Konten dari Pengguna

Sekolah Masih Tetap Sekolah?

Asep Totoh

Asep Totohverified-green

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah.
 Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Foto: Shutter Stock

Sejak diberlakukannya pembelajaran di rumah secara daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) hampir di seluruh Indonesia akibat terdampak pandemic COVID-19, ternyata sampai dengan saat ini masih menyimpan banyak kendala dan masalah terutama dengan efektivitas dan hasil oucome dari pembelajaran itu sendiri.

Sejak saat itu pula ternyata, berikut ditemukan dan dikutip ada banyak aneka perasaan berkecamuk dalam diri para siswa. Terutama adanya rasa rindu untuk bisa bersama-sama belajar lagi secara tatap muka dengan teman dan bapak ibu guru, seperti ditulis ulang berikut;

• Sebenarnya para siswa merasa senang dengan pembelajaran jarak jauh karena bisa istirahat dari kegiatan di sekolah, memiliki banyak waktu bersama kedua orang tuanya. Namun mereka merasa tugas yang dibebankan guru masih terlampau banyak.

• Para siswa merasa enjoy belajar di rumah karena kapan saja bisa santai rebahan di rumah kalau tidak ada tugas, tidak terburu-buru mandi pagi dan sarapan dan kalau jenuh bisa bermain di sekitar rumah dan bahkan bisa belajar sambil ngemil.

• Banyak siswa yang sudah rindu kejahilan dan kegokilan teman di sekolah, dan kalau ada tugas yang sulit tidak bisa bertanya dengan teman.

• Ada siswa yang sempat membuat pantun yang menggambarkan keadaannya di rumah. Burung kenari hinggap di pagar, Dia sedang makan blimbing. Tugasnya banyak tak kelar-kelar, Kepala pusing tujuh kelling.

• Para siswa merasa cukup senang saat pembelajaran di rumah karena pat belajar bersama orang tua lebih lama, bisa berkumpul dengan keluarga. Namun, mereka juga rindu dengan suasana belajar di sekolah

• Para siswa merasa sangat malas dan bosan belajar di rumah. Namun demikian ia berusaha agar tetap bisa mengerjakan tugas yang diberikan bapak/ibu guru.

• Ada beberapa alasan mengapa siswa merasa malas dan bosan. Pertama, dia merasa sangat rindu dengan teman-teman. Kedua, mereka merasa belajar di rumah kurang efektif, karena siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru mapelnya tidak langsung dikerjakan.

• Menurut para siswa, belajar di rumah sebenarnya tidak seasyik belajar di sekolah karena belajar di sekolah seru karena banyak teman.

• Para siswa berpendapat jika belajar di rumah sendirian dan membosankan. Tetapi di rumah menyenangkan juga karena bisa belajar sambil mendengarkan musik, makan dan nonton televisi.

Kondisi tersebut di atas menggambarkan jika suasana pembelajaran di rumah ada plus minusnya, jelaslah jika kehadiran sekolah memiliki peran penting bagi perkembangan dan kualitas Pendidikan para siswa itu sendiri.

Jika membaca kembali sejarah asal-usul sekolah dan istilahnya dimulai pada zaman Yunani Kuno. Dahulu, orang lelaki Yunani dalam mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi sesuatu tempat atau seseorang yang bijaksana untuk bertanya atau mempelajari hal-hal maupun perkara yang mereka rasa perlu diketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah scola, skhole, scolae atau schola. Keempat-empatnya memiliki arti yang sama, yaitu “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar.”

Lama-kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang untuk mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata menjadi kebiasaan dalam lelaki di masyarakat Yunani Kuno. Kebiasaan itu akhirnya diikuti oleh kaum perempuan dan anak-anak

Disebabkan desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan mengambil waktu orang tua, maka si ayah dan si ibu merasa tidak punya waktu lagi untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang kepada anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya kepada seseorang yang dianggap bijaksana di suatu tempat tertentu.

Di tempat itulah, anak-anak boleh bermain, belajar atau berlatih melakukan sesuatu apa saja yang mereka anggap patut dipelajari dan sampai saatnya kelak mereka harus kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.

Sejak itulah, terjadi pengalihan sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuhan itu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti ayah dan ibu).

Akhirnya, lembaga pengasuhan atau pendidikan sebagai tempat pengasuhan dan pembelajaran anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti orang tua disebut almamater (alma mater) yang memiliki makan “ibu yang mengasuh” atau “ibu yang memberikan ilmu”.

Alhasil, dengan demikian pengertian sekolah sebenarnya adalah tempat mengembangkan bakat, minat, rasa “ceria” untuk belajar, menjadi manusia yang berilmu, berasa bebas untuk menjadi manusia yang diinginkannya. Bukan seperti saat ini di mana sekolah sepertinya sebuah tempat yang dipaksa untuk mengikut kurikulum tertentu yang bisa menimbulkan “kebencian” dan kebosanan untuk belajar.

Senyatanya tetaplah sekolah sebagai sebuah tempat merdeka berpikir dan belajar atau tempat di mana seseorang berproses untuk memaknai kehidupan. Sekolah bukanlah sebuah formalitas semata untuk yang hanya mengejar ijazah saja. Dari sejak zaman perkembangan sekolah di Athena sampai hari ini, biarlah sekolah masih tetap sekolah.

Asep Totoh - Dosen Ma'seom University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan bakti Nusantara 666