Pola Asuh Orang Tua dan Tips Strategi Parenting

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PANDEMI COVID-19 telah membuka tabir pentingnya peran orang tua dalam perkembangan anak, sekaligus menjawab pernyataan Ki Hajar Dewantara jika Rumah adalah Sekolah dan Setiap Orang adalah Guru. Setelah kebijakan belajar di rumah dengan pembelajaran jarak jauh/ daring, orang tua memiliki peran penting menjadi guru di dalam pola asuhnya.
Menurut Syaiful Bahri (2014: 51), pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Dalam kegiatan memberikan pengasuhan ini, orang tua akan memberikan perhatian, peraturan, disiplin, hadiah, dan hukuman, serta tanggapan terhadap keinginan anaknya.
Jelas lah pola asuh orang tua mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan moral anak ketika dewasa nanti. Namun, sangat disayangkan jika banyak sekali orang tua yang tidak sadar dengan tindakan yang mereka lakukan kepada si kecil. Ada banyak dari para orang tua yang menerapkan pola asuh salah karena berpatokan pada pengalaman masa lalu yang pernah mereka rasakan.
Mengutip dari modul pembelajaran jenjang PAUD yang dikeluarkan oleh Direktorat PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pola asuh orang tua terbagi atas tiga jenis, yaitu:
Pola Asuh Permisif
Pola asuh permisif dapat diartikan sebagai pola yang membebaskan anak untuk melakukan apa yang ingin dilakukan tanpa mempertanyakan. Pola asuh ini tidak menggunakan aturan yang ketat, bahkan bimbingan pun kurang diberikan sehingga tidak ada pengendalian atau pengontrolan serta tuntutan kepada anak. Kebebasan diberikan penuh dan anak diizinkan untuk memberi putusan untuk dirinya sendiri. Anak berperilaku sesuai dengan keinginannya tanpa adanya kontrol dari orang tua.
Pola Asuh Otoriter
Untuk pola asuh otoriter, yakni ketika orang tua menerapkan aturan dan batasan yang mutlak harus ditaati, tanpa memberi kesempatan pada anak untuk berpendapat, jika anak tidak mematuhi akan diancam dan dihukum. Pola asuh otoriter ini dapat menimbulkan hilangnya kebebasan pada anak, kurangnya inisiatif dan aktivitasnya, sehingga anak menjadi tidak percaya diri pada kemampuannya.
Pola Asuh Demokratis
Sedangkan pola asuh demokratis yaitu menanamkan disiplin kepada anak, dan menghargai kebebasan yang tidak mutlak, dengan bimbingan yang penuh pengertian antara anak dan orang tua. Dari bimbingan itu memberi penjelasan secara rasional dan obyektif jika keinginan dan pendapat anak tidak sesuai. Dalam pola asuh ini bisa tumbuh rasa tanggung jawab pada anak, dan pada akhirnya, anak mampu bertindak sesuai dengan norma yang ada.
Satu lagi adalah Pola Asuh Situasional yaitu pola asuh yang disesuaikan dengan situasi. Pola asuh Situasional termasuk campuran dari 3 jenis pola asuh di atas. Situasi yang membuat pilihan kapan orang tua bersikap otoriter, tapi kapan harus permisif namun kapan juga berupaya menerapkan demokrasi di rumah.
Setiap keluarga tentunya memiliki cara mereka sendiri dalam menerapkan pola asuh anak usia dini. Namun, bisa saja terjadi kesalahan yang kerap dilakukan orang tua pada anaknya. Komunikasi adalah menjadi hal yang mutlak dilakukan dalam suatu hubungan terutama keluarga. Pola komunikasi orang tua dapat mempengaruhi perkembangan emosi dan kemandirian anak (Retnowati and Hubeis, 2008; Setyowati, 2013).
Permasalahan dalam komunikasi seringkali terjadi dan dapat mempengaruhi hubungan antar individu, termasuk hubungan orang tua dan anak dalam suatu keluarga. Apabila orang tua melakukan cara komunikasi yang tidak tepat, respons anak pun seringkali tidak sesuai harapan. Sebaliknya, komunikasi yang tepat dapat membentuk perilaku positif anak (Ramadhani, 2013). Maka orang tua diharapkan memiliki keterampilan komunikasi yang efektif, sehingga dapat menunjang upaya pengasuhan dan pendidikan bagi anak-anak di dalam keluarga.
Keterampilan komunikasi efektif dalam pengasuhan dapat dibangun melalui beragam cara dan strategi, salah satunya adalah dengan menerapkan dimensi-dimensi mindful parenting (Bögels and Restifo, 2014; Duncan, Coatsworth, and Greenberg, 2009). Mindful parenting dapat dimaknai dengan mengasuh berkesadaran, dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah “eling”. Orang tua diharapkan selalu eling dalam setiap pengasuhannya pada anak-anak. Kesadaran dalam mengasuh tersebut tercermin dalam dimensi-dimensi mindful parenting.
Model mindful parenting ini dirumuskan ke dalam gambaran lima dimensi mindful parenting yang diambil dari konsep praktik hidup mindfulness psychology sebagai salah satu strategi dalam membangun pengasuhan positif dalam keluarga. Lima dimensi tersebut antara lain: (1) mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati, (2) pemahaman dan penerimaan untuk tidak menghakimi, (3) pengaturan emosi atau sabar, (4) pola pengaturan diri yang bijaksana atau tidak berlebihan, dan (5) welas asih (Kiong, 2015; Duncan et al., 2009).
Menurut Iyan Sofyan (2018), permasalahan yang terjadi pada anak seringkali disebabkan oleh kesalahan orang tua dalam berkomunikasi dengan anak. Komunikasi yang efektif dapat membangun pengasuhan positif, komunikasi efektif dalam pengasuhan dapat diupayakan dengan penerapan dimensi-dimensi mindful parenting oleh orang tua. Oleh sebab itu, strategi mindful parenting direkomendasikan bagi seluruh orang tua agar dapat membangun pengasuhan positif dalam keluarga.
Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan bakti Nusantara 666
