Orang yang Kita Cari Setelah Semua Perjalanan

S1 Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS 2025
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nibras Safitri Agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada orang-orang yang tidak hanya menemani perjalanan kita, tetapi pelan-pelan menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri. Kita pergi ke banyak tempat bersamanya, tertawa di kota yang asing, tersesat di jalan yang salah, lalu pulang dengan cerita yang hanya kita berdua yang paham. Lama-lama, ketika memandangi foto lama, kita sulit memastikan apa yang sebenarnya dirindukan: tempatnya, atau orang yang berdiri di sampingnya saat foto itu diambil.

Pertanyaan itulah yang terasa mengendap sepanjang People We Meet on Vacation, film Netflix rilisan 2026 yang disutradarai Brett Haley. Film ini diadaptasi dari novel Emily Henry dan dibintangi Emily Bader sebagai Poppy Wright serta Tom Blyth sebagai Alex Nilsen. Genrenya rom-com dengan jalur friends to lovers. Poppy dan Alex bersahabat bertahun-tahun, dan sahabat itu selalu menyisihkan waktu untuk liburan bersama. Premisnya sederhana, tetapi dari kesederhanaan itu film ini pelan-pelan bertanya hal yang tidak sederhana: apa jadinya kalau orang yang paling kita percaya juga orang yang paling kita takut kehilangan?
Bukan Sekadar Cerita tentang Liburan
Judulnya menjanjikan liburan, dan film ini memang membawa penonton berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tetapi saya merasa lokasi-lokasi itu bukan pusat ceritanya. Perjalanan di sini lebih mirip ruang tertutup yang dipinjam Poppy dan Alex setiap tahun, tempat mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa tuntutan kehidupan sehari-hari.
Poppy digambarkan spontan, ekspresif, dan haus petualangan. Alex lebih tenang, terencana, dan nyaman dengan rutinitas. Kalau berhenti di situ, mereka hanya dua tipe karakter yang sering kita temui dalam rom-com. Yang membuat mereka menarik bagi saya adalah cara perbedaan itu bekerja ketika keduanya berada di tempat yang sama. Liburan memaksa mereka bertemu di tengah. Poppy, yang biasanya bergerak cepat, terpaksa berhadapan dengan seseorang yang memperhatikan detail. Alex, yang biasanya aman dalam rencananya, terpaksa berhadapan dengan seseorang yang bisa mengubah rencana itu dalam lima menit. Dari gesekan inilah kita melihat siapa mereka sebenarnya, dan itu hal yang tidak mudah ditampilkan hanya lewat dialog.
Ketika Persahabatan Mulai Terasa Berbeda
Bagian ini menurut saya jantung film. Poppy dan Alex sudah saling mengenal begitu lama sehingga tidak ada momen "pandangan pertama" yang instan. Tidak ada kejutan bahwa mereka cocok, karena mereka memang sudah cocok sejak lama. Persoalannya justru terletak di sana. Semakin dalam sebuah persahabatan, semakin besar taruhannya kalau salah satu pihak berani mengatakan sesuatu yang bisa mengubah segalanya.
Film ini, lewat struktur ceritanya yang berpindah antara masa lalu dan masa kini, membuat kita menyaksikan hubungan itu dari dua sisi. Kita melihat betapa nyamannya mereka dulu, lalu melihat jarak yang kini ada di antara mereka. Kontras itu membuat saya bertanya-tanya, mengapa orang yang paling dekat justru bisa menjadi orang yang paling sulit diajak bicara jujur? Mungkin karena kedekatan itu sendiri sudah terasa seperti sesuatu yang rapuh dan berharga, dan tidak ada yang mau menjadi orang yang mengguncangnya.
Dua Orang yang Berbeda, tetapi Saling Melengkapi
Dalam banyak cerita romansa, perbedaan sering dipakai sebagai bahan pertengkaran, lalu diselesaikan ketika salah satu pihak "belajar" menjadi lebih mirip pasangannya. Saya senang bahwa film ini tidak sepenuhnya mengambil jalan itu. Poppy tidak diposisikan sebagai pihak yang harus tenang, dan Alex tidak diposisikan sebagai pihak yang harus lebih santai.
Yang terasa lebih jujur adalah gambaran bahwa mereka saling memberi sesuatu yang tidak mereka miliki sendiri. Poppy membuat dunia Alex lebih luas dari yang ia rencanakan. Alex memberi Poppy rasa punya tempat untuk kembali, sesuatu yang mudah luput dari orang yang selalu bergerak. Saya kira film ini sedang berkata bahwa hubungan yang baik tidak selalu membutuhkan dua orang yang sama. Kadang ia membutuhkan dua orang yang mau memahami sisi yang tidak mereka punya, dan tidak menganggap sisi itu sebagai kekurangan.
Ketika Chemistry Menjadi Kekuatan Utama
Sebuah film seperti ini hidup atau mati karena chemistry pemeran utamanya, dan di sinilah People We Meet on Vacationpaling kuat. Emily Bader dan Tom Blyth berhasil terlihat seperti dua orang yang punya sejarah panjang. Mereka tidak sibuk "bermain" romantis. Mereka terasa nyaman satu sama lain, dengan candaan dan tatapan yang tidak perlu dijelaskan.
Kekuatan itu paling terasa dalam hal-hal kecil: cara keduanya saling menggoda, jeda sebelum menjawab, dan humor yang terasa seperti lelucon internal yang sudah lama mereka bagi berdua. Poppy lebih lepas dan terbuka, sementara Alex menunjukkan perasaannya lewat ekspresi yang lebih tertahan. Kontras itu membuat penonton belajar membaca Alex lewat detail, dan hal itu terasa memuaskan.
Soal transisi dari sahabat menuju sesuatu yang lebih, saya merasa filmnya cukup meyakinkan karena tidak terburu-buru. Perubahan itu tidak datang dari satu kejadian dramatis, melainkan dari akumulasi momen yang terasa wajar. Tentu ini penilaian subjektif saya. Penonton lain mungkin menginginkan letupan yang lebih jelas.
Masih Menarik untuk Ditonton?
Jawaban jujur saya: ya, dengan beberapa catatan. Kelebihannya cukup jelas. Chemistry kedua pemeran utama menjadi alasan terkuat untuk bertahan, karakter Poppy dan Alex mudah diikuti dan mudah dipedulikan, dan lokasi-lokasi perjalanannya memberi nuansa rom-com yang hangat. Hubungan mereka berkembang pelan, dan kesabaran itu terasa sebagai pilihan yang disengaja.
Meski begitu, film ini tidak sempurna. Alurnya cenderung lambat, dan bagi sebagian penonton hal itu bisa terasa seperti kurang bergerak. Struktur waktunya yang berpindah-pindah juga menuntut perhatian, dan di beberapa bagian saya merasa lompatan itu sedikit memecah momentum emosional. Beberapa konflik terasa familiar, terutama bagi penonton yang sudah akrab dengan genre romance. Trope friends to lovers sendiri juga bukan hal baru. Kalau seseorang mencari kejutan, film ini mungkin tidak memberikannya.
Namun saya tidak merasa kekurangan itu menggugurkan daya tarik filmnya. Film ini tidak mencoba menemukan formula baru. Ia mencoba menceritakan formula lama dengan cukup jujur, dan menurut saya itu cukup.
Penutup
Kembali ke gagasan di awal: kadang kita tidak benar-benar tahu apakah yang kita rindukan adalah tempat atau orangnya. People We Meet on Vacation seperti menawarkan jawaban yang halus. Tempat-tempat itu memang indah, tetapi mereka menjadi berarti karena ada seseorang yang mengisi ruang di sampingnya.
Pada akhirnya film ini tidak sedang bercerita tentang ke mana Poppy dan Alex pergi. Ia bercerita tentang siapa yang tetap kita cari setelah semua perjalanan selesai, dan tentang betapa sering jawabannya sudah lama berada sangat dekat dengan kita.
