Konten dari Pengguna

Tips Keluarga Harmonis dan Bahagia di Masa Pandemi

Asep Totoh

Asep Totohverified-green

Guru SMK Bakti Nusantara 666, Dosen Masoem University, Guru SMP Pasundan Rancaekek

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asep Totoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

com-Ilustrasi keluarga bahagia di hari tua Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
com-Ilustrasi keluarga bahagia di hari tua Foto: Shutterstock

WABAH COVID-19 telah memaksa perubahan tatanan kehidupan, bekerja, belajar, dan beribadah semua lebih banyak dilakukan di rumah. Saat pandemi ini ada banyak waktu untuk satu keluarga lebih banyak waktu bersama keluarga, akan tetapi jika masyarakat terlalu lama berdiam diri di rumah tentu bisa menimbulkan rasa ketidakharmonisan bagi keluarga.

Momentum pandemi COVID-19 sepertinya memang dimaksudkan agar kita lebih banyak mengenali kembali "konstruksi bangunan rumah atau keluarga kita" yang sebelumnya mungkin sering kita abaikan atau bahkan kita lupakan, padahal selama ini menjadi satu-satunya tempat yang relatif paling aman, nyaman, dan terlama untuk beraktivitas bagi kita berada.

Menjaga keluarga tetap harmonis dan bahagia adalah impian dan idaman setiap orang. Namun bukan perkara mudah, dikarenakan bukan tidak mungkin jika setiap pasangan mengalami ujian kesabaran dan kesetiaan dalam rumah tangga. Yang diperlukan saati ini adalah saling menguatkan dan melembagakan nilai dan tujuan berkeluarga serta pentingnya membangun dan memelihara keharmonisan keluarga.

Ilustrasi Foto Keluarga Doc. Pribadi

Dalam Islam, keluarga yang harmonis adalah keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah. Atau bisa diartikan dengan keluarga yang damai tentram, penuh cinta kasih atau harapan, dan kasih sayang. Hal ini bisa menjadi landasan dalam berkeluarga, agar senantiasa mendapat keridhoan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan kepada kita bagaimana menjaga ikatan keluarga dalam Islam. Dia suka menghabiskan waktu bersama keluarga dan selalu mengingatkan keluarganya untuk tetap berada di jalan yang benar dan berbuat baik.

Berikut beberapa hal dari pelbagai literatur yang sedang dipelajari penulis untuk dilakukan dalam membentuk keluarga harmonis dan bahagia di masa pandemi;

  1. Saling menjaga, mengingatkan dan meningkatkan Ibadah Keluarga . Keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warohmah tidak akan terwujud bila pasangan tidak menjaga, mengingatkan dan meningkatkan kewajiban ibadahnya dengan baik.

  2. Bersama dan bersatu membangun Spirit/model baiti jannati. Bagaimana sebagai sebuah rumah yang berkategori menjadi tempat terindah, tempat ternyaman dan tempat yang paling ideal untuk membangun sebuah kehidupan.

  3. Kembali memperkuat koneksitas rasa emosional diantara masing-masing anggota keluarga, yang pada gilirannya akan merangsang motivasi untuk berkomunikasi secara lebih intensif.

  4. Komunikatif. Senatiasa selalu aktif berkomunikasi dengan Allah, orang tua, mertua, pasangan, dan anak-anak. Adanya komunikasi intensif tentu akan memicu sharing banyak hal yang sudah pasti akan merangsang munculnya ide-ide kreatif, terutama ide-ide terkait upaya untuk terus memperbaiki level kenyamanan saat beraktifitas dirumah.

  5. Pandai bersyukur nikmat. Semua orang di keluarga harus memperbanyak syukur kepada Allah dan terima kasih kepada pasangan. Hindari kebiasaan mengeluh, sebab itu tanda keimanan yang keropos dan mental yang sakit. Allah swt sudah memberi jaminan keberkahan dan kebahagiaan bagi setiap orang yang pandai bersyukur nikmat, maka akan ditambah nikmat-nikmat lainnya termasuk kualitas hidupnya. (QS. Ibrahim [14]: 7).

  6. Saling menghargai dan berlaku bijak. Selalu menghargai di keluarga, jadilah orang bijak yang selalu menjaga lisannya. “Think today and speak tomorrow / berpikirlah sekarang, dan katakan besok.” Ali bin Abi Thalib r.a berkata, “Lidah orang cerdas di belakang hatinya, dan lidah orang bodoh di depan hatinya.” Artinya, hanya orang bodoh yang tidak selektif terhadap kata yang akan diucapkan. Jangan pula asal terima semua informasi. Kita harus selektif terhadap informasi negatif tentang apaun terutama keluarga. Selalu melakukan tabayun atau klarifikasi, apalagi pada era banjir informasi seperti sekarang ini.

  7. Komitmen untuk rumah yang nyaman, dan tetangga yang baik. “Ada empat diantara kebahagiaan : istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman. Ada empat kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk”. [HR. Ibnu Hibban)

  8. Menghabiskan waktu berkualitas Bersama Keluarga. Menghabiskan waktu berkualitas merupakan hal penting dalam menjaga ikatan keluarga. Kita bisa melakukan banyak kegiatan rekreasi bersama, saling bercerita, dan melakukan aktivitas yang menyenangkan juga akan menumbuhkan cinta di tengah keluarga.

  9. Jangan mencari-cari dan membesarkan kesalahan di keluarga, mudah memaafkan kesalahan. Selain jangan mencari dan membesarkan kesalahan dikeluarga, kita harus mudah memaafkan kesalahan keluarga kita. Dan kita juga harus selalu mampu menahan amarah kita terhadap mereka.

Mampukah kita meraih kedamaian, ketentraman dan kenyamanan keluarga...

“Allah menjadikan untuk kamu rumah-rumah sebagai tempat ketenangan…(QS. An-Nahl: 80).

Menjadi Impian kita, sebuah ungkapan yang sangat filosofis yaitu ‘baiti jannati’ atau ‘rumahku adalah surgaku’ menempatkan rumah bukan sekadar bangunan yang tersusun dari batu bata, beratap, berkeramik, mempunyai pagar, berhias ornamen-ornamen indah dan megah, tetapi rumah diumpamakan surga yakni suatu tempat yang kita yakini penuh kebahagiaan abadi.

Luar biasa, saat ini Allah Swt telah memberikan pelajaran berharga terkait status rumah kita! Menjadikan rumah kita sesempurnanya rumah Allah, "baiti jannati".

Wallahu A’lamu bis Shawab.

Semoga berkah dan manfaat!

Asep Totoh, Dosen Ma'soem University, Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara 666