Tarot di Zaman Modern: Ketika Manusia Masih Mencari Jawaban dari Kartu

Dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Ambon
·waktu baca 17 menit
Tulisan dari El-Roi R Madubun tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah paradoks kecil yang menarik dalam kehidupan manusia modern. Kita hidup pada zaman ketika hampir segala sesuatu berusaha dijelaskan melalui data, angka, statistik, teknologi, algoritma, dan metode ilmiah. Masa depan pekerjaan dapat diproyeksikan melalui analisis pasar tenaga kerja. Kondisi kesehatan dapat dipantau melalui perangkat digital. Perjalanan dapat diprediksi melalui aplikasi. Bahkan perilaku konsumen dapat dianalisis dari jejak digital yang kita tinggalkan setiap hari.
Semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin besar pula harapan bahwa kehidupan dapat diprediksi dan dikendalikan. Namun, di tengah dunia yang semakin rasional itu, praktik-praktik yang berhubungan dengan ramalan justru tidak menghilang. Astrologi, zodiak, numerologi, spiritualitas, dan tarot tetap menemukan pengikutnya. Bahkan, praktik-praktik tersebut justru memperoleh bentuk baru melalui teknologi digital.
Tarot tidak lagi harus ditemukan di ruang-ruang tertentu yang diasosiasikan dengan praktik mistik. Ia hadir di TikTok, Instagram, YouTube, podcast, komunitas daring, hingga berbagai platform digital lainnya. Kita dapat dengan mudah menemukan video pick a card, pembacaan tarot tentang percintaan, karier, masa depan, energi seseorang, hingga “pesan semesta”.
Pertanyaannya kemudian menjadi menarik: jika masyarakat modern semakin rasional, mengapa tarot justru tetap hidup dan bahkan berkembang? Apakah keberadaan tarot menunjukkan bahwa manusia modern sebenarnya tidak sepenuhnya rasional? Ataukah fenomena ini justru menunjukkan sesuatu yang lebih dalam bahwa rasionalitas, secanggih apa pun, tidak pernah benar-benar mampu menghapus kebutuhan manusia terhadap makna, harapan, simbol, dan kepastian?
Barangkali persoalan tarot memang bukan semata-mata mengenai kartu. Tarot adalah fenomena sosial. Ia memperlihatkan bagaimana manusia berusaha menghadapi ketidakpastian, bagaimana keyakinan terbentuk, bagaimana simbol memperoleh makna, bagaimana ramalan dapat memengaruhi perilaku, dan bagaimana sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah tetap dapat menghasilkan konsekuensi sosial yang nyata.
Ketika Kartu Permainan Berubah Menjadi Alat Ramalan
Tarot pada awalnya bukan alat untuk meramal masa depan. Secara historis, kartu tarot muncul di Italia pada abad ke-15 sebagai bagian dari permainan kartu, terutama di lingkungan aristokrasi Eropa. Pada masa awal tersebut, kartu-kartu tarot belum memiliki fungsi mistik seperti yang dikenal sekarang. Hubungannya dengan praktik ramalan baru berkembang jauh kemudian, terutama pada akhir abad ke-18 ketika sejumlah tokoh esoterik Eropa mulai memberikan tafsir baru terhadap kartu tersebut.
Salah satu tokoh penting dalam perubahan tersebut adalah Antoine Court de Gébelin. Pada akhir abad ke-18, ia menghubungkan tarot dengan pengetahuan Mesir kuno, simbolisme mistik, dan gagasan mengenai pengetahuan rahasia yang kemudian membuat tarot diasosiasikan dengan sumber kebijaksanaan kuno. Banyak klaim historis tersebut tidak didukung oleh bukti sejarah yang kuat. Namun, gagasan itu tetap memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan tradisi esoterik Barat. Tidak lama kemudian, Jean-Baptiste Alliette atau Etteilla mengembangkan sistem penggunaan tarot sebagai alat divinasi.
Sejarah ini penting karena menunjukkan bahwa makna sebuah benda tidak selalu melekat secara permanen pada benda tersebut. Sebuah kartu yang pada mulanya digunakan untuk bermain dapat berubah menjadi simbol spiritual dan alat ramalan karena masyarakat memberikan makna baru kepadanya.
Sebuah benda bukan hanya memiliki makna berdasarkan bentuk materialnya, tetapi juga berdasarkan proses sosial yang membentuk, menyebarkan, dan melegitimasi makna tersebut. Tarot sebagai ramalan adalah hasil dari sejarah sosial tertentu: reinterpretasi, pembentukan tradisi, penyebaran pengetahuan, serta penerimaan sosial yang berlangsung selama berabad-abad.
Ketika seseorang mengatakan bahwa tarot “sudah digunakan sejak zaman dahulu untuk membaca masa depan”, terdapat perbedaan penting yang perlu diperhatikan antara sejarah tarot sebagai kartu dan sejarah tarot sebagai praktik divinasi. Tarot memang memiliki sejarah panjang. Tetapi fungsi meramal masa depan merupakan perkembangan yang jauh lebih kemudian.
Manusia Modern dan Kecemasan yang Tidak Pernah Hilang
Di balik popularitas tarot terdapat sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar kepercayaan terhadap kartu yaitu kebutuhan manusia untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti. Manusia tidak hanya hidup dalam dunia yang sedang berlangsung. Kita juga hidup dalam bayangan tentang apa yang mungkin terjadi.
Seseorang bertanya apakah ia akan mendapatkan pekerjaan. Apakah hubungannya akan bertahan? Apakah orang yang disukainya memiliki perasaan yang sama? Apakah keputusan yang sedang diambil merupakan keputusan yang tepat? Apakah kehidupannya akan berubah dalam beberapa bulan mendatang? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu merupakan bagian dari kehidupan manusia. Masalahnya, tidak semua pertanyaan tersebut dapat dijawab oleh data. Bahkan ketika data tersedia, data pun tidak selalu mampu memberikan kepastian.
Di sinilah modernitas menghadirkan paradoksnya sendiri. Masyarakat modern memang tidak menciptakan ketidakpastian, tetapi ia memperbesar jumlah keputusan yang harus diambil individu. Jika masyarakat tradisional juga menghadapi ketidakpastian, individu modern menghadapi sesuatu yang sedikit berbeda: terlalu banyak pilihan. Kita harus memilih pendidikan, pekerjaan, pasangan, tempat tinggal, gaya hidup, bahkan identitas diri. Kehidupan modern menuntut manusia untuk terus memilih.
Namun, semakin banyak pilihan tidak selalu berarti semakin sederhana kehidupan. Sebaliknya, pilihan yang semakin banyak dapat menghasilkan kecemasan. Ketika seseorang memiliki sepuluh kemungkinan jalan hidup, ia juga memiliki sepuluh kemungkinan untuk merasa telah salah memilih. Ketika seseorang memiliki banyak pilihan pasangan, ia dapat semakin bertanya apakah orang yang dipilih benar-benar pasangan yang tepat.
Kebebasan modern dengan demikian memiliki sisi paradoksal. Semakin besar kebebasan memilih, semakin besar pula tanggung jawab individu terhadap konsekuensi pilihannya. Dalam situasi seperti itu, tarot menawarkan sesuatu yang tidak selalu diberikan oleh rasionalitas: narasi. Tarot dapat menyusun pengalaman yang terasa kacau menjadi sebuah cerita. Masa lalu dapat dibaca sebagai sumber persoalan. Masa kini menjadi kondisi yang sedang dihadapi. Masa depan menjadi kemungkinan yang sedang terbuka.
Kartu menyediakan bahasa simbolik untuk membicarakan kecemasan yang terkadang sulit dirumuskan dengan bahasa sehari-hari. Karena itu, daya tarik tarot tidak harus dipahami sebagai bukti bahwa kartu tersebut memiliki kemampuan supernatural. Tarot dapat berfungsi karena manusia memang membutuhkan perangkat simbolik untuk mengorganisasikan pengalaman. Ia memberikan struktur kepada sesuatu yang sebelumnya terasa tidak terstruktur.
Semakin Rasional Dunia, Semakin Kita Sadar Bahwa Tidak Semua Hal Bisa Dikendalikan
Di sinilah pemikiran Max Weber menjadi penting. Weber melihat modernitas melalui proses rasionalisasi. Kehidupan modern ditandai oleh berkembangnya kalkulasi, birokrasi, ilmu pengetahuan, teknologi, aturan, pengukuran, dan sistem yang berusaha membuat kehidupan semakin dapat diprediksi. Dunia modern berusaha mengubah ketidakpastian menjadi sesuatu yang dapat dihitung. Tetapi ada paradoks di dalamnya: semakin rasional dunia menjadi, semakin manusia menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.
Teknologi dapat meningkatkan kemampuan memperkirakan cuaca, tetapi tidak menghilangkan bencana. Ekonomi dapat menggunakan berbagai model prediksi, tetapi krisis tetap dapat terjadi. Ilmu kedokteran dapat meningkatkan kemampuan diagnosis, tetapi tidak memberikan kepastian mutlak mengenai kehidupan setiap individu. Pendidikan dapat meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan, tetapi tidak menjamin masa depan seseorang.
Dalam konteks inilah tarot dapat dibaca sebagai salah satu bentuk re-enchantment: munculnya kembali pengalaman simbolik dan pencarian makna di dalam dunia yang semakin rasional. Namun, ini bukan berarti masyarakat modern meninggalkan rasionalitas lalu kembali sepenuhnya kepada dunia mistik.
Kenyataannya jauh lebih kompleks. Seseorang dapat bekerja menggunakan spreadsheet, melakukan transaksi melalui aplikasi perbankan, menggunakan kecerdasan buatan dalam pekerjaannya, mempercayai hasil penelitian ilmiah, tetapi pada malam harinya menonton pembacaan tarot mengenai hubungan percintaannya. Rasionalitas dan keyakinan tidak selalu berada di dua dunia yang sepenuhnya terpisah. Keduanya dapat hidup berdampingan dalam kehidupan individu yang sama.
Manusia modern dapat sangat rasional dalam satu konteks, sekaligus mencari makna simbolik dalam konteks lainnya. Pemikiran Ulrich Beck mengenai risk society memperlihatkan lapisan persoalan yang lain. Modernitas bukan hanya menghasilkan kemajuan, tetapi juga menghasilkan risiko yang semakin kompleks. Risiko lingkungan, perubahan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, perkembangan teknologi, pandemi, perubahan iklim, dan berbagai ancaman global membuat masa depan semakin sulit dipastikan.
Individu dituntut mengambil keputusan dalam situasi ketika konsekuensinya belum sepenuhnya diketahui. Dalam keadaan seperti itu, tarot dapat menjadi salah satu cara simbolik untuk berhadapan dengan ketidakpastian. Ia tidak harus memberikan kepastian objektif. Cukup dengan memberikan pengalaman subjektif bahwa situasi yang sedang dihadapi memiliki pola dan makna.
Sementara itu, Zygmunt Bauman melalui konsep liquid modernity menggambarkan kehidupan modern sebagai kehidupan yang semakin cair. Pekerjaan berubah, hubungan sosial berubah, identitas berubah, tempat tinggal berubah, dan orientasi hidup dapat berubah dengan cepat. Stabilitas yang dahulu menjadi sumber orientasi tidak selalu tersedia. Dalam masyarakat yang cair, manusia membutuhkan sesuatu yang dapat membantu mempertahankan kontinuitas diri. Tarot dapat menyediakan narasi semacam itu. Pengalaman masa lalu, keadaan sekarang, dan kemungkinan masa depan seolah dapat ditempatkan dalam satu cerita yang koheren.
Tarot, dalam konteks ini, dapat menjadi mekanisme simbolik untuk menciptakan kontinuitas di tengah kehidupan yang tidak stabil. Perspektif Peter Berger dan Thomas Luckmann mengenai konstruksi sosial realitas kemudian membantu menjelaskan bagaimana keyakinan terhadap tarot dapat terbentuk dan bertahan. Realitas sosial tidak hanya dibangun melalui institusi formal. Ia juga dibangun melalui interaksi sehari-hari, bahasa, kebiasaan, dan pengetahuan yang diwariskan.
Ketika seseorang berulang kali mendengar bahwa kartu tertentu memiliki makna tertentu, membaca buku tarot, mengikuti komunitas tarot, menonton pembacaan tarot, dan mendengar pengalaman orang lain yang mengatakan bahwa tarot “tepat”, maka terbentuklah sebuah dunia pengetahuan tertentu yang membuat tarot terasa masuk akal dalam kerangka sosial tersebut.
Dalam perspektif interaksionisme simbolik, persoalan tersebut menjadi semakin menarik karena sebuah objek memperoleh makna melalui interaksi. Kartu Death, misalnya, tidak harus dimaknai sebagai kematian biologis. Dalam banyak tradisi tarot modern, kartu tersebut dapat ditafsirkan sebagai transformasi, akhir suatu fase, atau perubahan.
Makna itu tidak secara objektif melekat pada gambar kartu. Ia dibentuk melalui tradisi interpretasi dan interaksi sosial. Tarot karena itu bukan hanya seperangkat kartu. Ia merupakan sistem simbol yang memungkinkan manusia berbicara mengenai pengalaman hidup melalui bahasa metaforis tentang kehilangan, kecemasan, cinta, harapan, konflik, perubahan, dan masa depan.
Ketika Ramalan Terasa Benar
Salah satu alasan mengapa seseorang merasa tarot “akurat” adalah karena manusia tidak selalu menerima ramalan secara pasif. Keyakinan terhadap sebuah prediksi dapat memengaruhi bagaimana seseorang bertindak setelah mendengarnya. Robert K. Merton menyebut fenomena ini sebagai self-fulfilling prophecy: sebuah keyakinan terhadap keadaan tertentu dapat memengaruhi tindakan sehingga pada akhirnya keadaan tersebut tampak menjadi kenyataan.
Bayangkan seseorang mendapatkan pembacaan tarot bahwa dalam beberapa bulan mendatang ia akan memperoleh peluang pekerjaan baru. Setelah mendengar pembacaan tersebut, ia menjadi lebih optimistis. Ia memperbarui CV, memperluas jaringan sosial, mengirim lebih banyak lamaran, dan lebih berani mengikuti wawancara. Beberapa bulan kemudian ia mendapatkan pekerjaan. Pengalaman itu dapat membuatnya mengatakan: “Tarot saya benar.”
Padahal, terdapat kemungkinan mekanisme yang berbeda. Tarot tidak harus mengetahui masa depan untuk menjadi bagian dari proses yang menghasilkan masa depan tersebut. Keyakinan yang muncul setelah pembacaan dapat mengubah perilaku seseorang, dan perubahan perilaku tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hasil tertentu.
Namun, tidak semua ramalan yang terasa benar harus dijelaskan melalui self-fulfilling prophecy. Ada kemungkinan kebetulan. Ada pernyataan yang sangat umum. Ada seleksi terhadap pengalaman yang cocok. Ada pula kecenderungan manusia untuk mengingat ramalan yang berhasil dan melupakan ramalan yang tidak terjadi.
Di sinilah confirmation bias menjadi relevan. Jika seseorang mendapatkan sepuluh pernyataan dalam sebuah pembacaan tarot dan hanya dua di antaranya terasa sangat tepat, dua pernyataan tersebut mungkin menjadi bagian yang paling kuat dalam ingatan. Delapan lainnya perlahan menghilang. Ada pula Barnum effect, yakni kecenderungan seseorang menganggap deskripsi yang sebenarnya umum sebagai gambaran yang sangat spesifik mengenai dirinya.
Kalimat seperti “Anda terlihat kuat dari luar, tetapi sebenarnya memiliki sisi sensitif” atau “Anda pernah mengalami kekecewaan sehingga menjadi lebih berhati-hati dalam mempercayai orang” dapat terasa sangat personal, meskipun sebenarnya dapat berlaku bagi banyak orang.
Dalam pembacaan tarot secara langsung, terdapat pula kemungkinan cold reading, yaitu teknik membaca reaksi, bahasa tubuh, respons verbal, dan informasi yang diberikan seseorang untuk menciptakan kesan bahwa pembaca mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya. Hal ini juga tidak otomatis berarti setiap pembaca tarot sengaja menipu. Seorang pembaca dapat sungguh-sungguh percaya pada praktik yang dilakukannya sekaligus menggunakan berbagai bentuk interaksi sosial yang membuat pembacaan terasa semakin personal.
Karena itu, pengalaman “tarot saya tepat sekali” perlu dipahami dengan lebih hati-hati. Pengalaman tersebut nyata bagi orang yang mengalaminya. Namun, pengalaman subjektif tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa tarot memiliki kemampuan empiris untuk mengetahui masa depan.
Tarot di Persimpangan Sains dan Keyakinan
Apakah tarot merupakan pseudoscience? Pertanyaan tersebut sebenarnya perlu dijawab dengan membedakan beberapa hal. Tarot sebagai seperangkat kartu, simbol, praktik budaya, hiburan, atau media refleksi pribadi tidak dengan sendirinya merupakan pseudoscience. Istilah tersebut menjadi relevan ketika suatu praktik membuat klaim mengenai pengetahuan empiris atau kemampuan prediktif, kemudian menyajikan klaim tersebut seolah-olah memiliki dasar ilmiah tanpa bukti yang memadai.
Seseorang dapat menggunakan tarot tanpa menganggapnya sebagai metode ilmiah. Ia dapat menggunakannya sebagai hiburan, ritual pribadi, sarana refleksi, atau bahasa simbolik untuk memahami perasaannya. Dalam konteks seperti itu, pertanyaan mengenai kemampuan tarot memprediksi masa depan bukan selalu menjadi tujuan utama penggunaannya.
Persoalan muncul ketika tarot diposisikan sebagai instrumen yang secara objektif mampu mengetahui kejadian masa depan, membaca pikiran orang lain, mendiagnosis kondisi tertentu, atau memberikan pengetahuan yang seharusnya dapat diverifikasi secara empiris.
Klaim semacam itu membutuhkan bukti yang dapat diuji secara independen dan berulang. Dalam ilmu pengetahuan, sebuah klaim tidak dianggap benar hanya karena terdapat beberapa pengalaman individual yang mendukungnya. Diperlukan metode pengujian yang memungkinkan klaim tersebut dibandingkan dengan kemungkinan kebetulan, efek ekspektasi, bias, dan faktor lainnya. Jika tarot memang mempunyai kemampuan prediktif tertentu, kemampuan tersebut pada prinsipnya harus dapat diuji dalam kondisi terkontrol dan menghasilkan performa yang konsisten melebihi apa yang dapat dijelaskan oleh kebetulan atau mekanisme psikologis.
Sampai pada titik ini, tidak terdapat dasar ilmiah yang kuat untuk menyimpulkan bahwa tarot memiliki kemampuan supernatural yang terbukti dalam memprediksi masa depan. Tetapi kesimpulan tersebut tidak berarti bahwa pengalaman orang yang menggunakan tarot otomatis tidak bermakna.
Di sinilah pentingnya membedakan antara truth claim dan social function. Sebuah praktik dapat tidak terbukti secara ilmiah sebagai metode mengetahui masa depan, tetapi tetap mempunyai fungsi sosial, emosional, simbolik, dan kultural. Dengan kata lain, validitas epistemologis tarot dapat dipertanyakan tanpa harus meniadakan realitas sosialnya. Yang satu berbicara mengenai apakah klaim tersebut benar secara empiris. Yang lainnya berbicara mengenai apa yang dilakukan praktik tersebut dalam kehidupan manusia.
Perbedaan ini penting agar pembahasan mengenai tarot tidak jatuh ke dalam dua ekstrem. Ekstrem pertama adalah menerima seluruh klaim supernatural tanpa pemeriksaan kritis. Ekstrem kedua adalah menganggap bahwa sesuatu yang tidak terbukti secara ilmiah otomatis tidak mempunyai makna sosial apa pun.
Tarot Bukan Jendela Masa Depan, Melainkan Cermin Diri
Ada cara lain yang menarik untuk memahami tarot: bukan sebagai jendela yang memungkinkan manusia melihat masa depan, melainkan sebagai cermin yang memungkinkan manusia melihat dirinya sendiri. Ketika seseorang menarik sebuah kartu dan kemudian mencoba menghubungkannya dengan kehidupannya, yang berlangsung sebenarnya adalah proses interpretasi. Ia mencari hubungan antara simbol pada kartu dengan pengalaman yang sedang dialaminya.
Dalam proses tersebut, seseorang mungkin justru menemukan sesuatu tentang dirinya yang sebelumnya tidak disadari. Ia mungkin menyadari bahwa dirinya sebenarnya takut kehilangan hubungan. Ia mungkin menyadari bahwa pekerjaannya membuatnya tidak bahagia. Ia mungkin menemukan bahwa selama ini ia membutuhkan perubahan tetapi terlalu takut untuk mengakuinya.
Dengan demikian, manfaat tarot bagi sebagian orang dapat muncul bukan karena kartu tersebut menyimpan informasi tersembunyi mengenai masa depan, tetapi karena proses interpretasinya mendorong refleksi. Tarot memberikan bahasa metaforis untuk berbicara tentang pengalaman. Dalam pengertian tersebut, tarot memiliki kemiripan dengan berbagai bentuk narasi manusia. Manusia sejak lama menggunakan mitos, cerita, simbol, agama, sastra, mimpi, dan ritual untuk memahami pengalaman yang sulit dijelaskan secara langsung. Tarot dapat ditempatkan dalam sejarah panjang tersebut sebagai salah satu sistem simbolik yang membantu manusia mengorganisasikan pengalaman.
Namun, persoalan muncul ketika refleksi berubah menjadi ketergantungan. Jika tarot digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan penting, simbol dapat berubah dari alat refleksi menjadi otoritas yang menggantikan pertimbangan individu. Pada titik tersebut, persoalannya bukan lagi apakah kartu “benar”, melainkan bagaimana hubungan antara keyakinan dan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan. Tarot menjadi lebih problematis ketika interpretasi simbolik diperlakukan sebagai fakta objektif yang tidak boleh dipertanyakan. Sebab, simbol adalah interpretasi. Ia bukan kepastian empiris.
Dari Meja Pembacaan ke Layar Ponsel
Transformasi tarot pada era digital membuat fenomena ini semakin menarik. Tarot tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai praktik spiritual individual. Ia telah menjadi bagian dari budaya digital. Platform media sosial mengubah cara tarot diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi. Pembacaan yang dahulu membutuhkan pertemuan antara pembaca dan klien kini dapat dilakukan melalui video pendek.
Seseorang bahkan tidak perlu datang kepada pembaca tarot. Ia cukup memilih salah satu tumpukan kartu dalam video pick a card, lalu mendengarkan pesan yang seolah-olah ditujukan secara personal kepadanya. Satu video dapat ditonton ribuan orang, tetapi setiap penonton dapat merasa bahwa pesan tersebut berbicara khusus kepadanya. Komunikasi yang sebenarnya bersifat massal dapat menghasilkan pengalaman yang terasa sangat personal.
Karakter media digital bertemu dengan karakter simbolik tarot. Algoritma kemudian memperkuat proses tersebut. Ketika seseorang menonton beberapa video tarot, platform dapat merekomendasikan konten serupa. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan konten tersebut, semakin besar kemungkinan ia terus menerima konten sejenis. Tarot akhirnya bukan hanya menjadi praktik kepercayaan. Ia menjadi bagian dari ekonomi perhatian. Pada titik ini, ketidakpastian manusia dapat berubah menjadi komoditas. Kecemasan mengenai cinta, pekerjaan, masa depan, relasi, uang, dan identitas dapat dikemas menjadi konten.
Pertanyaan yang sebelumnya bersifat pribadi berubah menjadi kategori konsumsi digital: tarot cinta, tarot karier, tarot jodoh, tarot energi, tarot masa depan, dan berbagai bentuk lainnya. Kapitalisme digital tidak hanya menjual barang dan jasa. Ia juga dapat mengubah kebutuhan manusia terhadap makna dan kepastian menjadi objek konsumsi. Ketidakpastian tidak lagi hanya sesuatu yang dialami individu. Ia dapat diproduksi menjadi konten yang mendatangkan perhatian.
Ketika Ketidakpastian Dijual
Dilihat dari perspektif sosiologi ekonomi, tarot memperlihatkan bagaimana sesuatu yang bersifat simbolik dapat masuk ke dalam mekanisme pasar. Pembacaan tarot dapat dijual sebagai jasa. Kartu tarot dijual sebagai produk. Buku, kursus, komunitas, konsultasi, aplikasi, dan konten digital dibangun di sekitar praktik tersebut.
Namun, yang sebenarnya diperdagangkan bukan sekadar kartu atau waktu pembaca. Yang diperdagangkan adalah pengalaman memperoleh makna di tengah ketidakpastian. Seseorang mungkin tidak membeli tarot karena membutuhkan selembar kartu. Ia membayar karena menginginkan jawaban, ketenangan, validasi, atau sekadar kesempatan untuk membicarakan persoalan hidupnya.
Nilai ekonomi tarot dengan demikian tidak semata-mata berada pada benda materialnya, tetapi pada pengalaman simbolik yang dihasilkan. Di sinilah pasar modern menunjukkan kemampuannya mengkomodifikasi kebutuhan yang sangat manusiawi. Ketika manusia membutuhkan kepastian, harapan, identitas, bahkan rasa didengar, kebutuhan tersebut dapat berubah menjadi peluang ekonomi.
Tetapi komodifikasi juga menghadirkan dilema. Semakin besar industri yang dibangun di atas ketidakpastian, semakin besar pula kemungkinan ketidakpastian dipelihara sebagai sumber permintaan. Jika seseorang terus diyakinkan bahwa selalu ada sesuatu yang belum diketahui tentang masa depannya, kebutuhan untuk mencari pembacaan berikutnya dapat terus diproduksi. Tarot akhirnya tidak lagi sekadar persoalan keyakinan individual. Ia menjadi bagian dari struktur ekonomi dan budaya yang lebih luas.
Mengapa Tarot Tidak Hilang?
Mengapa tarot tidak hilang di era modern? Jawabannya mungkin bukan karena manusia modern berhenti menjadi rasional. Manusia tidak pernah sepenuhnya hidup hanya melalui satu bentuk pengetahuan. Kehidupan sosial selalu terdiri atas berbagai cara untuk mengetahui, mempercayai, menafsirkan, dan memberi makna.
Seseorang dapat mempercayai dokter ketika sakit, menggunakan kalkulator ketika menghitung uang, membaca statistik ketika membuat keputusan profesional, tetapi menggunakan tarot ketika mencoba memahami perasaan pribadinya. Ini bukan berarti batas antara ilmu pengetahuan dan keyakinan menjadi tidak penting. Batas tersebut tetap penting ketika seseorang membuat klaim mengenai kenyataan empiris.
Tetapi kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar membagi segala sesuatu menjadi “ilmiah” dan “tidak ilmiah”. Tarot bertahan karena ia menjawab kebutuhan yang berbeda dari yang dijawab ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan probabilitas, pola, mekanisme, dan bukti. Tetapi ilmu pengetahuan tidak selalu memberikan jawaban atas pertanyaan eksistensial seperti: “Apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya?”, “Mengapa saya merasa kehilangan arah?”, atau “Bagaimana saya harus memahami pengalaman yang sedang saya alami?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan selalu pertanyaan ilmiah dalam arti sempit. Itu adalah pertanyaan mengenai makna.
Semakin kompleks kehidupan modern, kebutuhan terhadap makna tidak otomatis berkurang. Bahkan mungkin meningkat. Modernitas menghasilkan banyak informasi, tetapi informasi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan. Modernitas menghasilkan banyak pilihan, tetapi pilihan tidak selalu menghasilkan ketenangan. Modernitas meningkatkan kemampuan manusia mengendalikan banyak hal, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan betapa banyak hal yang tetap berada di luar kendali.
Manusia yang Tidak Pernah Bisa Melihat Masa Depan
Tarot bukan terutama cerita tentang kartu yang dapat membaca masa depan. Tarot adalah cerita tentang manusia yang tidak dapat membaca masa depan, tetapi selalu berusaha membuat masa depan dapat dipahami. Kita tahu bahwa masa depan belum terjadi. Namun, kehidupan sosial menuntut kita untuk bertindak seolah-olah masa depan harus dipersiapkan sejak sekarang. Ketidakpastian tersebut tidak pernah dapat dihapus sepenuhnya oleh rasionalitas.
Data dapat memperkecil ketidakpastian, tetapi tidak menghilangkannya. Teknologi dapat meningkatkan kemampuan prediksi, tetapi tidak memberikan kendali mutlak. Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan banyak hal, tetapi tidak menghapus seluruh kebutuhan manusia terhadap makna.
Tarot kemudian muncul sebagai salah satu cara manusia menegosiasikan ketidakpastian tersebut. Menawarkan simbol, cerita, interpretasi, dan kemungkinan. Dapat menjadi hiburan, refleksi, keyakinan, atau bahkan komoditas dalam ekonomi digital. Namun, kekuatan sosial tarot tidak harus terletak pada kemampuan supernaturalnya. Tarot cukup dipercaya untuk menjadi nyata dalam konsekuensi sosialnya.
Tarot tidak bertahan karena manusia modern berhenti menjadi rasional. Tarot bertahan karena rasionalitas tidak pernah mampu menghapus kebutuhan manusia akan makna. Di tengah dunia yang dipenuhi data, manusia tetap membutuhkan cerita. Di tengah dunia yang semakin dapat dihitung, manusia tetap berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat dipastikan. Di tengah masa depan yang tidak pernah benar-benar dapat dilihat, manusia akan selalu menemukan cara untuk menatapnya—melalui ilmu pengetahuan, statistik, prediksi, agama, seni, teknologi, atau bahkan sekumpulan kartu bergambar.
