Affan Kurniawan, Aksi Kemanusiaan Lintas Negara

Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Republika (2003-2005), Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007), Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Asro Kamal Rokan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

RAKYAT menemukan jalannya sendiri. Hati nurani membawa mereka pada jalan yang sama, tanpa batas negara, agama, dan ideologi. Hal yang mungkin saja tidak terlintas dalam pikiran banyak orang saat itu: Solidaritas untuk kemanusiaan.
Affan Kurniawan, pengemudi ojek online (Ojol) tewas ditabrak kendaraan taktis Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Metro Jaya, pada 28 Agustus 2025. Video tragedi bersamaan unjuk rasa mahasiswa di Jakarta itu, cepat menyebar melalui sosial media, melintasi berbagai negara. Affan tidak ikut demonstrasi, dia sedang mengantarkan pesanan makanan.
Pemuda berusia 21 tahun, tulang punggung keluarganya, tinggal di rumah kontrakan di gang sempit daerah Menteng, Jakarta, bersama orang tua dan adik-adiknya. Affan potret nyata nasib orang-orang terpinggirkan. Negara tidak menyediakan pekerjaan untuk mereka, tapi mengambil pendapatan mereka melalui pajak untuk pembangunan infrastruktur, gaji polisi, anggota parlemen dengan segala tunjangan yang terus meningkat, dan juga kemewahan.
Sehari kemudian, ribuan pengemudi ojek mengantar jenazah Affan ke pemakaman Karet Bivak, Jakarta Pusat. Iring-iringan ojol berjaket hijau itu seperti air sungai di tengah Jakarta yang berapi. Air jernih kemanusiaan itu mengalir jauh, menyentuh anak-anak muda di Malaysia, Singapura, Thailand hingga Filipina. Mereka Generasi Z, yang tumbuh dalam perkembangan dunia digital. Melalui smartphone mereka cepat berinteraksi.
Dan, mengejutkan. Melalui aplikasi pemesanan makanan ojek online, mereka membeli makanan dan meminta pengemudi ojol membagikan makanan ke pengemudi lainnya, yang kesulitan mendapatkan pelanggan karena unjuk rasa masif. Pengiriman makanan ini berubah menjadi gerakan dengan skala luas dan jumlah transfer dana yang tidak kecil. Ini berhari-hari.
Melalui sosial media, di antaranya Tiktok, para pengemudi yang mendapat pesanan makanan, tidak saja menyampaikan terima kasih, beberapa di antaranya menangis haru. Solidaritas kemanusiaan ini pun menjadi perbincangan dan viral.
Ini bukan hubungan pemberi dan penerima, melainkan kemanusiaan. Siapa yang menggerakkan anak-anak muda Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina tersebut? Hati nuranilah yang menggerakkan mereka. Generasi Z dari berbagai latar belakang itu tidak mengenal Affan dan sejumlah pengemudi ojol yang mereka titipkan untuk membeli makanan. Tapi mereka percaya. Kepercayaan dan keikhlasan luar biasa, yang kini menjadi barang mewah di antara para pemimpin politik.
Solidaritas kemanusiaan Gen-Z, terutama dari Malaysia, melahirkan perspektif baru. Semula, berkembang pendapat bahwa hubungan Indonesia-Malaysia mesra antarpemimpin – sejak masa Pak Harto-Tunku Tun Mahatir, hingga era kini Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Anwar Ibrahim -- namun tidak di tingkat rakyat, terutama netizen.
Hubungan anak muda diwarnai keributan dan saling serang, antara lain soal kebudayaan, olahraga, dan makanan. Tapi kini, rasa kemanusiaan mempertemukan mereka.
Netizen Indonesia dengan akun @gingear1 dalam postingannya di Tiktok menyatakan salut pada netizen Malaysia yang mengirim donasi untuk pengemudi ojol, walau pun menurutnya, netizen Indonesia dan Malaysia sering ribut soal kultur dan makanan.
“(Keributan) ini kan hanya internet beef ya, bukan realita. Kita ini kan bersaudara, serumpun ya saling bantu saat di antara kita ada yang mengalami krisis. Gua salut dengan netizen Malaysia. Terima kasih ya Malaysia,” ujarnya. “Next time kita main klaim-klaim lagi ya ..” lanjutnya bercanda.
Anak muda @gingear1 menyuarakan realitas, yang mungkin tidak terpikirkan generasi lebih tua, yang terkadang melihat hubungan kedua negara dalam tafsir dan perspektif politik.
Affan Kurniawan telah pergi secara tragis. Kepergian pengemudi ojol ini, tidak saja dikenang sebagai perilaku buruk aparat negara melindungi rakyat, hidup yang dapat berakhir di tengah hak berunjuk rasa, tapi juga memberikan kesadaran baru: solidaritas kemanusiaan tanpa batas negara, agama, juga ideologi.
Sungguh, dunia ini dapat menjadi tempat yang indah jika saling menghargai, menghormati, dan kasih sayang.
