Eksistensi Agama dari Sudut Pandang Orang Jepang

Asma Anjari Azizah
Mahasiswa S1 Studi Kejepangan Universitas Airlangga
Konten dari Pengguna
6 November 2023 9:22 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Asma Anjari Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Pandangan Orang Jepang Terhadap Agama

sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, agama merupakan suatu ikatan budaya dan tradisi. Negara Jepang dalam sejarahnya mengalami perkembangan agama yang menimbulkan munculnya agama-agama baru, tetapi agama asli tetap dipertahankan. Meskipun agama dikatakan suatu bagian yang tidak begitu penting dalam kehidupan masyarakat Jepang, tetapi pada kenyataannya, orang Jepang tetap melanjutkan kehidupan beragama di dalam perilaku sehari-hari mereka sebagai "penjaga tradisi" kebudayaan mereka.
Foto: www.pexels.com
Bagi masyarakat Jepang, memiliki lebih dari satu agama atau disebut dengan “double faith” merupakan sesuatu yang wajar, hal ini bisa kita lihat dari total keseluruhan penganut agama di Jepang yang lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan total jumlah penduduknya. Jika dijumlahkan, total seluruh penganut dari agama shinto, buddha, katolik, Islam dan kristen protestan berjumlah 290 juta orang. Sedangkan total penduduk Jepang berjumlah 124,34 juta orang.
ADVERTISEMENT
Ada empat hal yang dianggap sebagai konsep beragama dalam kehidupan di Jepang:
1. Percampuran antara banyaknya agama-agama dan agama asli orang Jepang membuat "agama" asli Jepang semakin hilang.
2. Perbedaan antara agama dengan budaya dan rutinitas semakin tipis yang membuat konsep beragama orang Jepang benar-benar berbeda dari bangsa lain.
3. Bagi masyarakat Jepang, melakukan aktivitas yang berbau dengan agama dipandang aneh dan negatif, bisa dibilang orang yang mempelajari agama hanyalah orang yang memiliki kelainan mental.
4. Banyak sekali perilaku masyarakat Jepang yang menunjukkan bagaimana percampuran antara agama tidak jelas batas-batasnya, dan hal ini tidak menjadi suatu permasalahan karena di Jepang karena bagi mereka agama adalah suatu kebebasan. Jiwa bebas masyarakat Jepang itu tidak mau terikatnya mereka dengan satu paham agama tertentu.
ADVERTISEMENT

Sikap Orang Jepang Terhadap Agama dari Luar Jepang

Sikap orang Jepang terhadap agama, aliran atau ajaran yang berasal dari luar Jepang pada dasarnya tidak ada pertentangan atau penolakan karena karakter mereka di dalam beragama tidak sama dengan orang Barat atau penganut agama-agama samawi. Orang Jepang bisa dikatakan sebagai masyarakat yang religius karena sikapnya dalam menghormati keberadaan agama-agama yang ada dan jarang terjadinya pertentangan yang terjadi disebabkan oleh perbedaan agama. Masyarakat Jepang juga menganggap bahwa agama bukanlah suatu hal yang perlu diumbar kepada publik atau bersifat tertutup karena bersifat pribadi.
Foto: Freepik.com

Agama Asli Orang Jepang

Agama asli orang Jepang adalah Shinto yang memiliki arti "jalan para dewa" sebuah faham keagamaan yang muncul, hidup dan berkembang di Jepang. Di dalam agama Shinto, dianggap bahwa semua benda, baik yang hidup atau mati, memiliki “spirit”, dan benda tersebut dianggap mempunyai kekuatan untuk berbicara serta daya kekuasaan yang berpengaruh ke dalam hidup masyarakat Jepang, pada dasarnya, inti dari agama Shinto adalah "semua benda di dunia baik yang bernyawa ataupun tidak pada hakikatnya memiliki spirit atau kekuatan yang wajib dihormati".
Foto: https://www.pexels.com/photo/photo-of-people-in-temple-japan-861446/
Spirit yang disembah oleh masyarakat Jepang disebut dengan "Kami" istilah di agama Shinto yang memiliki arti "di atas" atau "unggul" atau bisa diartikan juga sebagai Dewa. "Kami" atau "Kamisama" bersemanyam di berbagai macam ruang atau tempat dan benda mati atau hidup, misalnya: pohon, hutan, gunung, sungai, batu besar, dan bunga. Penamaan "Kami" di agama Shinto terbilang cukup sederhana yaitu kata "Kami" ditambahkan dengan kata benda. Tuhan yang berdiam di gunung dinamakan yama no kami (Tuhan Gunung), Tuhan yang berdiam di sungai dinamakan kawa no kami (Tuhan Sungai) dan lain sebagainya
ADVERTISEMENT

Eksistensi Agama- agama di Jepang

Foto: https://www.freepik.com/
1. Agama Hindu, merupakan agama minoritas di Jepang, kebanyakan penganut agama ini berasal dari imigran berkebangsaan India atau Nepal. Walaupun agama minoritas di Jepang terdapat "Tujuh Dewa Keberuntungan" yang empat di antaranya merupakan dewa agama Hindu: Benzaitensama (Sarasvati), Daikokuten (Shiva), Bishamon (Kubera), dan Kichijoten (Lakshmi). Dewa-dewa Hindu dipuja oleh masyarakat Jepang khususnya dalam Buddhisme Shingon, beberapa kuil agama Hindu di Jepang; Kuil Ganesha di Asakusa, Kuil Shiva Sakti & Ashram Tokyo, Kuil Shidri Sai Baba Tokyo, dan Kuil Benzaitensama
2. Agama Kristen, orang Jepang pada awalnya tertarik dengan pengetahuan dan teknologi dari negara Barat sehingga semakin terbuka bagi masuknya agama Kristen. Bahkan pemerintahan Jepang mengangkat orang-orang Kristen sebagai pengajar di perguruan tinggi yang ada di Jepang. Saat ini ada 3 juta penganut agama Kristen di Jepang, 70% gereja Jepang memiliki pengunjung kurang dari 30 orang. Meskipun begitu, jumlah anggotanya 2 kali lipat lebih banyak dari jumlah pengunjung.
ADVERTISEMENT
3. Agama Katolik, faktor-faktor yang mendukung penginjilan katolik adalah hilangnya agama Buddha, kelemahan pemerintahan pusat dan keinginan orang Jepang menguasai teknologi baru. Gereja Katolik cepat berkembang di Jepang, namun periode perkembangan tersebut disusul oleh penghambatan pada abad 17 ketika semua orang asing masuk ke Jepang. Saat ini terdapat 509.000 jiwa penganut agama Katolik, dan ada 16 keuskupan termasuk 3 keuskupan agung dengan 1.589 imam dan 848 paroki di seluruh Jepang.
4. Agama Buddha, merupakan salah satu agama yang memiliki pengaruh kuat di kehidupan masyarakat Jepang. Agama Buddha digunakan di situasi tertentu, aliran Buddha identik dengan pemakaman dan kematian.
5. Agama islam, , termasuk agama minoritas di Jepang. Perkembangan agama Islam di Jepang tidak sebagus di negara lain karena negara Jepang masih terikat dengan kebiasaan dan adat istiadat yang didasari oleh agama Shinto. Selain itu juga penyebaran agama Islam di Jepang dilakukan tanpa dana dan organisasi. Akan tetapi, pemeluk agama Islam bertambah setelah perang dunia kedua usai hubungan antara negara Jepang dan negara-negara Islam semakin erat dan banyak orang Islam yang tinggal di Jepang.
ADVERTISEMENT

Kesimpulan

Foto: https://www.pexels.com/photo/conclusion-word-formed-from-lettered-yellow-tiles-1888005/
Konsep beragama di Jepang sangatlah bebas, mereka menganggap agama sebagai suatu ikatan dan tradisi yang diturunkan dari leluhur mereka dan dikenal dengan sebutan agama asli Jepang yaitu agama Shinto. Percampuran antara agama juga mempengaruhi bagaimana kebudayaan yang terbentuk. Masyarakat Jepang tidak suka terikat dengan satu agama tertentu bahkan memiliki lebih dari satu agama dianggap wajar dan inilah yang menyebabkan jumlah penganut agama lebih besar daripada jumlah penduduk negaranya.
Bagi mereka agama merupakan suatu hal yang tidak begitu penting dan sebagian dari masyarakat Jepang menganggap bahwa agama itu hanya dipelajari bagi orang yang memiliki kelainan mental. Meskipun begitu orang Jepang sebenarnya bisa dikatakan sangatlah religius karena mereka menghormati agama-agama yang ada dan jarang terjadinya masalah akibat perbedaan agama.
ADVERTISEMENT
Sumber referensi:
Mulyadi, Budi. (2017). Konsep Agama Dalam Kehidupan Masyarakat Jepang. Semarang. Universitas Diponegoro
Herlina, Sandra. (2011). Suatu Telaah Budaya: Agama dalam Kehidupan Orang Jepang. Jakarta. Universitas Al-Azhar Indonesia
Syahreni, Andi. (2017). Islam di Jepang. Jurnal Rihlah Vol.5 No.2/2017
p2k.stekom.ac.id, Kekristenan di Jepang, 4 November 2023, https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Kekristenan_di_Jepang
p2k.stekom.ac.id, Hinduisme di Jepang, 3 November 2023, https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Hinduisme_di_Jepang
Kusuma, D.M., Suryadi, F.M., Saputro, M.B, Fadhilah, M.P., Kurniawan, A.S. (2023). Mengenal Agama Shinto dari Jepang. Universitas Pembangunan Jaya. Volume 1 No.2 tahun 2023. https://journal.csspublishing/index.php/ijm