Menuju Research University

Asep Totoh
Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
Konten dari Pengguna
29 Agustus 2020 6:06 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi peneliti. Foto: L'Oreal Indonesia dan Eijkman
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peneliti. Foto: L'Oreal Indonesia dan Eijkman
ADVERTISEMENT
Tantangan Indonesia dalam Daya Saing, IPTEK dan Inovasi berdasarkan World Economic Forum (WEF) dan WIPO tahun 2017-2018 menunjukan untuk daya saing Indonesia naik ke peringkat 36 dari 137 negara, sebelumnya di peringkat ke-41 (tahun 2016-2017). Tetapi walaupun mengalami kenaikan masih jauh berada di bawah Singapura peringkat ke-2, Malaysia ke-23, dan Thailand ke-32. Kemudian untuk Peringkat Daya Saing Inovasi Indonesia ke 87 dari 127 negara, Singapura peringkat ke-7, Malaysia ke-37, dan Thailand ke-51. Selanjutnya untuk peringkat Indonesia Technological Readiness Indonesia berada di peringkat 80 dari 137 negara, Singapura peringkat ke-14, Malaysia ke-46, Thailand ke-61 dan Vietnam ke 79. Dan untuk pemeringkat Knowledge & Technology Outputs Indonesia berada di peringkat 70 dari 127 negara, Singapura peringkat ke-11, Vietnam ke-28, Malaysia ke-36, dan Thailand ke-40. Beberapa literatur menyatakan penyebab Indonesia masih kalah dikarenakan masih lemahnya higher education and training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication.
ADVERTISEMENT
Jelas sekali kontribusi positif dari dunia pendidikan tidak hanya dirasakan oleh negara-negara kelas menengah dan negara-negara maju saja, akan tetapi bisa dirasakan oleh negara-negara berkembang pula. Pendidikan tinggi membantu negara untuk dapat bersaing di tataran global dengan mengembangkan produktivitas, fleksibilitas dan keahlian para pegawai, serta menghasilkan, menerapkan dan menyebarkan ide dan teknologi terbaru. Kondisi nyata jika perguruan tinggi berperan penting dalam kehidupan sosial masyarakat, yaitu sebagai lembaga kebudayaan, pusat interaksi dan diskusi sosial kemasyarakatan serta sebagai pusat kegiatan intelektual.

Pendidikan Tinggi 4.0

Saat ini perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif dan kiranya diperlukan orientasi baru pada kurikulum, sebab dengan adanya Era revolusi Industri 4.0 tidak hanya cukup literasi lama; membaca, ,menulis dan matematika sebagai modal dasar untuk berkiprah di masyarakat. Aoun dalam bukunya Robot-Proof: Higher education in the age of artificial intelligence (2017) mengemukakan bahwa kurikulum yang dijadikan acuan pendidikan harus dirancang agar lulusan yang dihasilkan menguasai literasi baru. Terdapat 3 jenis literasi baru yaitu literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Literasi data berkaitan dengan kemampuan membaca, menganalisis, dan memanfaatkan informasi big data dalam dunia digital. Literasi teknologi, berkaitan dengan pemahaman cara kerja mesin dan aplikasi teknologi, adapun literasi manusia menyangkut aspek humanities, komunikasi dan desain. Dalam perspektif literasi manusia, tujuannya agar manusia dapat berfungsi dengan baik di lingkungan manusia yang dinamis, maka lembaga pendidikan perlu mencari cara baru untuk mengembangkan kapasitas kognisi manusia, yaitu higher order mental skills, berpikir kritis dan sistemik.
Ilustrasi kampus. Foto: Pixabay
Perguruan tinggi dituntut mencari metode untuk mengembangkan kapasitas kognitif mahasiswa: Higher order mental skills, berpikir kritis & sistemik. Kapasitas tersebut amat penting untuk bertahan di era revolusi industri 4.0, di mana yang harus diajarkan yaitu; Pertama, melatih Keterampilan yang berkaitan dengan kepemimpinan (leadership) dan bekerja dalam tim (team work). Kedua, mengajarkan kelincahan dan kematangan budaya (Cultural Agility): Mahasiswa dengan berbagai latar belakang mampu bekerja dalam lingkungan yang berbeda (dalam/luar negeri). Dan Ketiga, Entrepreneurship (termasuk social entrepreneurship): Harus merupakan kapasitas dasar yang dimiliki oleh semua mahasiswa.
ADVERTISEMENT
Kemudian strategi mengajar perguruan tinggi saat ini harus; (1) Studi tematik berbagai disiplin, hubungkan dengan dunia nyata, project based learning. (2) Melalui General Education, Ekstra kurikuler. (3) magang/kerja praktik/co-op program (al. higher order kills, leadership, team work) (Northeastern, 2014). Sejalan dengan pendapat Dirjen Belmawa Kemenristekdikti (2018) untuk paradigma dalam Tri Darma Perguruan Tinggi pun perlu diselaraskan dengan Era Industri 4.0 yaitu melalui 1) Mendorong Science and Technology Index menjadi Pemeringkat Global; 2) Meningkatkan kegiatan riset dan publikasi yang relevan dengan tema Industri 4.0; 3) Perguruan Tinggi wajib melaksanakan proses inovasi produk melalui inkurbasi dan pembelajaran berbasis industri; 4) Reorientasi Kurikulum : pengembangan & pembelajaran model literasi baru (coding, big data, teknologi, humanities/general education) perlu dikembangkan dan diajarkan, penguatan kegiatan ekstra kurikuler untuk pengembangan kepemimpinan dan bekerja dalam tim, serta jiwa wirausahawan dan internship diwajibkan, serta kemandirian yang matang. Dan menerapkan format baru sistem pengajaran pendidikan jarak jauh (PJJ) berbasis Hybrid/ Blended Learning/Online.
ADVERTISEMENT

Universitas Riset

Kemudian menyikapi tuntutan perubahan zaman, dikatakan oleh Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti (skr. Kemendikbud) bahwa perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi yang sangat cepat saat ini juga harus dijawab oleh perguruan tinggi. Maka yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi masa depan harus beralih dari pengajaran (teaching university) menjadi perguruan tinggi riset (research university). Menurutnya tuntutan riset perguruan tinggi tidak sebatas menjadi tulisan yang dimuat di jurnal nasional maupun internasional, tidak pula hanya menjadi sampel produk akan tetapi harus menjadi produk massal yang bisa dinikmati masyarakat.
Bagi perguruan tinggi untuk menuju “research university” terdapat persyaratan yang harus dipenuhi dan dimiliki oleh lembaga riset berkualitas di antaranya adalah pengajar yang berkualifikasi tinggi, hasil penelitian yang sahih, kualitas proses belajar dan mengajar, tingginya tingkat partisipasi pendanaan pemerintah dan non pemerintah, mahasiswa-mahasiswa berbakat dan berstandar internasional, kebebasan akademis, struktur pengelolaan otonomi kampus yang dirumuskan secara tepat dan tersedianya fasilitas belajar dan mengajar serta penelitian, bahkan fasilitas penunjang keseharian mahasiswa (Niland 200,2007; Altbach; Khoon et al.2005).
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut untuk memahami dasar-dasar dan kondisi pada universitas riset,Salmi (2009) menemukan kasus bahwa superioritas lembaga-lembaga ini dapat dilihat dari lulusan yang laris dipasar kerja, penelitian yang canggih dan dinamisnya transfer ilmu pengetahuan dan teknologi. Terdapat hubungan yang saling melengkapi, yakni (a) tingginya pemusatan bakat baik pengajar dan mahasiswanya, (b) berlimpahnya sumber daya untuk memperkaya lingkungan belajar dan mendukung penelitian yang canggih, dan (c) kemudahan dan dukungan pemerintah yang memacu hadirnya kepemimpinan, visi yang strategi, inovasi dan fleksibilitas.
Membangun universitas riset di negara-negara yang sebelumnya tidak memiliki atau meningkatkan universitas yang sudah ada untuk menjadi universitas riset adalah fenomena diseluruh dunia (Mohrman, Ma, dan Baker 2008). Untuk dapat berpartisipasi penuh ke dalam ekonomi ilmu pengetahuan dan memperoleh manfaat dari sains dan kemahasiswaan, negara dan komunitas akademis percaya bahwa mereka harus memiliki setidaknya satu universitas riset yang mampu berfungsi dalam tingkatan kelas dunia (Deem, Mok dan Lucas 2007). Mengesampingkan masalah-masalah dan tantangan yang dihadapi pendidikan tinggi di masa yang akan datang, universitas riset tetap merupakan elemen pusat dalam setiap pendidikan tinggi dan merupakan kebutuhan utama bagi sebagian besar ekonomi. Perguruan tinggi riset akan membawa Indonesia memiliki kedaulatan teknologi melalui Inovasi, terpenting adalah perguruan tinggi di Indonesia memliki keinginan untuk terus lebih berkembang dan menjadi universitas riset merupakan sebuah perjalanan panjang dalam sebuah pengembangan yang fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, penelitian dan pelayanan.
ADVERTISEMENT
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666