Panduan Marketing Mix 8P dan 8C

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebagai catatan refleksi tahun 2021, kurang dari tiga jam menuju pergantian tahun 2022 mencoba untuk mencari jawaban pertanyaan: “Strategi pemasaran apa yang dibutuhkan lebih tepat untuk zaman modern ini? Dan apakah sebuah startup harus memiliki satu atau beberapa bauran pemasaran?”
Menyoal Bauran pemasaran (Marketing Mix) adalah pilar strategi pemasaran dan terdiri dari serangkaian alat untuk memandu perusahaan melalui pasang surut industrinya.
Edmund Jerome McCarthy (1960) yang pertama mengenalkan, mengklasifikasikan berbagai aktivitas pemasaran dan mengelompokkannya dalam empat dimensi 4P; Products, Price, Place & Promotion.
Pada tahun 1981, Bernard Booms dan Mary Jo Bitner menerbitkan Strategi pemasaran dan struktur organisasi untuk perusahaan jasa di mana mereka mempresentasikan 7P bauran pemasaran. Konsep yang diperbarui ini menambahkan 3 dimensi ke 4P asli: People, Process and Physical evidence.
Selanjutnya pemasaran dan manajemen menurut Kotler dan Keller (2009), bauran pemasaran membutuhkan 8P untuk mewakili pemasaran modern (modern marketing). Bauran pemasaran Model 4P ditambah 4P untuk People, Processes, Physical evidence dan Productivity
Pada tahun 1990, profesor periklanan Robert Lauterborn berbagi pendekatan yang berbeda terhadap 4P bauran pemasaran. Dalam karyanya New marketing litani: four Ps passé: C-words take over diterbitkan oleh koran broadsheet Advertising Age (sekarang menjadi Ad Age), ia mempresentasikan 4C bauran pemasaran Consumer, Cost, Convenience dan Communication.
Dengan perubahan situasi, zaman, teknologi dan lainnya tentunya ada adaptasi yang harus dilakukan. Misalnya membuat formulasi sederhana untuk bauran pemasaran (marketing mix) 8P for 8C. Konsep dan ide utamanya adalah saat ini memahami apa yang ada di dalam benak atau kepala penjual dan pembeli.
Sekarang Penjual harus memahami marketing mix 8P-nya, dan pembeli pun harus dipahami dengan markting mix 8C-nya juga yaitu :
Products for Customer Value. Products bagi penjual adalah semua yang ditawarkan baik barang (goods) atau jasa (service) yang memiliki tingkatan produk (product level) tentunya harus memiliki keunggulan bersaing (competitive advantage). Bagi pembeli adalah nilai yang dimiliki oleh sebuah produk adalah Customer value. Nilai yang dimiliki produk tersebut meliputi manfaat (benefit) pada : fungsi (functional), rasa atau emosional (emotional) dan nilai-nilai kebaikan (spiritual).
Price for Cost. Price bagi penjual adalah satuan nilai uang yang harus melekat pada produk yang dijual, dan harga yang ditetapkan menjadi penentu sasaran pembeli apakah low, middle atau high class pada posisi pasarnya. Bagi pembeli pastiya mempersepsikan sebagai biaya yang dikeluarkan atau Cost, dan bagi pembeli pengorbanan cost tersebut harus di tekan, dipangkas atau bahkan harus dieliminasi. Maka tidak aneh pembeli berkeinginan menawar atau membandingkan selisih harga yang diberikan ditempat lain. Menarik sekali dicermati saat ini ketika produk yang sama namun ketika ditawarkan di marketplace yang berbeda maka harganya pun jelas berbeda-beda.
Place for Convinience. Bagi penjual place adalah tempat yang disediakan dengan konsep, tema, desain, lokasi, jarak tempuh, akses traffic jalan, dan berbagai fasilitas yang disediakan. Bagi pembeli maka yang dibicarakan adalah Convinience atau kenyamanan, produk apapapun pada intinya adalah bisa tidak memenuhi kebutuhan dan solusi dari masalah konsumen. Yang dibutuhkan pembeli adalah kepekaaan, keseuaian dan kenyamanan dari produk yang mereka beli, sehingga konsep, tema, desain, lokasi, jarak tempuh, akses traffic jalan, dan berbagai fasilitas walaupun harus diperoleh biasa saja, ditempuh dengan waktu berlebih ketika mereka nyaman maka mereka tidak akan berlalu mencari yang lain yang pas dihati.
Promotion for Communication. Promotion bagi penjual adalah segala macam iklan, program dan kegiatan (online dan offline) untuk mengembangkan produk. Dalam benak pembeli promosi adalah komunikasi (Communication) yang lebih intens dari penjual, para pembeli mau berkomunikasi bukan sekedar promosi karena penjual mau membuka ruang diri secara luas, lebih dekat dan peka dengan emosional para pembeli.
People for Commitment. People bagi penjual menjadi elemen pengelola atau pembuat produk dengan kompetensi yang dimilikinya. Sumber Daya Manusia (SDM) yang sering disebut pegawai atau karyawan dengan etos kerjanya bisa bertahan lama atau tidak pada perusahaan kita, bisa bertahan seminggu, sebulan, setahun, sewindu atau sampai pensiun. Bagi pembeli, people itu adalah komitmen (Commitment) pelayanan prima yang diberikan. Ketika SDMnya bekerja tidak selaras dengan janji yang diberikan maka komitmennya akan dipertanyakan, artinya setiap people adalah komitmen seperti apa yang dicari dan akan ditagih pembeli.
Process for Clarity. Process bagi penjual sebagai bagian dari kegiatan bagaimana produk itu dihasilkan, proses menjadi aktivitas rutin berkelanjutan dari perusahaan. Jika sebelumnya sebuah proses menghasilkan produk bersifat tertutup bahkan rahasia, sekarang ekspose dari proses lebih transparan dan terbuka, tidak lagi tertutup.Keniscayaannya di era internet dengan mesin google, media sosial atau youtube menjadi serba mudah diketahui atau dicari. Bagi pembeli proses dipersepsikan sebagai kejelasan atau Clarity, pembeli menempatkan proses sebagai sebuah kejelasan dari apa yang mereka peroleh, yang digunakan, atau yang dirasakan. Kejelasan ini bisa menjadikan sebuah keyakinan dalam pengambilan keputusan, keterbukaan atas proses bisa memberikan edukasi sekaligus juga impresi bagi pembeli sehingga memberikan pemahaman dan kejelasan. Alhasil, keterbukaan proses yang tepat akan memberikan kejelasan akurat yang bisa menjadi modal terwujudnya transaksi yang hebat.
Physical evidence for Creative Content. Bagi penjual Physical evidence sebagai perangkat-perangkat yang diperlukan dalam menyajikan secara nyata kualitas produk dan layanan. Bagi pembeli saat era digital dan terlebih pandemi covid-19 ini, Physical evidence lebih mudah dicari dan diinginkan sebagai Creative Content. Konten adalah pusat di mana semua saluran pemasaran lainnya berkembang, terutama di dunia digital. Upaya pemasaran digital kemungkinannya bisa mencakup kombinasi pengoptimalan mesin telusur, pemasaran mesin telusur, pemasaran media sosial, dan potensi pemasaran video. Elemen yang terkandung dalam konsep pemasaran konten baru dengan tujuh langkah Content Marketing yaitu: menetapkan tujuan, memetakan target, menentukan tema utama konten yang disajikan, menentukan kapan dan siapa yang membuat konten, mendistribusikan konten, penguatan konten, dan evaluasi.
Productivity for Convincing. Bagi penjual Produktivitas (Productivity) adalah sejauh mana efisiensi masukan-masukan layanan ditransformasikan ke dalam hasil-hasil layanan yang dapat menambah nilai bagi pelanggan, sedangkan kualitas adalah derajat suatu layanan yang dapat memuaskan pelanggan karena dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan. Bagi pembeli, Peroduktivitas adalah keyakinan (Convincing) yang dalam persekian detik bagaimana productivity mampu memicu, menumbuhkan dan memperkuat keyakinannya atas kualitas dari produk yang dijual.
Akhir tahun 2021, menjadi catatan penting jika marketing itu memang sangat penting. Ketika memahaminya pun bisa membuat kepala pening, apalagi ketika melaksanakannya jelas bisa bikin pusing tujung keliling atau bahkan bisa terguling-guling. Akan tetapi, jika memahami konsepnya, mengetahui caranya dan bisa menerapkannya, maka marketing adalah sebuah langkah-langkah tepat, jelas, sederhana dan terpetakan untuk keberhasilan sebuah bisnis.
