Pendidikan Karakter dengan Keteladanan
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekerjaan guru merupakan pekerjaan yang kompleks dan tidak mudah seiring dengan perubahan besar dan cepat pada lingkungan sekolah yang didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan demograsi, globalisasi dan lingkungan (Mulford, 2008). Kompetensi guru abad 21, guru dengan kompetensi intinya tidak lagi sekadar guru yang mampu mengajar dengan baik melainkan guru yang mampu menjadi pembelajar dan agen perubahan sekolah, dan juga mampu menjalin dan mengembangkan hubungan untuk peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya.
Guru yang dirindukan saat ini adalah guru dengan keteladanan, adalah sosok guru panutan yang sesuai dengan pemikiran al-Ghazali. Guru yang berusaha membuat dasar bangunan masyarakat moral religius melalui pembinaan moral dengan membiasakan penanaman nilai dan akhlak dalam kegiatan belajar mengajar. Sosok guru yang ideal yang memiliki motivasi mengajar dengan ikhlas, tawadhu’, bertindak sebagai orang tua yang penuh kasih sayang kepada anaknya, dapat mengetahui karakteristik kemampuan anak didiknya, mampu menggali kemampuan yang dimiliki siswa, dapat bekerja sama dengan siswa dalam memecahkan masalah, mencegah murid tidak berbuat meyimpang, dan guru menjadi tipe ideal untuk dijadikan teladan anak didiknya.
Menjadi guru teladan harus merupakan satu perwujudan yang utuh, unik, dan holistik. Utuh dalam arti sebagai satu kesatuan antar berbagai unsur kepribadian, unik dalam arti bersifat khas dibandingkan dengan jabatan lainnya, dan bersifat holistik dalam arti tumbuh dan berkembang dalam kesatuan utuh antara diri dengan lingkungan serta dimensi waktu yang berkesinambungan. Oleh karena itu, menjadi guru teladan tidak dapat dilakukan secara tiba-tiba atau instan yang dibangun seketika, akan tetapi melalui suatu proses panjang yang berlangsung terus secara berkesinambungan.
Menjadi guru harus berawal dari diri sendiri secara intrinsik dan disadari dalam lingkungan yang kondusif. Guru bukanlah sebatas orang yang berprofesi dan berpredikat guru yang harus bekerja sesuai dengan kurikulum dan berbagai silabus, melainkan orang yang mampu mengubah perilaku muridnya ke arah yang lebih baik.
Untuk menjadi guru teladan maka seorang guru harus; pertama, benar-benar memahami prinsip-prinsip keteladanan dengan karakteristik akidah, akhlak dan perilaku. Artinya guru harus mempraktikkannya terlebih dahulu sebelum mengajarkan karakter kepada peserta didiknya. Kedua, harus mengetahui tahapan mendidik karakter. Guru harus melakukan tahapan pembelajaran karakter yaitu: pemikiran, perasaan dan perbuatan. Tahapan pertama pemikiran, merupakan tahap memberikan pengetahuan tentang karakter. Tahapan kedua perasaan, pada tahapan ini guru berusaha menyentuh hati dan jiwa siswa bukan lagi akal, rasio dan logika. Dan tahap ketiga perbuatan berperan; pada tahapan ini dorongan atau keinginan yang kuat pada diri siswa untuk mempraktikkan karakter positif diwujudkan dalam kehidupannya sehari-hari. Siswa menjadi lebih santun, ramah, penyayang, rajin, jujur dan semakin menyenangkan, menyejukkan pandangan serta hati siapapun yang melihat dan berinteraksi dengannya.
Ketiga, mengetahui bagaimana mengimplementasikan pendidikan karakter kepada siswa. Dan keempat, menyadari arti kehadiran seorang guru di tengah siswa, mengajar dengan ikhlas, memiliki kesadaran dan tanggungjawab sebagai pendidik untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran. Mengajar bukan untuk sekadar melepaskan tugas, mengajar karena panggilan jiwa, mengajar dengan cinta, merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilan siswa dunia akhirat, dan mampu mengarahkan siswa tentang arti hidup.
Jadi keteladanan adalah sarana penting dalam pembentukan karakter seseorang, satu kali perbuatan dicontohkan akan lebih baik dari seribu kata yang diucapkan. Sejalan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pola pembelajaran anak manusia itu diperlukan sebuah keteladan (ing ngarsa sun tuladha), selanjutnya diikuti dengan pengembangan (ing madya mangun karsa), langkah akhirnya adalah pemberdayaan (tut wuri handayani).
Oleh :
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666 Cileunyi.

