Konten dari Pengguna

Profil Orang Sukses "Adaptasi Kebiasaan Baru"

Asep Totoh

Asep Totohverified-green

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PANDEMI Covid-19 belum menunjukkan tanda akan usai, seluruh dunia (termasuk Indonesia) masih berupaya menemukan vaksin sehingga belum bisa dipastikan kapan pandemi akan berakhir. Saat ini telah dilalui fase beradaptasi dengan kondisi baru, hingga akhirnya kita memiliki rutinitas yang berbeda dari sebelumnya.

Berawal dari keterpaksaan kita yang diharuskan bisa beradaptasi dan hidup ‘berdampingan’ dengan virus ini. New Normal, begitu istilahnya atau bisa disebut dengan adaptasi kebiasaan baru. Adaptasi kebiasaan baru adalah cara kita merubah perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan. Keadaan dimana ketika PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai dilonggarkan, protokol kesehatan tetap dilakukan sehingga kita tetap bisa produktif dengan tetap mencegah terjangkit virus corona.

Adaptasi kebiasaan baru ini dilakukan pada sektor atau bidang penting seperti rumah ibadah, pasar atau pertokoan, perkantoran, transportasi umum, hotel, dan restoran, serta dilakukan saat wilayah sudah menjadi zona aman (zona hijau) yang dihitung berdasarkan data dan fakta di lapangan.

Gerakan 3M menjadi kunci saat ini, semakin banyak yang menjaga jarak, memakai masker dengan benar, dan sering mencuci tangan dengan sabun, para ahli mengatakan semakin cepat pandemi ini akan berlalu.

Adaptasi Kebiasaan Baru foto shuterstock

Senyatanya dalam kondisi norma atau tatanan baru, untuk sukses dalam adaptasi kebiasaan baru tentu saja kita membutuhkan perubahan dan pendekatan baru seperti;

  1. Inisiatif, yang dibutuhkan adanya inisiatif untuk memulai, memperjuangkan, atau mengambil resiko. Inisiatif ini harus muncul pada semua orang, mulai dari lapisan tertinggi sampai dengan yang terendah dalam organisasi atau keluarga.

  2. Transformatif, dibutuhkan penyelerasan dan suka rela untuk melakukan perubahan kebiasaan baru. Penggunaan masker yang awalnya menjadi beban, sekarang berubah menjadi fashion karena kebiasaam.

  3. Cara Berpikir, mencoba pendekatan untuk memiliki cara berpikir yang dikemukakan oleh Caroll Dweck disebut sebagai growth mindset (berpikir tumbuh). Atau dalam istilah lain, disebut cara berpikir not impossible mindset (berpikir di atas kemustahilan). Misalnya sepeda kalau hanya untuk alat transfortasi, tentunya penjualannya akan kalah dengan sepeda motor. Namun, ketika diposisikan sebagai alat kesehatan dan gaya hidup (life style) penjualannya justru sangat dahsyat sekali.

  4. Kreatif, saat ini kita harus menjadi Orang-orang yang kreatif. Yaitu orang yang senantiasa memiliki: “daya cipta terhadap segala sesuatu”. Menjadi orang kreatif selalu dengan gagasan baru dan tidak harus dengan gagasan besar.

  5. Budaya Baru (new culture), kebiasaan berkegiatan di rumah, kendati pada awalnya merupakan keterpaksaan, bakal terus berlanjut dengan variasi yang makin bertambah. Munculnya rasa empati dan solidaritas pada masyarakat juga menjadi semakin terasa, terdapat nilai dan orientasi baru yang semakin menguat. Kesadaran akan arti pentingnya kebersihan dan kesehatan pun meningkat, termasuk penggunaan teknologi digital dalam berbagai bentuk semakin meluas dan mendalam.

  6. Selalu ingin sukses dan berbuat lebih baik (bersikap Progresif), kita harus memiliki perubahan berkelanjutan baik secara kuantitatif ataupun kualitatif sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan; “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada hari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi. Dan barangsiapa yang harinya sekarang lebih buruk daripada kemarin, maka dia termasuk orang yang celaka.”

Alhasil, paling utama dimasa pandemi ini adalah kita tetap harus menggunakan waktu yang dianugerahkan Allah dengan sebaik-baiknya. Sebab, Allah Swt memperingatkan kepada kita tentang waktu (masa) di dalam Al-Qur'an Surah Al-Ashr ayat 1-3.

Artinya:

1) Demi masa. 2) Sungguh, manusia berada dalam kerugian. 3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.

Wallahu a'lam

Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666