OSPEK Online MABA 2020, Menuju OSPEK Modern?

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagaimana diketahui, dampak pandemi COVID-19 memaksa seluruh kegiatan di beberapa aspek kehidupan dilaksanakan melalui daring atau secara online. Begitu pun dalam bidang pendidikan, dimana seluruh kegiatan belajar-mengajar dilaksanakan di rumah masing-masing melalui sistem online. Pembelajarana Jarak Jauh (PJJ) pun juga berimbas pada kegiatan lain seperti misalnya kegiatan orientasi mahasiswa baru atau yang lebih dikenal dengan istilah “OSPEK”.
Beberapa kampus di Indonesia seperti sudah banyak diberitakan, membuat ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) yang beradaptasi dengan masa pandemik Covid-19 dengan cara virtual. Kemendikbud Dikti telah mengeluarkan aturan khusus terkait dengan masa orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek), bahkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) pun mengeluarkan panduan khusus untuk ospek mahasiswa baru tahun 2020.

Tentunya situasi semacam ini akan menjadi hal baru bagi para mahasiswa baru (MABA) sebab Masa orientasi adalah masa pengenalan mahasiswa terhadap lingkungan dimana tempatnya akan menuntut ilmu. Dalam kegiatan ospek biasanya, mahasiswa akan diajak berkeliling oleh pihak panitia untuk mengenal wilayah kampus mereka. Namun berbeda dengan jika ospek dilaksanakan secara online, dimana pengenalan wilayah kampus akan dilakukan melalui video yang ditayangkan oleh panitia.
Media sosial diramaikan dengan viralnya video OSPEK atau Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Online yang digelar oleh Universitas Negeri Surabaya lantaran dalam video tersebut memperlihatkan mahasiswi baru (maba) dibentak-bentak oleh senior mereka karena tidak memakai ikat pinggang (sabuk).
Video OSPEK virtual yang viral beredar di internet membuat banyak pihak menyayangkan hal ini, karena penggunaan bahasa verbal yang bernada perpeloncoan terucap oleh para panitia. Jika merujuk pada panduan dari Dikti, seharusnya OSPEK atau Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Online adalah :
Pembinaan kesadaran bela negara
Materi yang akan didapat maba adalah tentang kesadaran bela negara. Hal ini penting karena ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem pertahanan negara. Selain itu juga merupakan upaya yang strategis dalam rangka menumbuhkan sikap dan perilaku setiap warga negara.
Kehidupan berbangsa dan bernegara Materinya berupa pemahaman tentang Pancasila sebagai dasar negara atau ideologi negara. Tak hanya itu, tapi juga Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika.
Pembinaan gerakan nasional revolusi mental Revolusi mental adalah tentang Indonesia melayani, bersih, tertib, mandiri, dan bersatu.
Sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia Materi tersebut terdiri atas:
• Pengenalan sistem pendidikan tinggi di Indonesia Kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka Program membina mahasiswa melalui General Education, yaitu sebuah pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan keterkaitan antar cabang ilmu dalam rangka membangun basis yang lebih luas dalam keilmuan dengan saling berdialog antara mahasiswa dari berbagai macam disiplin ilmu.
• Pengenalan nilai budaya, etika, tata krama, norma kehidupan kampus, plagiarisme, pencegahan pelecehan seksual di kampus, penyalahgunaan narkoba, dan anti korupsi dan terampil serta bijak dalam berkomunikasi melalui media sosial.
• Pembentukan karakter mahasiswa yang menghargai kemanusiaan dan membangun kesehatan mental mahasiswa.
• Pencegahan dan penanggulangan intoleransi, radikalisme, terorisme, dan penyebaran paham-paham yang bertentangan dengan ideologi negara.
• Kiat sukses/motivasi belajar di perguruan tinggi (akademik dan non akademik) serta menggali jiwa kewirausahaan, prospek dan peluang kerja setelah lulus dari perguruan tinggi Materi lain yang dipandang perlu sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan perguruan tinggi.
• Kegiatan kemahasiswaan dan organisasi kemahasiswaan.
Perguruan tinggi di era revolusi industri 4.0 Mahasiswa akan diajak beradaptasi dengan kondisi saat ini, yaitu era revolusi industri 4.0. Selain itu juga mengenal kehidupan baru pasca pandemi (new normal). Materi tersebut penting, mengingat saat ini masyarakat perlu bertahan hidup di tengah pandemi.
Kesadaran lingkungan hidup dan hadapi bencana Mahasiswa perlu menyadari pentingnya merawat lingkungan hidup dan bersiap siaga mengahadapi bencana yang bisa datang sewaktu-waktu.
Selanjutnya Perguruan Tinggi dapat mendeskripsikan materi lebih teknis dan metode pelaksanan yang disesuaikan dengan karakteristik berdasarkan kebutuhan masing-masing dengan tetap berpedoman pada panduan dari Dikti.
Menarik dicermati, jika saja melibatkan peran para mahasiswa lama atau senior maka senyatanya terdapat kegiatan positif bagi para junior di kampus yang lebih bermanfaat dan bermartabat. Tentunya kegiatan tersebut itu bergantung pada kreativitas para senior kampus untuk mengemasnya, kegiatan tersebut harus dikemas kreatif, inovatif, efektif, efisien, aman dan tentu saja tidak meresahkan psikologi para mahasiswa baru.
Sungguh disayangkan jika masih ada hukum senioritas, sehingga menjadikan kegiatan senioritas ini terjadi adalah karena ada dendam di masa lalu. Para senior yang sekarang melakukan perploncoan, dulunya juga diperlakukan demikian sehingga mereka merasa harus melakukan hal tersebut kepada junior mereka, kegiatan perploncoan ini lantas terus terjadi dan membentuk "tradisi".
Keniscaaannya jika OSPEK Virtual menjadi OSPEK yang modern melalui kegiatan-kegiatan yang berfaedah, para mahasiswa baru akan lebih mudah mengenal dunia kampus secara lebih baik. Menjadi penting juga, jika mereka menjadi senior di tahun berikutnya mereka bisa memutus mata rantai tradisi buruk Ospek yang tidak bermanfaat dan tidak bermartabat dan bisa menjadi ajang balas dendam antar generasi selanjutnya.
Akhirnya, jelaslah mengapa literasi diperlukan. Peran komunikasi nyatanya sangatlah penting, pesan yang ingin disampaikan harus kontekstual sesuai nilai-nilai akademik dan perilaku yang luhur. Penggunaan kata-kata yang membangun seperti pemberian dukungan, semangat dan ajakan yang positif adalah keharusan. Bukan malah bertindak represif, feodal, dan tiran seperti halnya seorang diktator atau inlander.
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University
