Literasi Di Era Pandemi
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
BAK buah si malakama, di masa pandemi Covid-19 keputusan terbaik pendidikan bangsa ini ketika harus memilih antara membuka sekolah untuk pembelajaran tatap muka (PTM) atau tetap menutup sebagian bahkan seluruh sekolah dan memilih cara pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Ditengah kekhawatiran penyebaran Virus Covid-19 yang belum juga mengalami penurunan, Juli mendatang Pemerintah Republik Indonesia memilih untuk membuka kembali sekolah. Tentunya dengan perencanaan yang matang terlebih pasca program vaksinasi sebagian para pendidik di berbagai wilayah.
Bukan tanpa alasan pemilihan keputusan sekolah untuk tatap muka, banya evaluasi juga analisa terburuk dengan potensi Lost Generation. Model pembelajaran jauh dengan kelebihan dan keterbatasannya punya pengaruh besar terhadap potensi kemampuan anak-anak didik, misalnya saja dalam hal kemampuan literasi.
Dilansir Republika (06/04/21) menurut Riset UNESCO, dampak dari penutupan sekolah-sekolah di dunia telah mengakibatkan lonjakan jumlah anak-anak yang tak bisa membaca pada tahun lalu. Sebelum pandemi, Unesco yakin jumlah anak-anak usia sekolah yang tak dapat membaca akan turun dari 483 juta pada 2019 menjadi 460 juta pada 2020. Namun, penutupan sekolah mengoyak keyakinan itu dan jumlah anak-anak yang tak bisa membaca justru melonjak menjadi 584 juta. Keberhasilan dunia di bidang pendidikan selama dua dekade terhapus hanya dalam satu tahun.
Bagaimana pandemi covid-19 ini mengoyak kemampuan literasi anak-anak Indonesia?
Jika melihat kembali hasil survei dari studi Most Littered Nation In the World 2016 bahwa budaya literasi (baca-tulis) di Indonesia masih sangat rendah dan jauh tertinggal. Dari 61 negara yang diteliti tingkat literasinya, menempatkan Indonesia di urutan ke-60 setelah Bostwana (Peringkat kedua dari bawah). Menurut riset UNESCO, indeks minat baca Indonesia 0,001 %. Itu artinya dari seribu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca, dan hanya baru sampai "minat baca".
Data dari survei 3 tahunan BPS juga mencatat bahwa tingkat minat baca anak-anak Indonesia hanya 17,66 %, sementara minat menonton mencapai 91,67 %. Tetapi jika dilihat dari segi infrastuktur yang mendukung kegiatan membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Indonesia berada di urutan 34 untuk penilaian dari komponen infrastruktur, berada di atas Jerman, Portugal, Selaindia Baru, dan Korea Selatan.
Durasi waktu membaca orang Indonesia per hari rata-rata hanya 30-59 menit, kurang dari sejam. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Itu hasil penelitian Perpustakaan Nasional tahun 2017. Kondisi itu, tentu jauh di bawah standar Unesco yang meminta agar waktu membaca tiap orang 4-6 jam per hari.
Berdasarkan hasil PISA 2018 peserta didik Indonesia berada pada peringkat 72 dari 79 Negara peserta tes. Hasil tes menunjukkan bahwa rata-rata skor peserta didik adalah 371 dalam membaca, matematika 379, dan sains 396. Capaian skor tersebut di bawah rerata 79 negara-negara peserta PISA, yakni 487 untuk kemampuan membaca, dan 489 untuk kemampuan matematika dan sains (OECD, 2019). Hasil ini menujukkan penurunan dengan hasil TES PISA sebelumnya, tahun 2015, peserta didik Indonesia mencatatkan rata-rata yang lebih tinggi untuk semua bidang yaitu 397, 386, dan 403 untuk kemampuan membaca, matematika, dan sains (PISA, 2015).
Selanjutnya salah satu bukti rendahnya tingkat literasi di Indonesia (Litbang Kemdikbud, 2019) adalah angka rata-rata Indeks Alibaca Nasional berada di angka 37,32. Indeks aktivitas literasi yang tergolong rendah, Indeks kumulatif dari 1) dimensi kecakapan 75,92, 2) dimensi akses 23,09, 3) dimensi alternatif 40,49, dan 4) dimensi budaya 28,50.
Dalam dimensi kecakapan bisa dilihat dari indikatornya berupa bebas buta aksara dan rata-rata lama sekolah, sedangkan dimensi akses, terdiri dari perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan komunitas, dan perpustakaan sekolah.
Kemudian, untuk dimensi alternatif selain yang konvensional, yaitu penggunaan internet, membaca daring, dan media online. Adapun dimensi budaya dimaknai sebagai bagian dari kebiasaan membaca, misalnya meminjam buku di perpustakaan, memanfaatkan taman bacaan, serta membaca koran dan buku.
Kondisinya menunjukan bahwa minat baca cukup tinggi, mamun semua itu potensi yang belum mewujud jadi perilaku, kebiasaan, dan budaya. Inovasi pembelajaran dampak Covid-19 sebenarnya membuka paradigma baru bagi literasi.
Tentunya banyak cara dan bisa dicarikan solusi untuk kembali menguatkan kemampuan literasi generasi emas bangsa Indonesia, misalnya;
Peran pemerintah untuk : a) Perhatian lebih pada daerah-daerah dengan indeks membaca terendah, b) Penguatan pada dimensi alternatif, butuh solusi untuk akses terhadap komputer masih rendah, selain itu akses terhadap jaringan internet juga belum merata.
Penguatan dimensi akses, dengan melakukan upaya sistematis untuk meningkatkan akses terhadap bahan-bahan literasi, baik di masyarakat maupun di sekolah.
Pembiasaan dimensi Budaya, usaha pembiasaan membaca kepada siswa sekolah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) perlu diimbangi dengan pembiasaan membaca di rumah. Pemerintah dan pemerintah daerah harus bisa mengampanyekan “Jam Membaca” atau “Jam Belajar Masyarakat”
Dukungan dana dari berbagai pihak mendukung keberadaan perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan komunitas dengan membantu penambahan koleksi buku dan sarana literasi lainnya.
Dukungan penuh untuk komunitas literasi di wilayah masing-masing atau menjadi donatur bantuan buku yang dapat disalurkan ke sekolah maupun komunitas literasi di seluruh Indonesia melalui program pustaka bebas be
Semoga bisa menjadi titik tolak guna telaah lebih lanjut mengenai dinamika dan perkembangan literasi masyarakat di Indonesia.
Mengutip Nazwa Shihab, “CUKUP satu buku untuk membuat kita jatuh cinta pada membaca..Cari buku itu dan mari jatuh cinta"
**Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666 Cileunyi Kab. Bandung

