Spiritualitas Lebaran

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek
Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam hitungan jam Ramadhan pun segera beranjak pergi di hari-hari terakhirnya ini untuk meninggalkan kita semua dengan segala amalan yang telah kita lakukan. Suka cita menyambut perayaan Idul Fitri di tengah pandemi COVID-19 tidak menyurutkan semangat berlebaran, sampai hari ini saja pasar dan pusat perbelanjaan penuh dijejali masyarakat yang berbelanja persiapan perayaan idul fitri.
Semangat Idul Fitri jika dilihat dalam tradisi masyarakat Indonesia antara lain, berlebaran dengan baju baru, mudik kembali ke kampung halaman tempat kita lahir atau berasal. Bisa keliling kampung bersilaturahmi dengan para keluarga dan tetangga, makan opor ayam dan ketupat,termasuk ziarah ke kuburan orang-orang terdekat kita, seperti orang tua dan sanak keluarga.
Di tengah pandemi COVID-19 untuk kedua kalinya pemerintah memutuskan 'Larangan Mudik', namun itu semua tetap tidak menyurutkan semangat untuk mudik ke kampung kelahirannya. Terlebih bagi mereka yang merantau dan ada sebagian yang sudah tidak punya pekerjaan, mudik jadi putusan untuk dan harus mudik.
Perjalanan mudik menuju kampung halaman mereka tempuh harus melewati berbagai rintangan. Di saat pandemi tahun ini, untuk sampai tujuan ke kampung halamannya pemudik harus melalui check point atau pintu pemeriksaan. Banyak yang harus kembali dan diputar balik ke tempat asal, namun ada banyak juga yang berhasil lolos walaupun harus menelusuri jalan-jalan tikus dan kucing-kucingan atau petak umpet dengan petugas.
Sejatinya momentum lebaran Idul fitri tidak bisa diberikan penggantinya di hari yang lain di mana umat Islam dapat bergembira dengan baju baru, kumpul bersama makan ketupat. Walaupun kita bertemu dengan perayaan Idul adha pun, tetap tidak bisa menggeser kedudukan dan makna lebaran Idul fitri.
Suasana lebaran umat Islam di Indonesia secara psikologis adalah kesempatan masyarakat untuk bergembira setahun sekali dan kegembiraan ini pun bisa dirasakan oleh umat lainnya. Idul fitri menjadi puncak kebahagian umat Islam karena telah berhasil melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh.
Pemaknaan lebaran pun sebagai ibadah dengan bersilaturahmi ke sanak saudara dan handai taulan semua di kampung tanah kelahiran. Setelah bermaaf-maafan kita bisa bersuka cita, bercanda ria, berkumpul bersama dengan balutan baju baru.
Secara kultural, lebaran memang identik dengan baju baru. Sulit dibantahkan ketika merayakan hari lebaran Idul Fitri dengan salat Id, ketika bermaaf-maafan maka situasi perayaannya itu disimbolkan dengan menggunakan pakaian baru sebagai bentuk kemenangan lahir kembali ke dunia dalam keadaan bersih.
Masyarakat muslim saat itu dengan wajah yang berseri seri bahagia menyambut hari kemenangan tersebut. Anjuran memakai baju terbaik inilah yang menjadi fenomena masyarakat muslim di Indonesia untuk selalu membeli baju baru. Mengenakan baju baru menjadi sebuah impian sebagai rasa syukur dan penyambutan perayaan kemenangan di hari nan fitri.
Satu hal yang pasti kegembiraan perayaan Idul fitri ini adalah harus bermakna dan juga dalam kesederhanaan. Sederhana dalam artian tidak bermewah-mewahan, kita mampu menempatkan sesuatu yang dibutuhkan sesuai dengan kepentingan.
Ada banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan urun tangan kita untuk bisa bertahan hidup, terlebih banyak masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19. Menyoal aspek ekonomis lain jauh lebih bermanfaat adalah keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, kemampuan untuk menabung, dan kesempatan berinfak sedekah.
Mengutip kisah bagaimana kesedihan, kesederhanaan dan kedermawanan Sayyidina Ali Bin Abi Tholib yang termaktub dalam dua kitab, yakni Sirrah Ashabu an-Nabi karya Syekh Mahmud al-Misri dan Syiar A’lam An-Nubala’ karya Imam Adz-Dzahabi (Akurat.co). Dikisahkan bagaimana Sahabat Ali bin Abi Thalib justru pernah merasakan kesedihan lantaran Ramadhan telah pergi.
Suatu ketika, Sahabat Ali merasa sangat sedih setelah salat Asar di penghujung ramadhan. Ia kemudian pulang ke rumahnya dan disambut oleh istri tercinta Fatimah Az-Zahra. Fatimah pun heran melihat mata suaminya itu sebab melukiskan kesedihan. Ia lantas bertanya, "Kenapa engkau terlihat pucat, tidak ada tanda-tanda keceriaan sedikit pun di wajahmu, padahal sebentar lagi kita akan menyambut hari kemenangan?”
Sahabat Ali hanya terdiam lesu dan tidak mampu menyembunyikan kesedihannya. Sesaat kemudian ia berkata, "Hampir sebulan kita mendapat pelajaran dari Ramadhan bahwa lapar dan haus itu teramat pedih. Segala puji bagi Allah, yang sering memberi hari-hari kita dengan perut sering terisi."
Sahabat Ali setelah berunding dengan istrinya lalu berniat untuk membagikan sejumlah harta simpanannya pada fakir miskin.Setelah takbir berkumandang di hari Idul fitri, Sahabat Ali pun membagikan sejumlah gandum dan dua karung kurma hasil dari panen kebunnya. Berkeliling dari pojok kota dan perkampungan untuk membagi kebahagian kepada para fakir miskin, anak yatim piatu dan yang membutuhkan lainnya.
Singkat cerita, sahabat Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali berkunjung dan bermaksud mengucapkan selamat Idulfitri kepada Ali. Saat masuk ke rumah Ali, betapa terkejutnya mereka melihat sebuah nampan yang berisi gandum dan roti kering yang sudah basi dan tidak layak dikonsumsi.
Menyaksikan keadaan keluarga Ali yang memprihatinkan ketika hari raya tersebut, Ibnu Rafi’i dan Abu Al Aswad Ad Du’ali merasa sangat sedih dan melaporkannya kepada Rasulullah saw.
Akhirnya, Rasulullah lalu menengok rumah putri dan menantunya tersebut. Dan betapa kagetnya pula Rasulullah saat melihat keadaan Ali dan Fatimah di saat semua orang bergembira karena hari raya.
Rasulullah berdoa, "Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah."
Kita mungkin bisa mengambil hikmah dari kesederhanaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika berhari raya Idul fitridan lebih mengutamakan kebahagian orang lain yang lebih membutuhkan daripada dirinya sendiri.
Bukankah Nabi Muhammad SAW pun mengajarkan umatnya merayakan lebaran tidak dengan baju baru, akan tetapi dengan ‘Jiwa Baru’. Spiritual lebaran yang hakiki adalah kembali ke fitrah bagi mereka yang telah melakukan berbagai macam upaya pembersihan dan penyucian diri melalui amalan ramadhan, seperti puasa, zakat, tadarus Al-Qur'an, Qiyamul Lail, iktikaf, dan berbagai amal sosial, seperti sedekah, silaturahim, memberi buka puasa, dan lain sebagainya.
**Asep Totoh - Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666 Cileunyi Bandung.
