuan untuk menjadi pribadi yang tangguh, senantiasa berpikir kritis dengan memberi jarak terhadap persoalan, dan merawat iklim intelektual itu melalui aktivitas mengikat pengetahuan dalam tulisan.
Perempuan tidak bisa dihalangi untuk membuka akses seluas-luasnya terhadap kemungkinan memberi interpretasi baru terhadap realitas, dalam rangka meningkatkan kapasitas pemikirannya itu
Saat ini dan atau masa mendatang dengan zamannya telah memberi ruang kebebasan perempuan untuk berkreasi, berjejaring, dan berkolaborasi dengan fasilitas serba digital agar bisa memaksimalkan peran perempuan.
