Ribuan Penelitian, Minim Dampak: Ketika Karya Ilmiah Tak Sampai ke Masyarakat

Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang dan Dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Asima Rohana Sinaga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, ribuan skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah lahir dari perguruan tinggi di Indonesia. Di balik setiap karya itu, tersimpan waktu, tenaga, biaya, dan pemikiran yang tidak sedikit. Mahasiswa menghabiskan waktu berbulan-bulan mengumpulkan data dan menulis laporan penelitian. Dosen dan peneliti terus didorong untuk meningkatkan produktivitas publikasi sebagai bagian dari tuntutan akademik. Di atas kertas, kondisi ini seharusnya menjadi pertanda baik: semakin banyak penelitian, semakin besar pula peluang untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.
Pada kenyataannya tidak selalu demikian. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD. Kemampuan berpikir kreatif peserta didik Indonesia juga masih menghadapi tantangan serius. Pada saat yang sama, berbagai persoalan pendidikan seperti rendahnya literasi membaca, lemahnya kemampuan berpikir kritis, masifnya disinformasi digital, hingga kesenjangan kualitas pembelajaran masih terus menjadi perbincangan. Paradoks pun muncul: ketika penelitian terus bertambah, mengapa banyak persoalan yang sama tetap bertahan?
Salah satu jawabannya mungkin terletak pada hubungan yang belum sepenuhnya terbangun antara dunia akademik dan kebutuhan masyarakat. Di berbagai kampus, penelitian sering kali berakhir setelah sidang selesai atau artikel berhasil diterbitkan. Karya ilmiah yang lahir dari proses panjang kemudian tersimpan di perpustakaan, repositori digital, atau jurnal akademik yang hanya dibaca kalangan tertentu. Banyak gagasan, rekomendasi, dan temuan yang sesungguhnya memiliki potensi besar untuk membantu sekolah, komunitas, maupun pembuat kebijakan, tetapi tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Akibatnya, penelitian sering dipersepsikan sebagai aktivitas akademik yang berhenti pada pemenuhan kewajiban formal. Mahasiswa meneliti untuk memperoleh gelar. Dosen meneliti untuk memenuhi target publikasi. Institusi mendorong penelitian untuk kepentingan akreditasi dan pemeringkatan. Semua tujuan tersebut tentu penting. Namun ketika keberhasilan penelitian lebih banyak diukur dari jumlah karya yang dihasilkan daripada dampak yang diciptakan, penelitian berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai instrumen perubahan sosial.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, dunia pendidikan tinggi juga sedang menghadapi kritik terhadap budaya publish or perish, yaitu kecenderungan menilai keberhasilan akademik berdasarkan kuantitas publikasi. Namun dalam konteks Indonesia, tantangannya menjadi lebih kompleks karena banyak persoalan sosial dan pendidikan yang sesungguhnya membutuhkan kontribusi nyata dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
Ironisnya, kampus sebenarnya tidak kekurangan ide. Setiap tahun lahir ribuan penelitian tentang literasi, pembelajaran digital, kecerdasan buatan dalam pendidikan, pengembangan kurikulum, hingga pemberdayaan masyarakat. Yang sering kali kurang adalah mekanisme untuk memastikan bahwa ide-ide tersebut dapat diterjemahkan menjadi praktik, kebijakan, atau inovasi yang dirasakan manfaatnya oleh publik.
Sudah saatnya perguruan tinggi memperluas cara pandangnya terhadap penelitian. Keberhasilan akademik tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya publikasi atau tebalnya laporan penelitian, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian mampu menjawab persoalan nyata yang terjadi. Penelitian perlu didorong untuk hadir dalam bentuk yang lebih mudah diakses masyarakat, seperti artikel populer, infografis, modul pembelajaran, video edukasi, rekomendasi kebijakan, maupun program pengabdian berbasis temuan riset.
Kampus juga perlu memperkuat perannya sebagai jembatan antara pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Jika ada penelitian tentang peningkatan literasi, hasilnya harus sampai kepada guru dan sekolah. Jika ada penelitian tentang penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, hasilnya perlu menjadi panduan bagi pendidik dan orang tua. Jika ada penelitian tentang persoalan sosial di daerah tertentu, hasilnya seharusnya dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan. Dengan cara itu, penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi hidup sebagai solusi.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan pengetahuan. Yang kita perlukan adalah kemampuan untuk menghubungkan pengetahuan tersebut dengan tindakan nyata. Sebab nilai sebuah penelitian tidak terletak pada jumlah halamannya, tetapi pada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Karya ilmiah yang baik tidak hanya yang berhasil dipertahankan di hadapan penguji, tetapi juga yang mampu hadir di tengah kehidupan dan membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi bersama.
Ketika karya ilmiah belum menemukan jalan pulang ke masyarakat, yang hilang bukan hanya kesempatan untuk memanfaatkan hasil penelitian. Yang hilang adalah peluang untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kekuatan yang benar-benar mengubah kehidupan. Dan di situlah tantangan terbesar dunia akademik hari ini: tidak menghasilkan lebih banyak karya, tetapi memastikan setiap karya memiliki kesempatan untuk menghadirkan perubahan kepada masyarakat luas.
